Awasi UN dengan Wajar

Senin, 22 Maret 2010 | 03:53 WIB

Jakarta, Kompas – Pelaksanaan pengawasan ujian nasional hendaknya dilakukan dengan wajar. Jangan mempertontonkan tindakan berlebihan yang membuat siswa merasa seperti duduk di kursi pesakitan. Sementara itu, Penerbit Balai Pustaka mulai mendistribusikan bahan ujian ke sekolah.

Ketua Harian Komisi Nasional Pendidikan untuk UNESCO Prof Arief Rachman yang dihubungi kemarin mengingatkan para pelaksana ujian nasional (UN) agar mempertimbangkan aspek psikologis siswa peserta UN.

”Jangan membuat siswa seperti duduk di kursi pesakitan saat UN. Jangan menanamkan nilai kepada siswa bahwa UN adalah tujuan pendidikan. Sebab, UN hanya sarana evaluasi bersama. Ingatkan siswa peserta UN agar berlaku jujur dan jangan putus asa bila gagal sebab hal itu hanya bagian dari proses menuju keberhasilan,” tutur Arief, Minggu (21/3).

Menurut Arief, sebaiknya para pengawas di luar lingkungan pendidik tidak tampil bak polisi yang penuh kecurigaan menghadapi para siswa peserta UN.

”Sebaiknya mereka tidak banyak tampil di kalangan para siswa meski tetap bertugas. Biarlah para pendidik saja yang tampil mengawasi. Saya percaya mereka masih memiliki idealisme,” ujar Arief.

Kejujuran

Kepada pers, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta itu mengingatkan agar tidak berlebihan memberitakan peristiwa UN. Sebab, ukuran kesuksesan pembangunan pendidikan ada pada proses pembinaan budi pekerti dan kecerdasan.

”Jangan hanya mendorong bertubinya informasi mengenai kasus bahan UN yang bocor, kasus joki, penjualan soal, atau pelanggaran lainnya dalam UN. Akan tetapi, juga mengingatkan para siswa dan pelaksana UN bahwa basis pendidikan itu adalah kejujuran,” ujarnya.

Di tempat lain, di percetakan Balai Pustaka (BP), Rawa Gatel, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur, kemarin, Direktur Utama BP Zaim Uchrowi menjelaskan bahwa pembuatan soal UN sudah dilakukan secara profesional.

Selama mencetak soal UN, ratusan karyawannya dikarantina di Gedung Percetakan BP tanpa telepon genggam. Kebutuhan mereka sehari-hari dijamin selama mencetak soal UN.

”Siapa pun yang memasuki gedung akan digeledah. Telepon genggam dititipkan,” kata Zaim seusai mengakhiri kegiatan pendistribusian bahan-bahan UN.

Prosedur pemeriksaan ini juga diberlakukan terhadap Menteri Pendidikan saat melakukan kunjungan kerja ke BP. ”Semua yang masuk gedung percetakan harus lewat proses penggeledahan dan penitipan telepon genggam,” tandas Zaim.

Hal itu dibenarkan Ketua Panitia Pelaksana UN Ratiyono. ”Saat masuk dan keluar ruangan percetakan, saya diperiksa. Telepon genggam tidak boleh dibawa masuk,” katanya.

Pengaduan

Beberapa organisasi masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Pelajar dan Masyarakat Tolak Ujian Nasional membuka Posko Pengaduan Ujian Nasional 2010. Semua bentuk pelanggaran dapat dilaporkan ke posko ini untuk menjadi bahan analisis kelemahan penyelenggaraan UN.

Ketua aliansi Virgo Sulianto mengatakan, posko dibuka karena pemerintah tetap menyelenggarakan UN meskipun prasyarat pelaksanaannya belum dipenuhi. Prasyarat pelaksanaan UN yang diputuskan oleh Mahkamah Agung adalah peningkatan kualitas guru, melengkapi sarana dan prasarana sekolah, serta akses informasi yang lengkap di seluruh Indonesia.

Menurut pengurus Education Forum, Suparman, pelanggaran-pelanggaran UN yang mungkin terjadi antara lain adalah kebocoran soal ujian, pungutan biaya, gangguan psikologis, ketidaklulusan yang tidak wajar, serta ketidaklengkapan sarana, prasarana, dan akses informasi.

”Jika ada pelanggaran-pelanggaran semacam itu, semua pelajar atau orangtua dapat melapor ke Kantor LBH Jakarta Jalan Diponegoro 74, Jakarta Pusat, atau e-mail ke poskonasionalpengaduanun2010@gmail.com,” kata Suparman. (win/eca)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s