Linux, bagiku, bagi kotaku

diambil dari note anis-cung-hilmee. Di edit seperlunya tanpa merubah isi dan tujuan

http://www.facebook.com/notes/anis-cung-hilmee/linux-bagiku-bagi-kotaku/379088012311

Saat masih SMA saya mulai tertarik dengan Linux. Saat itu, saya melihat pengumuman lomba cipta Logo IGOS di majalah Info Linux tahun 2008. Saya yang tadinya hanya tertarik dengan hadiahnya juga penasaran dengan gerakan pemerintah yang mendukung open source tersebut, saya pikir keren juga ada distro buatan Indonesia. Tapi, yang menjadi tantangan saya adalah ketentuan lomba yang mengharuskan logo dibuat dengan aplikasi open source. Saat itu, saya belum mengetahui aplikasi grafis yang cocok untuk membuat logo. Sejak itu, saya mulai membeli buku untuk lebih mengenal Linux, saat itu saya membeli buku terbitan Dian Rakyat, Panduan IGOS Nusantara. Dengan modal buku tersebut bercampur nekat, saya menginstal IGN 2006 tanpa membackup data sebelumnya, itulah “dosa” pertama saya, tapi itu tak terlalu berarti sebab data saya saat itu masih sedikit. Walau menyesal kehilangan data, saya terus belajar distro buatan anak bangsa tersebut, melihat desktopnya saja saya merasa bangga melihat rumbai-rumbai bendera merah putih. Dan saat itu, aplikasi grafis yang tersedia pasca instalasi adalah Open Office Draw yang tampilannya mirip CorelDraw. Karena masih awal, saya belum mengenal Inkscape atau The GIMP yang sebenarnya memiliki kinerja lebih baik.

Imajinasi saya sebenarnya hebat dalam berusaha membuat logo tersebut, namun karena penguasaan aplikasi yang minim dan ketidakadaan pembimbing, jadilah logo kreatif tapi apa adanya. Pada saat pengumuman pemenang, karya saya ternyata memang kalah bagus dan visioner dari peserta lain. Dewan juri ternyata lebih melirik logo yang berwawasan lingkungan, namun saya tetap senang karena telah banyak mendapat ilmu baru. Itulah awal persentuhan saya dengan Linux secara langsung.

Dulu, perkembangan ilmu Linux saya bagai jalannya kura-kura, sebab lingkungan sekitar belum mendukung untuk belajar Linux, belum ada teman/pengguna lain yang dapat mengajari saya, ingin belajar dari internet juga tak bisa karena akses saat itu masih terbatas. Waktu vakum itu berlangsung sampai menjelang saya kuliah. Cerita lain, sebelum berangkat ke Yogyakarta tempat kuliah saya sekarang, saya modding PC saya agar ukurannya lebih kecil dan mudah dibawa. Setelah 3 hari mengutak-atik akhirnya jadilah “Kopter”, Koper Komputer. PC case yang dulu, saya ganti dengan koper bekas milik kakek saya, Alhamdulillah kopter jadi tanpa masalah, dengan modal koper, mur-baut, lempengan aluminium, ditambah kreatifitas dan cinta, bentuknya kini jadi unik dan antik. “Baju baru” PC saya juga membuat semangat belajar komputer meningkat.

Masa belajar di Ponpes Krapyak dan kuliah di ELINS (Elektronika dan Instrumentasi) UGM adalah pencerahan berbagai ilmu bagi saya, termasuk mengenai Linux. Banyak kenalan yang saya dapat, termasuk saat berkunjung ke salah satu kos teman, di sana saya melihat komputer milik senior ELINS yang menggunakan Ubuntu 8.04 tapi tampilannya secantik Mac OS X, itu semua merontokkan anggapan kalau tampilan Linux jelek, saat itu juga saya minta diajari tentang Ubuntu dan langsung meminjam cd installer sekaligus repositorinya untuk saya install di PC, saya begitu tertarik. Saya pikir, Ubuntu dan kopter saya akan jadi pasangan serasi karena sama-sama unik dan tidak banyak orang memakai. Saya mulai belajar banyak hal, dan agar lebih serius, sengaja saya hanya memakai satu OS, yakni Ubuntu agar saya tidak “lari” kemana-mana dari menggunakan Ubuntu. Waktu belajar saya semakin efektif karena saat itu kegiatan kuliah belum aktif. Cara itu berhasil, lama-kelamaan juga jadi terbiasa.

