Pelibatan Siswa Tingkatkan Pemahaman

Jumat, 5 Maret 2010 | 16:55 WIB

Surabaya, Kompas – Pembelajaran yang melibatkan siswa memudahkan topik bahasan tertentu dipahami. Apalagi, pembelajaran ditambah media yang dekat dengan keseharian siswa.

Hal ini menjadi benang merah dari pemaparan tiga guru mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam SMP, yakni Tatik dari SMP Negeri 14 Surabaya, Sudarjatiningsih dari SMP Negeri 26 Surabaya, dan Nunik Uswatun Hasanah dari SMP Negeri 36 Surabaya, dalam Seminar Inovasi dan Kreasi Pembelajaran di SMK Negeri 6 Surabaya, Kamis (4/3).

Ketiganya meneliti perubahan metode pembelajaran pada peningkatan ketuntasan belajar siswa sepanjang Oktober 2009-Januari 2010. Penelitian yang didahului pelatihan ini merupakan bagian dari program peningkatan kualitas atas kerja sama Pemerintah Kota Surabaya, PT HM Sampoerna Tbk, dan Sampoerna School of Education.

Menurut Tatik, pembelajaran selama ini terlalu menitikberatkan pada pemahaman pelajaran tanpa membangun sikap pada siswa. Akibatnya, siswa hanya ditargetkan mendapatkan nilai baik ketika tes, tetapi tidak memiliki sikap dalam hidup. Pengajar mata pelajaran IPA ini mencontohkan, siswa membuang sampah sembarangan dan tidak memedulikan keberadaan pepohonan di sekitar sekolah kendati sudah musim kering. Siswa juga kerap meremehkan pelajaran yang diterima.

Dalam mengajari masalah pemanasan global, Tatik memaparkan akibat kondisi tersebut sebelum menjelaskan penyebabnya. Selanjutnya, menggunakan media barang bekas, dia meningkatkan pemahaman siswa tentang kerusakan bumi akibat polusi.

Perubahan metode pembelajaran di dua kelas sampel dari tujuh kelas yang ditangani, kata Tatik, berpengaruh pada penuntasan belajar dan hasil evaluasi serta pada sikap. Siswa dua kelas itu bersepakat dengan teman-teman mereka untuk mendenda teman yang membuang sampah sembarangan. Di ruang kelas kini terdapat tanaman. Tanaman di sekitar sekolah juga lebih terawat.

Sistem kelompok

Penelitian Sudarjatiningsih dan Nunik lebih mengutamakan keterlibatan siswa dalam menentukan langkah pembelajaran.

Untuk pelajaran Matematika dengan topik bahasan relasi fungsi dan hubungan dua himpunan, Sudarjatiningsih menerapkan sistem kelompok untuk mendiskusikan lembar kerja yang disiapkan (student team achievement division).

Karena kelompok terdiri atas siswa dengan kemampuan berbeda-beda, siswa yang lebih pandai bisa membantu yang lemah. Adapun guru hanya memfasilitasi dan berkeliling memantau pemahaman yang diperoleh setiap kelompok.

Setelah dievaluasi, nilai rata-rata dua kelas sampel adalah 71,76 dan 75,83. Adapun nilai rata-rata kelas dengan metode pembelajaran klasik yang bertumpu pada ceramah guru hanya 67,03. (INA) “Karena kelompok terdiri atas siswa dengan kemampuan berbeda-beda, siswa yang lebih pandai bisa membantu yang lemah”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s