RSBI dan aksi semangat peningkatan mutu pendidikan

Selamat pagi para siswa.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, MK memutuskan untuk membubarkan RSBI karena dianggap inkonstitusional dan melanggar amanat UUD45.  Ada artikel menarik yang P Iyan dapatkan di forum RSBI sesaat setelah pengumuman pembubaran RSBI. Artikel ini sesuai dengan yang P Iyan rasakan.

“Sejatinya dihentikannya program RSBI tidak membuat sekolah menurunkan mutu pendidikannya apalagi dengan alasan kendala biaya”. Tidak berarti jika program ini sudah tidak ada lagi maka sekolah tidak melaksanakan peningkatan mutu pendidikan lagi. Yang menjadi pekerjaan sekolah adalah memformulasi ulang program peningkatan mutu pendidikan tanpa anggaran dari RSBI lagi.  

Karena P Iyan pikir artikel ini amat menarik, oleh karena itu artikel ini akan P Iyan bagikan kepada kalian semua.

RSBI adalah produk kebijakan politik. Sebagai kebijakan sekarang dinyatakan inskonstitusional karena menimbulkan dampak yang tidak memenuhi harapan publik. PenyelenggaraanRSBI menyebabkan pendidikan berbiaya mahal sehingga menjadi diskrimintif dan menimbulkan pengkastaan. Penggunanaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar mengikis nilai kebanggaan bangsa. Selanjutnya penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar terlarang. Karena dua alasan itu maka MK menghentikan program.

Sejak tahun 2007 implementasi kebijakan RSBI telah menjadi aksi untuk meningkatkan mutu pendidikan pada sekolah terpilih. Pada umumnya sekolah penyelenggara memiliki keunggulan tertentu di masing-masing daerahnya. Setelah terpilah menjadi RSBI sebagian besar sekolah berjuang untuk memenuhi target mutu. Sebagiannya telah dapat mewujudkan target mutu yang diharapkan. Sekali pun memang berbiaya mahal tetapi kita melihat bahwa sebagian sekolah telah mengembangkan sistem pembelajaran dengan sumber belajar yang sangat variatif melalui penggunaan TIK. Ditunjang dengan peningkatan intensitas pengganaan bahasa Inggris, sekolah telah mengembangkan kerja sama dalam ruang lingkup global. Ruang baru ini telah menjadi wahana dan menyediakan suasana yang kondusif bagi tumbuhnya kolaborasi siswa dalam jejaring internasional. Menurut pengakuan banyak kepala sekolah, jika tanpa RSBI perluasan wawasan keinternasionalan tidak akan tumbuh secepat sekarang.

Secara umum RSBI juga telah membangkitkan kesadaran untuk mengembangkan benchmarking tidak hanya dalam ruang lingkup nasional, namun telah luas ke ruang lingkup global. Karena itu, sekolah penyelenggara telah membangun budaya baru dalam sistem tata kelola sekolah maupun dalam budaya mutu pembelajaran. Menjadi sekolah unggul di antara sekolah sejenis pada cakupan global. Dari sini tumbuh banyak para kompetitor di bidang akademik dan non akademik di tingkat internasional. Kita akui berbagai raihan prestasi telah meningkatkan kesadaran akan harga diri bangsa.

Upaya peningkatan mutu pembelajaran pada sebagaian sekolah telah meningkat drastis. Hal ini disebabkan input pendidik yang makin membaik. Di antaranya perbaikan sarana dan suasana sekolah yang makin kondusif menunjang proses pembelajaran dan pembinaan prestasi siswa yang makin efektif. Proses pembelajaran dengan perluasan akses internet, adopsi dan adaptasi best practice telah mendorong terjadi banyak perubahan walaupun belum mampu mengembangkan budaya mutu secara masif. Keterampilan abad 21 seperti kecakapan berpikir kritis, ilmiah, inovatif, dan kreatif belum tumbuh secara komprehensif karena daya dukung kompetensi guru belum tumbuh menyeluruh.

Sebagai kebijakan, RSBI dapat jadi mengandung banyak kelemahan. Tak ada kebijakan yang utuh hanya mengakibatkan dampak positif. Namun kini karena kelemahannya harus dihentikan. Kerena itu kita sebagai orang yang beriman patut bersyukur kepada Allah pernah menikmati indahnya berjuang di wadah RSBI. Sebagai program dan produk kebijakan boleh berubah. Namun berjuang untuk meningkatkan mutu pendidikan tidak boleh terhenti. Kita nantikan program lain yang lebih ramah yang tidak diskriminatif dan tidak mahal.

Tidak mahal? Tidak mungkin karena mutu yang baik itu memerlukan biaya tinggi. Namun yang penting, siapa yang harus menanggung biayanya jika usaha meningkatkan mutu tidak boleh berhenti. Apalagi jika peningkatan mutu itu merupakan bagian dari strategi yang memberikan penjaminan anak-anak kita berpeluang tinggi masuk sorga. Berapa pun harganya tentu harus kita bayar. Masuk soorga….luar biasa.

salam pendidikan,
rahmat : http://www.gurupembaharu. Com

rahmat_bgr@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s