Tamu Istimewa di Tengah Hutan

Tiada kata yang bisa p iyan ucapkan kepada mereka pada saat membaca artikel ini kecuali “tetap berjuang anak muda, Tuhan bersama kalian”
Editor: Heru Margianto

KOMPAS/BUDI SUWARNA Firman Budi Kurniawan (berdiri) sedang mengajar pelajaran menggambar dan Bahasa Inggris di sebuah bukit di tengah hutan di Dusun Beroangin, Malunda, Majene, Sulawesi Barat, Selasa (18/1/2011) sore. Peserta program Indonesia Mengajar seperti Firman harus kreatif di tengah minimnya fasilitas pendidikan di lokasi penugasan.

KOMPAS.com — Firman Budi Kurniawan, pengajar muda dari Gerakan Indonesia Mengajar, adalah tamu istimewa. ”Dia orang asing pertama yang mau tinggal lama di dusun ini,” ujar Saparuddin (38), Kepala Dusun Beroangin, Battutala, Malunda, Majene.

Dusun ini terletak di tengah hutan, diapit bukit-bukit. Dulu, kata Saparuddin, tidak ada orang yang berani datang ke sini. ”Ini dianggap daerah keramat dan banyak hantunya,” katanya.

Dia bercerita, penduduk Beroangin sebelumnya tinggal di Ulumanda, desa yang katanya paling ujung di Majene. ”Untuk menjual dua pikul biji cokelat saja, kami harus jalan kaki 1 hari 1 malam menembus hutan menuju Pasar Malunda,” ujarnya.

Tahun 1989, mereka bedol desa ke Beroangin. Di hutan yang dianggap keramat itu, mereka membuka ladang, menanam sayur, kakao, dan kemiri. ”Kami sempat kelaparan sebelum masa panen tiba,” ujar Badarawi (50).

Kini, Beroangin mulai ramai. Ada 66 keluarga tinggal di sini. Mereka hidup dari kebun kakao, kemiri, dan langsat (semacam duku) yang tumbuh subur. Namun, persoalan yang mereka hadapi masih sama: tidak ada akses listrik dan jalan mulus ke kota kecamatan. Yang ada hanya jalan setapak berbatu dan membelah rimba. Hampir mustahil melalui jalan setapak itu dengan mobil.

Firman tahu hidup yang akan dijalaninya di tempat baru ini bukan hidup yang mudah. Ia tidak sendiri. Ada 50 pemuda lain yang memilih dengan sadar untuk meninggalkan kemapanan dan banting stir menjadi guru di tempat terpencil.

Menjadi guru sekolah dasar di daerah terpencil atau menjadi Pengajar Muda merupakan program dari ”Indonesia Mengajar” yang digagas Anies Baswedan yang juga Rektor Universitas Paramadina, Jakarta. Ide dasarnya, masih banyak sekolah dasar di daerah terpencil yang dibimbing guru-guru yang kualitasnya tidak sesuai dengan standar.

Tidak hanya berkutat soal pelajaran, para pengajar muda juga bergelut dengan kesulitan hidup masyarakat. Selasa (18/1/2011) malam, Arman, warga Beroangin yang baru pulang merantau dari Balikpapan, terserang malaria. Tubuhnya tergolek lemah tak berdaya. Warga berencana akan memikulnya—seperti memikul biji cokelat—ke puskesmas di kota kecamatan. Itulah satu-satunya cara yang bisa dilakukan warga untuk membawa orang yang sakit ke kota.

Pukul 03.00, teriakan keras menggema di dusun itu, ”Arman mate… Arman mate (meninggal).” Ya, nyawanya melayang tanpa sempat tersentuh tangan dokter.

Firman, si tamu asing pertama di dusun itu, menjadi saksi setumpuk kesulitan hidup di daerah terpencil. ”Saya tidak mungkin lupa,” katanya.

Penggagas Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, mengatakan, selain mengisi kekosongan guru, program ini juga dimaksudkan untuk memberikan pengalaman hidup kepada sarjana peserta. ”Mereka tidak akan lupa dengan kehidupan di desa meski mereka telah menjadi CEO atau menteri sebab mereka punya akar di sana,” ujarnya. (BSW)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s