“Netizen” Mengontrol Konten Tanpa Pemerintah

Rabu, 3 Maret 2010 | 06:35 WIB

Sudah lama, netizen di dunia ini, termasuk di Indonesia, tumbuh bersama internet tanpa keterlibatan pemerintah. Antusiasme terutama dari anak-anak muda terhadap internet tak terbendung lagi.

Indonesia termasuk negara unik karena mayoritas pengalaman masyarakat kita mengakses internet bukan dari komputer, melainkan dari perangkat bergerak. Ponsel yang dilengkapi akses browser dan juga perang pengaruh antaroperator telepon seluler turut mengembangkan pesatnya tradisi online di Indonesia.

Satu fakta yang menjadi keprihatinan kita, loncatan dari tradisi konvensional ke tradisi digital ini tidak dibarengi dengan tradisi menulis yang baik. Sebagian kita bahkan tak pernah menulis, selain menulis untuk pelajaran sekolah, dan tiba-tiba menulis di dunia maya tanpa panduan.

Hasilnya, beberapa kasus terakhir ini yang diliput media massa sudah membuktikan kepada kita bahwa anak-anak muda memiliki kontrol yang rendah terhadap apa yang akan ditulis atau diunggah. Kasus penghinaan lewat Facebook di Bogor yang akhirnya masuk ranah persidangan itu seharusnya tak terjadi jika kita punya etika.

Namun, diterimanya kasus ini sebagai materi tuntutan hukum hingga ke persidangan bisa menjadi sarana untuk mawas diri anak-anak muda sekarang. Juga, tak lupa untuk menyebut kasus penghinaan terhadap guru yang dilakukan empat siswa sebuah SMA di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, di Facebook juga seharusnya tak terjadi jika anak- anak punya etika menulis di internet.

Ada undang-undang atau tidak, ada aturan dari pemerintah atau tidak, seharusnya kita tak keterlaluan dalam memanfaatkan media terbuka internet. Boleh omong apa saja, tetapi asal jangan menyakiti atau membuat fitnah atau menuduh tanpa bukti. Sopan santun dan etika netizen di internet atau netiket tiba-tiba hilang begitu saja, di internet bertebaran caci maki, hujatan, penyebaran informasi bohong, iklan berbau bohong untuk menjerat pemula, dan tudingan serta dakwaan tanpa konfirmasi dari orang yang dituding. Akhirnya, banyak tulisan yang berupa sampah.

Generasi sinetron

Jika kita percaya bahwa media televisi punya pengaruh paling besar terhadap pertumbuhan anak-anak generasi muda, kita patut menilik bagaimana televisi menghidangkan pendidikan dan informasi ke hadapan pemirsa.

Generasi muda, yang kini duduk di bangku SMP dan SMA, dan mungkin sudah ada yang kuliah, dibesarkan oleh kultur media ”kotak ajaib” atau televisi yang setiap hari selalu menyajikan mimpi dan budaya instan. Juga sinetron yang isinya tampar-menampar, hujat-menghujat, pukul-memukul, dan ekspos wilayah private menjadi liputan utama padahal prinsip jurnalistik hanya meliput ranah publik.

Karena itu, tak mengherankan jika anak-anak muda kita punya kemampuan mencaci maki dengan kecepatan sekian kata jorok per detik. Untuk mengetahui isi kepala anak-anak kita, tengoklah update status mereka di Facebook, Twitter, blog, situs web pribadi, dan situs jejaring pertemanan lainnya. Beruntunglah jika anak-anak kita tak masuk dalam orang-orang yang menyia-nyiakan teknologi canggih ini untuk ”nyampah”.

Hidup dengan sampah-sampah konten sudah lama dialami di dunia internet. Namun, sebagai netizen yang cerdas tentunya kita tak akan keblinger. Jadilah netizen yang beretika dan bertanggung jawab karena dunia online seharusnya dunia penuh keceriaan dan kenyamanan. Tunjukkan kalau dunia internet kita punya kontrol mandiri terhadap konten yang ada.

Peduli etika

Kenapa kita harus peduli etika? Berinternet ria bukanlah lepas sama sekali dari dunia nyata. Jati diri kita tetap akan dibawa di dunia maya mengingat saat ini dunia maya adalah tempat yang efisien untuk menelusuri rekam jejak seseorang.

Para wartawan sering menggunakan internet untuk mengetahui rekam jejak seorang narasumber. Jadi, kalau Anda seorang psikolog anak, misalnya, tetapi tak pernah berkontribusi menulis yang baik di internet soal psikologi anak, ya Anda tak punya rekam jejak yang baik di internet.

Jika sebuah perusahaan menerima lamaran pekerjaan Anda, dan Anda mengaku sebagai ahli komputer atau hacker yang sudah berpengalaman, salah satu cara mengetahui jejak Anda adalah dengan Googling nama Anda.

Jika nama Anda banyak memberi kontribusi dan banyak dipuji rekan-rekan, itulah iklan gratis yang akan menolong Anda untuk diterima kerja. Jika rekam jejak Anda ternyata menemukan nama Anda ternyata seorang cracker jahat yang sering mengusili situs web orang lain, maka selesai sudah karier Anda.

Etika adalah sesuatu yang filosofis yang seharusnya di atas segalanya, di atas regulasi pemerintah yang ada. Jadi, jika Anda sudah menerapkan prinsip etika dan sopan santun, regulasi konten pemerintah bukanlah persoalan dan Anda tak punya urusan dengannya.

Etika ini termasuk tidak mengunggah materi pornografi dan materi ilegal yang ada hak ciptanya di situs web yang bukan tempatnya. Kenapa? Kelak jika Anda sudah punya anak atau Anda sudah menghasilkan karya yang ada hak ciptanya, pasti punya jawaban atas konsep ini.

(Amir Sodikin)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s