Kita vs Korupsi : Omnibus Film Gerakan Anti Korupsi

Selamat pagi para siswa, beberapa hari yang lalu P Iyan telah memutarkan beberapa film aksi anti korupsi. Film Kita VS Korupsi merupakan film omnibus yang terdiri dari empat judul film pendek

Film Kita VS Korupsi merupakan produksi kerja sama antara KPK, USAID, Transparency International Indonesia, Management Systems International, dan Cangkir Kopi. Bertindak selaku produser eksekutif adalah tokoh-tokoh yang selama ini terlibat dalam upaya pemberantasan korupsi, yaitu Busyro Muqoddas, Juhani Grossman, dan Teten Masduki.

Kita Versus Korupsi dirilis pada 26 Januari 2012. Film ini dibintangi antara lain oleh Teuku Rifnu Wikana, Ranggani Puspandya, Nicholas Saputra, Revalina S Temat, Ringgo Agus Rahman, dan Tora Sudiro. Film ini dibuat untuk “penyuluhan” masalah korupsi di sekolah-sekolah.

Rumah Perkara

Sutradara: Emil Heradi

Rumah Perkara menceritakan Yatna (Teuku Rifku Wikana), lurah, setuju menjual tanahnya kepada Jaya (Icang S. Tisnamiharja), seorang kontraktor. Halangannya adalah Ella (Ranggani Puspandya), janda yang tidak rela tanahnya dibeli. Terjadilah usaha-usaha, baik dari Yatna maupun anak buah Jaya, untuk mengubah niatan Ella.

Aku Padamu

Sutradara: Lasja F. Susatyo

Aku Padamu menceritakan Vano (Nicholas Saputra) dan Laras (Revalina S Termat) ingin menikah di luar sepengetahuan keluarganya. Sayangnya, tanpa kartu keluarga niat mereka urung terwujud. Seorang calo menawarkan jalan pintas, yang menciptakan dilema tersendiri di pasangan muda-mudi ini.

Selamat Siang, Risa!

Sutradara: Ine Febriyanti

Selamat Siang, Risa! menceritakan Arwoko (Tora Sudiro) berusaha hidup dan kerja secara jujur, walau teman-teman sejawatnya banyak melakukan korupsi. Tantangan muncul dalam wujud segepok uang pelicin, tepat ketika keluarganya terlilit kesulitan ekonomi.

Psssttt… Jangan Bilang Siapa-Siapa

Sutradara: Chairun Nissa

Psssttt… Jangan Bilang Siapa-Siapa menceritakan Ola (Siska Selvi Dawsen) membeli buku pada Eci (Nasha Abigail) dengan harga yang cukup mahal. Gita (Alexandra Natasha) pun jadi penasaran, kenapa harga buku yang dijual Eci lebih mahal dari pada yang dijual di toko buku. Gita lalu iseng-iseng bertanya tentang asal muasal harga buku tersebut. Tak diduga hasil iseng-iseng tersebut malah membongkar adanya praktek korupsi beruntun yang dilakukan oleh banyak pihak.

Tambahan artikel yang P Iyan dapatkan dari kompas

Koruptor Boleh Nonton

Minggu, 29 Januari 2012 | 03:44 WIB

Film propaganda antikorupsi, Kita VS Korupsi, diluncurkan Komisi Pemberantasan Korupsi, Kamis (26/1) malam, di Jakarta. Budaya pop berupa film dianggap sebagai cara kreatif untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi pada masyarakat.

”Mungkin saya bodoh. Mungkin juga saya salah. Tapi, kebodohan dan kesalahan saya itu tidak akan saya sesali sampai mati….” Kata-kata itu keluar dari mulut Woko saat hendak menolak uang sogokan. Woko adalah pegawai rendahan dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Untuk menghidupi keluarga, ia harus menggadaikan radio transistor yang menjadi satu-satunya hiburan keluarganya.

Ketika seorang tauke menyuap Woko dengan setumpuk uang, istri Woko yang berada di balik kamar tengah menggendong erat bayinya yang sedang sakit. Ia perlu uang untuk menebus obat. Ia menyimak pembicaraan bos dan suami. Wajahnya cemas, bukan semata karena kondisi si buyung, melainkan menunggu keputusan Woko untuk menerima atau tidak uang sogokan tersebut. Woko memilih jujur pada hati nurani dan sang istri pun lega.

Di kemudian hari anak balita keluarga jujur itu tumbuh menjadi gadis dewasa yang bekerja di sebuah perusahaan. Ia menghadapi situasi serupa: disodori amplop. Dan dengan teguh ia berkata tidak.

