Meski Menari dengan Jiwa, Rasinah Tetap Jadi Magnet Penonton

Selasa, 23 Maret 2010 | 04:01 WIB

Pada usianya yang ke-80, maestro tari topeng Rasinah tak lagi menari dengan raga. Di panggung topeng yang membuatnya mendunia, Rasinah menari dengan jiwa. Tarian Panji Rogoh Sukma menjadi tarian kebangkitannya dari keterbatasan fisik akibat stroke yang dideritanya selama empat tahun belakangan ini.

Di hadapan ratusan penonton di Gedung Bumi Patra, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (20/3) malam, Rasinah membawakan tarian panji hanya dengan tangan kanan dalam posisi duduk. Ia masih terlihat sebagai Rasinah sang maestro. Gerakan ukel dan seblaknya halus, mengalir seiring dengan tabuhan gamelan. Namun, terkesan agung memainkan karakter panji yang merupakan titik tertinggi tarian topeng.

Bedanya kali ini, Rasinah tak memakai topeng. Namun, gambaran mimik wajah Rasinah justru menambah tegas karakter panji yang dibawakannya; menari dalam tenang dan diam.

Legenda hidup

Para seniman menyebut Rasinah sebagai legenda hidup. Ia lahir dari keluarga seniman. Ayahnya, Lastra, adalah dalang, sedangkan ibunya seorang ronggeng. Rasinah sejak kecil sudah diajak berkeliling menari topeng oleh orangtuanya dari satu daerah ke daerah lain, berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer.

Rasinah terbiasa dengan hidup melarat. Menjalani tirakat atau hidup penuh keprihatinan. Tidur hingga larut malam dan berpuasa ”mutih”, hanya makan segala sesuatu yang serba putih hingga dewasa.

Meski demikian, Rasinah sempat kehilangan ”napas” hidupnya. Ia meninggalkan dunia tari karena tak mampu lagi mengejar nafkah dengan berkeliling menari. Hingga suatu hari ia ditemukan Totok Amsar dan Endo Suwanda, budayawan yang saat itu sedang meneliti wayang.

”Empat belas tahun yang lalu, ketika kami bertemu Mimi Rasinah, ia adalah seorang ibu dengan beberapa bayi dan sudah tidak lagi menari selama 20 tahun,” cerita Endo.

Rumah Rasinah bahkan sempat ambruk tahun 1999. Para seniman dan donatur lalu mengumpulkan uang untuk membangun rumah dan sanggar bagi Rasinah.

Dengan dukungan seniman lainnya, Rasinah akhirnya menjelma kembali menjadi penari topeng. Ia membawa tarian topeng ke pentas dunia, seperti London (Inggris), Paris (Perancis), Jepang, dan Toronto (Kanada).

Membius penonton

Dulu, ketika masih bisa menari dengan sepenuh raga, kehadiran Rasinah di pentas selalu membius penonton. Dengan topengnya Rasinah mampu bermetamorfosa dari seorang nenek ringkih berkerudung dengan usia lanjut menjadi sosok ksatria halus hingga punggawa badung.

Penggiat teater Indramayu, Ucha M Sarna, yang tak pernah tertarik dengan tari, tiba-tiba gandrung dengan tari topeng setelah melihat Rasinah pentas di Indramayu sepuluh tahun silam. Tari topeng yang sejak kecil dinilainya biasa saja menjadi sangat atraktif, tegas, penuh energi, berwibawa, bahkan penuh banyolan ketika dibawakan Rasinah.

Topeng dan gerakan yang dibawakan Rasinah mampu mengubah imaji penonton terhadap sosok bekas buruh tani itu. Ia berubah menjadi kenes, energik, dan petantang-petenteng ketika mengenakan topeng rumyang.

Dalam sekejap pula ia ganti berpenampilan bak seorang laki-laki berumur 35 tahun. Pundaknya yang lemah tiba-tiba terangkat. Gerakannya sigap, liar, mengentak-entak dan bertenaga selayaknya sosok Rahwana, ketika mengenakan topeng klana yang berwarna merah.

”Tidak ada yang menyangka ketika topeng itu dibuka lagi, yang muncul adalah wajah seorang nenek keriput yang terlihat lemah,” kata budayawan Indramayu, Supali Kasim.

Kini setelah menderita lumpuh sebagian, Rasinah tetap tak kehilangan pamornya. Ia terus menjadi magnet penonton di panggung. Dalam pentas hari jadinya Sabtu malam itu, ia bahkan tak perlu bergerak atraktif untuk menarik perhatian. Penonton justru semakin tertarik datang mendekat ke panggung, untuk menyaksikan gerakan tangan dan wajah sang maestro lebih jelas.

Hanya dengan menggerakkan satu tangan, Rasinah menjadikan tarian Panji Rogoh Sukma sebagai tarian 15 menit yang luar biasa. ”Saya menyaksikan jiwanya menari,” kata Endo malam itu.

Dalam usianya yang ke-80, Rasinah memang tak lagi menari dengan raganya. Topeng yang hendak ia jual untuk pengobatannya, kini diberikan kepada Aerli, cucunya, sebagai perlambang keberlanjutan tarinya.

Di sanggarnya di Desa Pekandangan, Indramayu-lah Mimi Rasinah memilih bertahan. Ia akan tetap hidup dalam gairah para penari topeng muda, calon maestro-maestro tari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s