Pasca instalasi, timbul beberapa masalah yang berhubungan dengan kompatibilitas komputer, misalnya resolusi layar yang kecil, visual effect yang tidak berfungsi, dan masalah instalasi printer, walau begitu, saya rasakan Linux tidak rakus space sehingga kapasitas hard disk saya yang kecil tidak begitu menjadi masalah, seiring berjalannya waktu, masalah-masalah tersebut dapat diselesaikan, tentu dengan tanya sana-sini dan cari info dari orang-orang baik di internet. Justru dengan adanya masalah-masalah, keterampilan mengenai Linux saya jadi bertambah. Mata saya kini juga sudah dimanjakan dengan tampilan Mac4lin (agar Linux memiliki tampilan seperti Mac OS) mulai dari GRUB, jendela login, tampilan tema, ikon, dan desktopnya yang menawan.

Dari pengalaman menggunakan Ubuntu, kelebihan-kelebihan Linux baru saya rasakan benar-benar saat sudah migrasi penuh, kini saya tidak perlu repot memikirkan update antivirus, saya juga merasakan kehebatan file browser yang canggih, keamanan yang terjamin, kemudahan membuat file PDF, tersedianya berbagai aplikasi-aplikasi menarik, dan kelebihan lain yang baru akan anda rasakan dengan mencoba langsung. Menggunakan Ubuntu semakin nyaman dengan adanya dukungan UGM kepada Linux, saya bisa mengunduh dvd repository dengan cepat, mengunduh aplikasi tertentu saja di repo.ugm.ac.id lalu hasilnya bisa saya install secara offline. Alhamdulillah sekarang, saya sudah sepenuhnya menggunakan OS Ubuntu sebagai OS utama, tidak lagi menggunakan software bajakan/ilegal.

Tidak berhenti hanya sebatas untuk kebutuhan pribadi, sayapun mengajak teman-teman lain agar memakai Linux dan distribusi (distro) yang saya rekomendasikan bagi pemula adalah Ubuntu. Mulai dari teman-teman asal Cirebon, teman kuliah, juga teman-teman di pesantren. Semua menyambut baik, apalagi saat melihat jendela login komputer saya, ketertarikan mereka bisa saya baca dari perkataan mereka, “Wah keren Nis!” Sayapun semakin semangat mengampanyekan Linux, toh menyerdaskan bangsa dan mendukung gerakan anti pembajakan.

Kampanye saya tidak hanya secara door-to-door saja, sayapun memanfaatkan jejaring sosial yang sedang booming sekarang ini, Facebook. Selain memiliki akun pribadi, saya membuat Grup bernama KINCIR (Komunitas Linux Cirebon), karena saya rasa, belum banyak masyarakat dan pelajar Cirebon yang menggunakan Linux. Fasilitas ini amat memudahkan saya mengajak orang lain mengenal Linux. Tak disangka oleh saya sendiripun, undangan bergabung grup ini diterima ratusan orang dan saat tulisan ini dibuat paling tidak sudah 250 orang bergabung, tentu saya senang sekali. Sayapun mengajak teman-teman semasa SMA yang kuliah di ITB, UI, Universitas Gunadarma menjadi admin untuk lebih memperluas ilmu dan pengalaman memakai Linux.

