Hadapi dengan Sarapan Bersama

Rabu, 24 Maret 2010 | 17:10 WIB

Waktu baru menunjukkan pukul 06.00, ketika siswa-siswi SMA Negeri 2 Banguntapan mulai berdatangan, Selasa (23/3). Pihak sekolah meminta mereka datang lebih awal. Tujuannya, berdoa dan sarapan pagi bersama sebelum mengerjakan soal-soal ujian nasional.

Beberapa hari sebelumnya, orangtua mereka juga dikumpulkan. Mereka diminta turut mendoakan anak-anaknya agar lulus ujian nasional atau UN.

“Saya tadi subuh sudah bangun karena semalaman tidak bisa tidur nyenyak. Pikiran saya selalu membayangkan seandainya saya tidak lulus. Pasti akan sangat malu,” kata Zaini, salah seorang siswa SMAN 2 Banguntapan.

Beban Zaini semakin memuncak ketika ia merasa tidak bisa mengerjakan soal-soal pada hari pertama. Mata pelajarannya Bahasa Indonesia dan Sosiologi. “Bahasa Indonesia saja rasanya sulit, apalagi hari ini mata pelajarannya Bahasa Inggris,” katanya.

Pihak sekolah sadar betul tekanan yang dialami anak didiknya. Untuk mengendurkannya, mereka memberi persiapan mental spiritual dan fisik. Spiritual dengan menggelar shalat duha dan doa bersama, sedangkan untuk urusan fisik disediakan sarapan pagi.

“Mungkin banyak siswa yang lupa sarapan karena saking stresnya. Makanya, kami persiapkan sarapan di sekolah,” kata Kepala Sekolah SMAN 2 Banguntapan Titi Prawiti. Adapun biaya sarapan diambil dari infak orangtua siswa. Siswa juga diajak outbound agar lebih rileks. Meskipun disuguhi sarapan pagi, Wulan tetap saja merasa stres.

Kebiasaan tidak sarapan membuat perutnya mulas. “Karena perut sakit, saya malah sulit berkonsentrasi. Apalagi, malamnya juga kurang tidur,” kata Wulan.

Di SMA Negeri 10 Yogyakarta, para siswa bahkan harus begadang semalam suntuk untuk persiapan mental rohani. Selain berdoa bersama, kegiatan itu juga berisi renungan agar siswa tergugah motivasinya untuk belajar sungguh-sungguh.

Momok menakutkan

Sejak menjadi indikator utama kelulusan siswa, UN berubah wujud menjadi momok menakutkan. Dinas Pendidikan ditarget kelulusan tinggi. Lalu, mereka menekan sekolah. Dan, siswalah akhirnya yang paling tertekan, terutama di sekolah-sekolah favorit.

Dengan kata lain, siswa menjadi kelompok yang paling tertindas oleh sistem. Padahal, pendidikan seharusnya memerdekakan anak didik. Bukan sebaliknya.

Di tengah perjalanan, tuntutan agar UN dihapus sebenarnya mengalir deras. Namun, pemerintah bergeming dengan berbagai alasan.

Berbagai cara pun dilakukan sekolah untuk menghadapi rupa tekanan UN. Sarapan bersama hanya salah satu dari berbagai upaya tersebut. Efektifkah? Entahlah. (ENY/IRE)

Iklan

2 thoughts on “Hadapi dengan Sarapan Bersama

  1. asslam,,,,,,,,,,,,,,,,, pak diknas klo blh thu sya gk?kshn buat thun bsk batalkan uan ya sya gk stujuh nhhhhhhhhh,,,,,,,,,,,ada uan sgalalah pak,,,,,,,,,,,,,?sya mhon nilai klulusn jangn terllu tnggi nhhhhhhhhh pak diknas sya mhonnnnnnnnn sm pak diknas?lz

    • wa alaikum salam

      Tahun depan UN tetap diadakan dengan format yang berbeda. UN dilaksanakan tidak hanya untuk mengetahui tingkat ketercapaian kegiatan belajar mengajar tetapi juga digunakan untuk sebagai salah satu penilaian masuk perguruan tinggi.

      Jadi mulai tahun depan bagi siswa yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi tidak lagi mengikuti UM perguruan tinggi yang banyaknya bervariasi dan memerlukan biaya yang cukup besar

      Penentuan batas minimal kelulusan harus dinaikan bertujuan untuk meningkatkan indeks prestasi mayarakat. yang bertujuan untuk meningkatkan nilai SDM kita di mata internasional. Mulai tahun ini SDM asing sudah masuk ke Indonesia untuk bersaing dengan SDM lokal

      Makanya kalo mau lulus jangan malas belajar yaaa. Belajar yang rajin, biar pinter, biar gag jadi pembantu di negeri sendiri …..

      Semoga informasinya berguna

      Salam hangat 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s