Belajar dari Siasat Deng dan Soekarno

sumber : http://m.kompas.com/cetak/cread/2011/05/03/04235325/belajar-dari-siasat-deng-dan-soekarno

Oleh : DWICIPTA

Ini kisah inspiratif dari Deng Xiao Ping. Ketika Mao Zedong meninggal tahun 1976 dan gerakan Revolusi Kebudayaan dihentikan, Deng berkuasa di RRC. Pada masa kekuasaan Mao, embargo perdagangan Amerika Serikat memaksa China menjalankan politik isolasi yang memiskinkan negeri itu. Sekolah dan universitas ditutup, kaum intelektual dikirim ke pabrik-pabrik dan komune-komune. Para pelajar dijadikan garda depan gerakan ini menjadi Tentara Merah.

Pada awal kekuasaannya terjadi kelangkaan ilmuwan, insinyur, dan kaum profesional muda yang bisa memodernisasi China. Deng menyaksikan brain drain atau ”paceklik kecerdasan” itu di negerinya. Ia memutuskan mengirim mahasiswa dan ilmuwan ke luar negeri untuk belajar dan riset.

Akibat revolusi kebudayaan, mereka hanya dapat mengirim ilmuwan ”tua”. Yang termuda 32 tahun, tertua 49 tahun.

Tanpa pandang biaya, puluhan ribu pelajar China dikirim ke luar negeri. Terkait kritik ”paceklik kecerdasan” di dalam negeri, ia berkeras bahkan bila 100 atau 1.000 orang tak kembali China masih bisa mendapat tenaga 900 atau 9.000 orang yang pulang (Jiang, 2003). Zhao Zhiyang, Sekjen Partai Komunis China, membela kebijakan itu dengan menyatakan apa yang disebut ”paceklik kecerdasan” di dalam negeri adalah nama lain dari ”menyimpan kekuatan otak yang cerdas itu di luar negeri”.

Kisah Deng Xiaoping sekarang tenggelam di antara berita pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, kemakmuran penduduk, dan meluasnya pengaruh China di dunia internasional. Dari kenekatan Deng itulah China mengubah nasib dari bangsa terbelakang menjadi kekuatan ekonomi-politik utama dunia pada abad ke-21.

Cara Soekarno

Jauh sebelum kenekatan Deng Xiaoping, Soekarno melakukannya. Biaya besar dikeluarkan untuk mengirim SDM potensial ke luar negeri. Naiknya gengsi Indonesia di dunia internasional akibat positioning cerdas Soekarno dalam peta Perang Dingin memudahkan para pelajar dan ilmuwan Indonesia menuntut ilmu di luar negeri. Para pelajar dan peneliti Indonesia sangat dihargai bahkan di universitas-universitas Eropa Barat dan Amerika yang berkualifikasi tinggi dalam seleksinya.

Untuk menindaklanjuti kebijakannya, Soekarno membuat proyek-proyek industri strategis-fundamental, seperti pembangunan waduk Asahan, reaktor nuklir, dan pabrik baja. Pembangunan itu oleh pihak Barat yang membencinya disebut Proyek Mercusuar. Sebelum impian Indonesia modern terwujud, Soekarno disingkirkan.

Generasi pasca-Orde Lama menerima narasi sejarah Proyek Mercusuar sekadar Tugu Monas, lapangan sepak bola Gelora, Masjid Istiqlal, atau penyelenggaraan GANEFO. Usaha sistematis itu beriringan dengan berkuasanya Orde Baru yang mende-Soekarno-isasi dan stigmatisasi Orde Lama. Warisan pembangunan SDM yang berjalan dua puluh tahun diberangus. Orang-orang terdidik yang dicap terlibat atau bersimpati terhadap PKI ditelantarkan. Ribuan hingga puluhan ribu kaum terdidik itu, baik di dalam maupun luar negeri, dipenjara, hidup menderita, dan kehilangan pekerjaan.

Paceklik kecerdasan

Pada pidatonya di hadapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Yogyakarta beberapa bulan lalu, B.J Habibie mengeluhkan ketidakjelasan nasib sekitar 40.000 insinyur Indonesia yang disekolahkan pemerintah di luar negeri. Pemerintah Orde Baru tak punya cetak biru jelas menindaklanjuti SDM berkualitas yang disekolahkan. Akibatnya, kaum terdidik itu dipanen negara lain yang memberi peluang pekerjaan dan kenyamanan hidup.

Tengoklah China dalam menindaklanjuti kebijakan menyekolahkan banyak warganya ke luar negeri. Tahun 1978 hingga akhir 2007 terdapat 1,21 juta warga China di luar negeri untuk belajar maupun penelitian. Hingga menjelang kerusuhan Tiananmen, Pemerintah China menempatkan hai gui (para ilmuwan dan pelajar di luar negeri) dalam pos-pos yang ditentukan Departemen Pendidikan bekerja sama dengan Departemen Pendayagunaan Aparatur Negara.

Pertengahan tahun 1990-an, Pemerintah China berikhtiar serius menarik para hai gui di luar negeri, khususnya ilmuwan dan kaum profesional berkualitas. Salah satunya dengan mengoptimalkan Akademi Ilmu Pengetahuan China lewat Program Seratus Talenta. Selain itu, terdapat program Ilmuwan Cheung Kong di Kementerian Pendidikan, Pendanaan Sains Nasional bagi Program Ilmuwan Muda yang melahirkan terobosan di Yayasan Ilmu Pengetahuan Alam China, serta program seratus, seribu, dan sepuluh ribu talenta China di Kementerian SDM dan Keamanan Sosial.

Tahun 2001 sebuah dokumen kebijakan utama yang menggabungkan usaha-usaha dari berbagai kementerian menyeru agar warga China di seberang lautan melayani bangsanya. Di bawah kebijakan ini, warga China di luar negeri didorong terlibat, seperti mendayagunakan badan profesional dimana mereka bernaung secara bersamaan memegang posisi di China dan di luar negeri, serta menjadi penghubung riset kerja sama di China dan negara tempat mereka tinggal.

Pelajaran dari China itu menjadi salah satu pedoman bagaimana China bisa berdiri tegak seperti amanat Ketua Mao. Indonesia tak beda jauh dari China soal pengiriman talenta-talenta terbaiknya ke luar negeri demi akses dan transfer ilmu pengetahuan. Tinggal bagaimana negara mengorganisasi sumber daya itu.

DWICIPTA Cerpenis dan Penulis Esai Menetap di Yogyakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s