Antara Linux, Agama, dan Kemerdekaan

Mahasiswa yang sudah akrab dengan teknologi tentu tahu atau minimalnya pernah mendengar kata ‘Linux’. Sebagai brief introduction saja, Linux adalah nama sistem operasi komputer bertipe Unix. Linux merupakan salah satu contoh hasil pengembangan perangkat lunak bebas dan sumber terbuka utama.

Seperti perangkat lunak bebas dan sumber terbuka lainnya pada umumnya, kode sumber Linux dapat dimodifikasi, digunakan dan didistribusikan kembali secara bebas oleh siapapun.
Linux dibuat untuk mengusung kemerdekaan dalam teknologi informasi, bebas membuat, memodifikasi, memakai, bahkan menjual dan membagi aplikasi-aplikasi serta sistem operasi itu sendiri. Namun, kali ini kita tak membahas tentang “daleman” Linux, hanya sejarah dan nilai yang bisa kita ambil dari OS yang menggila saat ini terutama di teknologi mobile seperti Android.

Kita sudah tahu bahwa orang-orang barat banyak yang tak beragama alias atheis. Maka dalam pelajaran bahasa Inggris, kita diajarkan untuk tidak bertanya tentang agama yang dianut seseorang, karena itu termasuk impolite question, privasi katanya. Seorang tokoh nasional, Said Aqil berpendapat bahwa umat muslim Indonesia itu islam dalam hal agama, tapi non-islam dalam hal teknologi dan kesejahteraan sosial. Memang benar bahwa mayoritas orang barat itu mapan secara ekonomi juga superb dalam hal teknologi dan informasi, tapi karena itu juga mereka merasa “bosan” dengan hidup serba cukup, apa-apa sudah ada, tinggal pesan dan gesek kartu kredit atau bahkan tak perlu karena sudah banyak internet dan mobile banking.

Fitrah manusia yakni sebagai makhluk sosial dan kebutuhan take-give antar sesama bergejolak dalam diri mereka, timbul pertanyaan untuk apa sebenarnya hidup ini. Namun karena mereka tak beragama sehingga tak mengerti “amalan-amalan” apa saja yang termasuk dalam kategori “amal shaleh”, mereka menciptakan “agama” sendiri dalam pikiran mereka, mencari cara bagaimana menyenangkan orang lain. Sampai saatnya mereka – kalangan IT- melahirkan Linux, ya, menggratiskan software-software tingkat tinggi dengan jutaan baris source code, cuma-cuma ! Memerdekakan dari komersialisasi berlebihan.

Ada 2 tokoh yang sangat terkenal di dunia Linux, yakni Linus Trovalds (pembuat kernel/inti Linux) dan Richard Stalman (dedengkot proyek GNU/Linux). Kabarnya Trovalds tak ikut merayakan natal, dan Stalman sendiri berpenampilan seperti syekh mungkin karena pengembaraan spiritual keliling dunia. Ya, itulah figur 2 pentolan Linux, yang ternyata sangat haus akan dahaga spiritual dalam dirinya. Masyarakat barat pada umumnya juga sedang demam yoga, tai chi, dan apa-apa dari dunia timur yang berbau spiritual. Fenomena apakah ini ?

Nah, mari ambil kaca ajaib, lihat diri kita bangsa Indonesia di umur kemerdekaan yang makin tua. Kita umat beragama namun hanya tahu ibadah cuma seputar shalat, puasa, zakat, naik haji, itu tok. Membuat pesawat terbang, bendungan, jalan aspal, membuat software yang bermanfaat, dipikirnya bukan ibadah. Padahal dengan pesawat, orang lain bisa pergi haji, dengan bendungan dan tanggul, kita menyelamatkan masyarakat dari air bah dan menjaga pasokan air di suatu daerah. Inilah kita yang jika menyingkirkan batu/beling dari jalan diniatkan untuk mendapat pahala, bukan diniati untuk menyelamatkan orang lain dari gangguan. Kita sudah merdeka secara agama karena Islam sudah sempurna, tinggal kita ikuti, tapi masih saja kita non muslim dalam sisi-sisi yang lain. Kita sering menghina-hina orang atheis karena mereka tak percaya adanya kekuatan Tuhan. Tapi kita, yang sudah belajar mengenal Tuhan, tapi tak takut Tuhan. Dan apa karya kita di milad RI kali ini, membuat prestasi apa ? Memperbaiki sound system mushola desa kitakah ? Yang seharusnya masuk museum itu ? Memperbaiki saluran irigasikah ? Mengatur pengolahan sampahkah ? Atau bahakan jujur dalam berjualan es cam cau dan tabung gas 3 kg ? Ah apalagi menggratiskan software Linux..

Mungkin Stalman perlu main ke pesantren di Indonesia agar dapat taufik dan hidayah. Di sisi lain kita perlu naik pesawat untuk tahu bagaimana luar biasanya manfaat dan kehebatan teknologi itu..

Mari beragama dengan baik juga merdekakan diri, dari penjajah-penjajah yang nyata dan tak nyata.. Sungguh indah Allah menciptakan “rasa sayang” pada diri tiap manusia dengan kadar yang tentu berbeda-beda, termasuk dalam diri seorang atheis. Allah Ar-Rahman memang, semoga kita mendapat Ar-Rahimnya pula.

Muh. Anis Al Hilmi [contributor of Komunitas Linux Cirebon and Media Informasi Islam]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s