Dorong Siswa Menjadi Peneliti dan Penemu

sumber : http://m.kompas.com/news/read/2011/05/12/20120468/dorong-siswa-menjadi-peneliti-dan-penemu

  • Penulis: Alb. Hendriyo Widi Ismanto
  • Editor: Pepih Nugraha

KUDUS, KOMPAS.com — Dinas Pendidikan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mendorong setiap sekolah lanjutan tingkat atas, yakni SMA, MA, dan SMK, memiliki Inovasi Center. Tujuannya adalah mendorong siswa menjadi peneliti dan penemu yang berkreasi menciptakan inovasi baru dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kudus Sudjatmiko, Kamis (12/5/2011), mengatakan, Inovasi Center tidak identik dengan bangunan dan perangkat penelitian yang membutuhkan biaya besar. Inovasi Center menunjuk pada upaya sekolah mengangkat persoalan-persoalan masyarakat di sekitar sekolah, kemudian mencarikan solusinya secara ilmiah dengan penerapan teknologi tepat guna.

Misalnya, sekolah yang berada di daerah pertanian bisa mengembangkan terobosan-terobosan baru terkait obat pemberantas hama yang ramah lingkungan. Bisa pula mereka membuat teknologi yang memudahkan dan meringankan kerja petani.

“Didik siswa peka dengan persoalan masyarakat dan mampu mengaplikasikan ilmunya untuk masyarakat. Jangan melulu diberi teori dan duduk di kelas saja,” kata Sudjatmiko.

Sudjatmiko menambahkan, sejumlah sekolah di Kudus telah menerapkan konsep Inovasi Center meski belum memiliki Inovasi Center secara resmi. Misalnya, SMK Wisudha Kudus yang mengaplikasikan sistem kontrol rumah pintar dan minuman air dalam kemasan.

SMA Negeri 2 Kudus mengembangkan energi-energi alternatif baru dari kulit durian dan ampas tahu. Bahkan, Pondok Pesantren Assidiqiyah mengajari para santri atau siswanya membuat robot yang mempermudah kerja manusia.

“Kami berharap sekolah-sekolah lain berlomba-lomba menghadirkan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Sudjatmiko.

Kepala SMK Wisudha Kudus Sudirman mengemukakan, sekolah memang memfasilitasi siswa untuk berkreasi dan berinovasi. Misalnya, untuk membuat sistem kontrol otomatisasi minuman air dalam kemasan dan rumah pintar, sekolah mengeluarkan biaya total Rp 40 juta.

“Hanya saja, kami selalu terbatas dan terbentur biaya untuk setiap kali berinovasi, apalagi memproduksinya sesuai dengan permintaan peminat,” katanya.

Menanggapi hal itu, Sudjatmiko mengemukakan, tugas sekolah adalah melahirkan inovasi baru sembari meningkatkan keterampilan siswa. Soal produksi temuan baru, sekolah bisa menjalin kerja sama dengan pihak ketiga atau pemilik modal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s