Itu adegan cerita ”Selamat Siang Risa” yang merupakan bagian dari film Kita VS Korupsi. Tora Sudiro dengan meyakinkan memerankan Woko. Sosoknya yang sering terkesan selengean dalam beberapa film komedi itu, dalam film ini tampil serius sebagai lelaki teguh yang berpihak pada kejujuran.

Empat film pendek

Kita VS Korupsi terdiri atas empat film pendek yang masing-masing digarap sutradara dengan aktor berbeda: ”Rumah Perkara” arahan sutradara Emil Heradi, ”Aku Padamu” (Lasja F Susatyo), ”Selamat Siang Risa” (Ine Febriyanti), dan ”Psstt… Jangan Bilang Siapa-Siapa” (Chairun Nissa). Payung besar empat cerita tersebut adalah perilaku koruptif manusia yang menjadi sumber dari tindak korupsi.

Kisah berasal dari lanskap tempat dan waktu yang berbeda-beda. ”Selamat Siang Risa”, misalnya, berlanskap era tahun 1974 ketika peristiwa Malari meletus. Sedangkan ”Aku Padamu” dan ”Psstt… Jangan Bilang Siapa-Siapa” berlatar kehidupan kaum muda kota besar hari ini. Adapun ”Rumah Perkara” berlanskap masyarakat desa.

Film ini menekankan bahwa keteladanan merupakan faktor penting dalam penanaman nilai kejujuran. Risa mencontoh perilaku sang ayah yang bersih dan jujur. Tokoh gadis dalam cerita ”Aku Padamu” yang diperankan Revalina S Temat becermin pada sikap Pak Markun, guru jujur berbakti. Pak Markun (Ringgo Agus Rahman) berkukuh untuk tidak menyogok guna mendapatkan surat keputusan sebagai pegawai negeri sipil. Sampai meninggal, guru itu tidak diangkat sebagai PNS. Ia memilih jujur dan tetap mengabdi. Kepada murid-muridnya, Markun suka mendongeng. Salah satu nasihat ia sisipkan dalam dongeng, ”Ketika kamu menyerah kepada ketidakjujuran, matahari akan menangis…. Dan halilintar akan tertawa….”

Nasihat itu tersimpan di benak muridnya sepanjang masa. Ketika sang murid itu menjadi gadis dan hendak menikah di Kantor Urusan Agama, calon mempelai pria yang diperankan Nicholas Saputra hendak menyogok petugas KUA. Namun, gadis itu dengan tegas menolak cara tersebut. ”Kalau tahu kamu begini (menyuap petugas), aku mikir dua kali untuk bilang ya pada kamu….”

Kita VS Korupsi mengingatkan bahwa perilaku koruptif tumbuh di masyarakat. Ia telah menjadi tabiat sehari-hari yang dianggap ”biasa”. Dalam cerita ”Psstt… Jangan Bilang Siapa-Siapa”, dua siswa SMA dengan enteng dan riang ngobrol soal upaya mendapat duit dengan mudah tanpa rasa bersalah. Mereka hidup dalam lingkungan keluarga koruptif. Ibu salah seorang remaja itu biasa menipu suami dengan menggelembungkan biaya pendidikan anaknya. Sang anak dengan berbagai cara ngelaba kepada orangtua. Dan rupanya sang ayah juga tukang menggelapkan uang. Celakanya lagi, salah seorang guru mereka juga berperilaku koruptif, yaitu menjual buku secara paksa kepada murid. Gita (Alexandra Natasha), seorang remaja yang tumbuh dalam keluarga yang bersih dan jujur, malah menjadi seperti makhluk aneh di lingkungan remaja koruptif.

Cara kreatif

Film Kita VS Korupsi merupakan produksi kerja sama antara KPK, USAID, Transparency International Indonesia, Management Systems International, dan Cangkir Kopi. Bertindak selaku produser eksekutif adalah tokoh-tokoh yang selama ini terlibat dalam upaya pemberantasan korupsi, yaitu Busyro Muqoddas, Juhani Grossman, dan Teten Masduki.

Medium film dipilih untuk menyampaikan pesan antikorupsi karena sebagai budaya massa atau pop culture, film dianggap efektif untuk menjangkau khalayak.

Teuku Rifnu Wikana sebagai pemeran Pak Lurah dalam cerita ”Rumah Perkara” pada film Kita VS Korupsi berharap film ini bisa ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat. Di antara mereka mungkin juga termasuk koruptor. ”Mudah-mudahan ketika menonton, mereka (koruptor) bilang, ’Wah, ini gue banget ya…’!!”(XAR)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s