Tentu dalam mengelola grup KINCIR tidak hanya ada hal manis, tapi kurang enak juga ada. Pada awalnya, memang banyak yang bergabung dengan grup ini, namun forum diskusi yang ada rasanya sepi dari komentar, pertanyaan, atau pengalaman anggota-anggota KINCIR sendiri. Oleh karena itulah, saya bersama teman-teman lain berencana membuat acara sosialisasi Linux di Cirebon, agar anggota maupun bukan anggota KINCIR dapat merasakan sendiri mencoba Linux, dan harapannya setelah itu bisa meramaikan forum diskusi KINCIR, kebetulan juga saat itu saya sedang libur semester genap jadi bisa menyiapkan acara dengan baik. Kami mengerahkan teman-teman yang ada di SMA Negeri 1 Cirebon juga untuk turut membantu. Ya, sebagai acara pertama kami juga belum mengetahui “medan”, masalah klasik keuangan juga sempat menghantui, namun dengan bantuan teman-teman semua hal itu dapat diselesaikan, apalagi ada teman yang memiliki usaha percetakan, jadi amat membantu membuat selebaran acara. Tidak ada maksud komersial dari kami dalam acara tersebut, hanya niat tulus agar masyarakat Cirebon lebih cerdas dan melek open source.

Acara sosialisasi Linux tersebut diadakan pada hari Minggu, 2 Agustus 2009 di beranda Islamic Centre Masjid At Taqwa Kota Cirebon, hari itu adalah hari bersejarah bagi KINCIR. Peserta hadir dari berbagai kalangan, ada guru, pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, hingga praktisi IT terkemuka di Cirebon. Banyak juga yang hadir dari komunitas lain yang belum terekspos, mereka malah mengajak bergabung dengan kami, tentu kami menyambut baik ajakan itu. Rupanya kami beruntung, di siang harinya ada wartawan koran lokal yang meliput kegiatan kami, katanya beliau tahu acara Cirebon, Let Try Linux ! dari spanduk sederhana yang kami pasang. Kesempatan ini tidak dilewatkan kami untuk mengenalkan KINCIR sebagai wadah pecinta Linux di Cirebon, kami juga menjawab apa yang ditanyakan wartawan tersebut. Alhamdulillah acara tersebut lancar tepat waktu sampai pukul 15.00 WIB.

Esok harinya, panitia dan anggota KINCIR geger karena acara kami masuk koran lokal Radar Cirebon. Senang sekali karena niat tulus kami ternyata malah dibantu disosialisasikan lagi oleh media cetak. Kontan setelah dimuat di koran, walau kolomnya tidak begitu besar, banyak orang yang pada acara tidak hadir, menelpon dan mengutarakan ketertarikannya untuk belajar Linux, sayang pada hari-H acara, mereka tidak bisa hadir karena ada keperluan.

Kesan manis dari belajar Linux dapat dirasakan asalkan dengan sungguh-sungguh belajar dan niat tulus. Saya sudah merasakannya dan akan terus mengembangkan ilmu, syukur-syukur bisa jadi pengembang open source, nah kapan giliranmu? Jangan ragu memakai Linux, hanya perlu beberapa waktu untuk merasa nyaman menggunakan OS powerfull ini.a tidak hanya secara door-to-door saja, sayapun memanfaatkan jejaring sosial yang sedang booming sekarang ini, Facebook. Selain memiliki akun pribadi, saya membuat Grup bernama KINCIR (Komunitas Linux Cirebon), karena saya rasa, belum banyak masyarakat dan pelajar Cirebon yang menggunakan Linux. Fasilitas ini amat memudahkan saya mengajak orang lain mengenal Linux. Tak disangka oleh saya sendiripun, undangan bergabung grup ini diterima ratusan orang dan saat tulisan ini dibuat paling tidak sudah 250 orang bergabung, tentu saya senang sekali. Sayapun mengajak teman-teman semasa SMA yang kuliah di ITB, UI, Universitas Gunadarma menjadi admin untuk lebih memperluas ilmu dan pengalaman memakai Linux.

