UN Kerdilkan Makna Pendidikan

Senin, 22 Maret 2010 | 15:09 WIB

Oleh Vivi Aulia

Pengumuman kelulusan ujian nasional tahun 2009 untuk tingkat SMA, MA, dan SMK se-Jawa Timur cukup menyayat hati. Dari jumlah peserta UN sebanyak 316.039 siswa, ternyata ada 15.078 siswa (4,77 persen) yang tidak lulus. Secara detail, angka penurunan kelulusan terbesar di SMA terjadi pada jurusan Bahasa, 466 orang (6,65 persen) dari 7.008 peserta tidak lulus.

Kondisi tersebut berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun 2008 jumlah anak didik yang tidak lulus hanya 110 siswa (1,02 persen) dari 6.781 peserta.

Tentu, mencermati realitas penyelenggaraan UN yang cukup mengecewakan tersebut, hal ini kemudian memberi sebuah ilustrasi bahwa pendidikan yang dilaksanakan belum mampu membawa sebuah perubahan dan perbaikan.

Angka ketidaklulusan yang semakin bertambah dari tahun ke tahun kian menjelaskan sebuah penyelenggaraan pendidikan yang gagal. Walaupun semua peserta didik yang akan mengikuti UN telah mendapatkan bimbingan belajar secara intensif dan sejumlah program lain sebagai modal persiapan UN, itu pun masih naif, tidak memberi sebuah harapan keberhasilan. Yang jelas, adanya jumlah anak didik yang cukup besar tidak lulus tersebut menjadi sebuah potret muramnya pelaksanaan pendidikan.

Tidak ada sebuah pelaksanaan pendidikan yang dijalankan secara serius dan benar dalam mendidik anak didik agar bisa sukses dalam pendidikannya walaupun kelulusan atau ketidaklulusan UN bukan jaminan bahwa peserta didik berhasil atau gagal dalam berpendidikan.

Setidaknya itulah kenyataan kegagalan pendidikan yang sedang terjadi di Jatim ini. Bila harus mengelak dari kenyataan ironis tersebut, itu merupakan sebuah ketidakberanian mengakui sebuah kenyataan di depan mata.

Oleh karenanya, ketika kegagalan pendidikan kemudian menjadikan anak didik sebagai korban, mereka pun sangat sulit mendapatkan sebuah harapan baik dan lebih baik dalam mencapai masa depan pendidikan yang lebih cerah. Apabila harus melanjutkan jenjang pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi, itu tidak mungkin terjadi, kecuali harus mengikuti Paket C. Namun, haruskah pendidikan yang ditempuh anak didik selama tiga tahun di bangku SMA dan sederajat kemudian harus dibayar dengan mengikuti Paket C ketika mereka gagal di UN?

UN dan Paket C sesungguhnya sama-sama buruknya karena kelulusan anak didik kemudian hanya diukur dengan hitungan hari. Seolah, dianggap berhasil dalam berpendidikan ketika mereka berhasil di atas kertas yang sifatnya terkesan instan. Padahal tujuan pendidikan bila ditinjau secara filosofis hanya diarahkan untuk mendidik peserta didik agar memiliki karakter dan pribadi yang bermoral.

Mengutip pendapat Driyarkara, pendidikan memiliki tujuan memanusiakan manusia muda yang disebut homonisasi dan humanisasi. Lebih tepatnya, manusia dipimpin dengan cara sedemikian rupa supaya ia bisa berdiri, bergerak, bersikap dan bertindak sebagai manusia sehingga ia kemudian memiliki kebudayaan yang tinggi.

Kelinci percobaan

Terlepas dari itu semua, sebetulnya adanya jumlah peserta didik yang tidak lulus dari tahun ke tahun merupakan satu bentuk ketidakpekaan pemerintah dalam menggelar pendidikan. Siapa pun tahu bahwa tujuan pemerintah menaikkan angka kelulusan dari 5,25 menjadi 5,50 diawali dari niat baik agar semua peserta didik kemudian semakin rajin belajar dan melahirkan prestasi yang kian baik. Akan tetapi, terkadang niat positif tersebut tidak sesuai dengan kondisi realitas yang sedang terjadi di lapangan. Sebut saja belum siapnya para anak didik secara mental dan rendahnya kemampuan akademik yang dimilikinya sebab sarana dan prasarana yang menunjang penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah kurang begitu mendukung.

Lebih parah lagi, Pemerintah Provinsi Jatim dan pihak terkait yang ikut bekerja membuat soal-soal UN bekerja sama dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pun tidak serius menyiapkan soal UN yang sebangun dengan materi pelajaran yang digelar di sekolah. Akhirnya, hal tersebut pun kian menambah keruwetan penyelenggaraan UN.

Para peserta didik pun menjadi korban kepentingan para elite pendidikan. Mereka seolah dijadikan kelinci percobaan dengan mencoba-coba soal-soal UN apa yang tepat untuk peserta didik. Ketika prinsip yang digunakan adalah prinsip coba-coba, UN pun merupakan sebuah upaya yang tidak didasari kinerja profesional para elit untuk melaksanakan UN yang benar-benar sesuai dengan kenyataan secara praksis.

Mereka bekerja hanya atas kepentingan dan keinginan sepihak tanpa melihat kemampuan pendidikan anak didik yang telah sekian lama berada di bangku sekolah. Lebih mencari kepuasan pribadi dan golongan para elit sangat dominan. Oleh sebab itu, jangan berharap besar apabila para peserta didik pun bisa lulus secara memuaskan.

Angka-angka kelulusan UN kemudian semakin menyempitkan dan mengerdilkan tujuan pendidikan yang hakiki. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah elite pendidikan kita sudah memiliki kesadaran sedemikian dan bagaimanakah dengan UN 2010 ini, apakah kondisinya tidak jauh berbeda buruknya dengan tahun lalu?

Yang jelas, harapan ke depan, pendidikan harus diletakkan sebagai media membangun peradaban bangsa yang lebih menekankan penanaman nilai-nilai ketimbang angka-angka. Selain itu, tetap memberikan jalan keluar bila ada peserta didik yang tetap tidak lulus UN guna melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi pun harus dilaksanakan, terlepas UN adalah jalan terburuk dari yang terburuk di antara banyak pilihan yang tetap dipaksakan digelar oleh pemerintah.

Pemerintah baik pusat maupun daerah harus mengupayakan itu. Jangan sampai menghambat dinamika pendidikan anak didik agar mereka terus belajar dan berpacu demi memeroleh yang terbaik bagi diri dan lingkungannya.

Vivi Aulia Pengajar di Politeknik Unisma Malang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s