Tentu dalam mengelola grup KINCIR tidak hanya ada hal manis, tapi kurang enak juga ada. Pada awalnya, memang banyak yang bergabung dengan grup ini, namun forum diskusi yang ada rasanya sepi dari komentar, pertanyaan, atau pengalaman anggota-anggota KINCIR sendiri. Oleh karena itulah, saya bersama teman-teman lain berencana membuat acara sosialisasi Linux di Cirebon, agar anggota maupun bukan anggota KINCIR dapat merasakan sendiri mencoba Linux, dan harapannya setelah itu bisa meramaikan forum diskusi KINCIR, kebetulan juga saat itu saya sedang libur semester genap jadi bisa menyiapkan acara dengan baik. Kami mengerahkan teman-teman yang ada di SMA Negeri 1 Cirebon juga untuk turut membantu. Ya, sebagai acara pertama kami juga belum mengetahui “medan”, masalah klasik keuangan juga sempat menghantui, namun dengan bantuan teman-teman semua hal itu dapat diselesaikan, apalagi ada teman yang memiliki usaha percetakan, jadi amat membantu membuat selebaran acara. Tidak ada maksud komersial dari kami dalam acara tersebut, hanya niat tulus agar masyarakat Cirebon lebih cerdas dan melek open source.

Acara sosialisasi Linux tersebut diadakan pada hari Minggu, 2 Agustus 2009 di beranda Islamic Centre Masjid At Taqwa Kota Cirebon, hari itu adalah hari bersejarah bagi KINCIR. Peserta hadir dari berbagai kalangan, ada guru, pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, hingga praktisi IT terkemuka di Cirebon. Banyak juga yang hadir dari komunitas lain yang belum terekspos, mereka malah mengajak bergabung dengan kami, tentu kami menyambut baik ajakan itu. Rupanya kami beruntung, di siang harinya ada wartawan koran lokal yang meliput kegiatan kami, katanya beliau tahu acara Cirebon, Let Try Linux ! dari spanduk sederhana yang kami pasang. Kesempatan ini tidak dilewatkan kami untuk mengenalkan KINCIR sebagai wadah pecinta Linux di Cirebon, kami juga menjawab apa yang ditanyakan wartawan tersebut. Alhamdulillah acara tersebut lancar tepat waktu sampai pukul 15.00 WIB.

Esok harinya, panitia dan anggota KINCIR geger karena acara kami masuk koran lokal Radar Cirebon. Senang sekali karena niat tulus kami ternyata malah dibantu disosialisasikan lagi oleh media cetak. Kontan setelah dimuat di koran, walau kolomnya tidak begitu besar, banyak orang yang pada acara tidak hadir, menelpon dan mengutarakan ketertarikannya untuk belajar Linux, sayang pada hari-H acara, mereka tidak bisa hadir karena ada keperluan.

Kesan manis dari belajar Linux dapat dirasakan asalkan dengan sungguh-sungguh belajar dan niat tulus. Saya sudah merasakannya dan akan terus mengembangkan ilmu, syukur-syukur bisa jadi pengembang open source, nah kapan giliranmu? Jangan ragu memakai Linux, hanya perlu beberapa waktu untuk merasa nyaman menggunakan OS powerfull ini.

Ini bukan tentang Linuxnya, tapi “Kasih sayang dan efisiensi dalam teknologi”

Iklan

3 thoughts on “Linux, bagiku, bagi kotaku

  1. Jadi semangat lagi untuk ber-Linux ria setelah membaca artikel ini.
    tapi beberapa paragraf terakhir ada yang terulang. Mohon di cek lagi.

    salam kenal…

  2. Q sangat tertarik membaca artikel ini, sebelumnya Q juga pernah denger kincir tp sebatas mendengar ga tau gerakanya.. hehe.. maklum kurang gaul…

    Q juga mahasiswa cerbon yg pengen belajar linux tp bingung ga ada komunitasnya,, trus jg Q masih ijo royo2, pake ubuntu aja keder, wkwkwkkkk… Q harap kincir tambah rame di cirebon…

    oiya biar tambah rame Q juga mau ikut nyebarin kincir ini dah di pesbuk atau di web… hehee..

    salam kenal…

    Qie..

    • terima kasih atas komentar nya

      untuk behubungan dengan kincir silahkan kontak langsung dengan para admin nya, untuk cirebon juga bisa mengunjungi lurah cirebon (fathur)

      selamat belajar linux …. (btw di CIC gag diajarin linux ? )

      Salam kenal balik ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s