Kami Tak Ingin Menyerah…

Rabu, 3 Maret 2010 | 15:33 WIB

Tak ada manusia yang terlahir sempurna/Jangan kau sesali segala yang telah terjadi/Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat/Seakan hidup ini tak ada artinya lagi/Syukuri apa yang ada/Hidup adalah anugerah/Tetap jalani hidup ini/Melakukan yang terbaik//

Penggalan lagu yang dipopulerkan grup band D’Masiv berjudul “Jangan Menyerah” itu dibawakan penuh perasaan oleh Didin (19), vokalis tunanetra yang juga siswa SLB Negeri Taruna Mandiri, di Desa Sampora, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, pekan lalu. Bersama bandnya, Blue Riglet, Didin memukau penonton, termasuk Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh.

Suara merdu Didin, petikan gitar Nanang (21) dan Sri (16), tabuhan drum Lia (15), serta sentuhan melodis keyboard Bayu (17) menyihir penonton. Penonton terhanyut, bergoyang, sekaligus bangga. “Kami tidak ingin dikasihani, tapi kami ingin diperhatikan,” kata Didin di sela-sela penampilan mereka.

Di balik keterbatasan mereka, Didin bersama Blue Riglet punya obsesi besar. Mereka bermimpi masuk dapur rekaman dan menjadi grup band ternama. Memang tidak mudah. Karena itu, Didin, Lia, Sri, Bayu, dan Nanang tak henti-henti belajar, berlatih, dan berkarya, demi cita-cita itu.

Nanang berujar, diremehkan orang lain karena fisik tidak sempurna adalah hal biasa baginya. Justru itu menjadi cambuk untuk tampil lebih dari orang biasa. Menurut dia, jika orang lain bisa, mengapa dia dan teman-temannya tidak bisa. Terbukti bandnya pernah menjadi band pembuka konser Kangen Band di Kuningan.

Dalam festival band pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus tingkat nasional di Malang, tahun 2009, Blue Riglet menjadi juara kedua. Lia juga menjadi drumer terbaik dalam festival tersebut. Padahal, gadis ini belum lama belajar dan memainkan drum.

Prestasi Didin dan kawan-kawannya membuat Jahari, Kepala SLB Taruna Mandiri, bangga dan bersemangat mengembangkan kemahiran seni anak-anak didiknya. Menurut dia, SLB memberi kesempatan siswa berkebutuhan khusus untuk mengembangkan talenta yang dimiliki. Bentuknya adalah menyediakan sarana latihan serta mencarikan guru khusus musik. Tidak diskriminatif

Mendiknas mengatakan, konsep pendidikan seharusnya tidak diskriminatif dan berpihak. Anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak mengenyam pendidikan dan kesempatan kerja, apalagi mereka memiliki kemampuan dan bakat luar biasa.

Sayang, angka partisipasi kasar anak-anak berkebutuhan khusus bersekolah pun masih rendah. Contohnya, di Jawa Barat, hanya 20,85 persen dari 73.286 anak tunanetra yang bersekolah di SLB. Selain jumlah SLB tidak banyak, tenaga pendidik yang tersedia juga terbatas, termasuk dalam bidang keterampilan yang dibutuhkan.

Ketua Komite SLB Taruna Mandiri Eron Charlan mengakui, kesempatan yang diberikan pemerintah dan masyarakat masih terbatas. Namun, Kuningan mulai mengurangi dengan membentuk enam kelompok usaha penyandang cacat di beberapa kecamatan dan mengangkat 17 warga berkebutuhan khusus menjadi pegawai negeri sipil.

Nanang dan Didin tak ingin berhenti sampai di sini. Meski bandnya telah dikenal di Kuningan, mereka bersikeras ingin menjadi band besar. Memang itu tidak mudah. Namun, dua pentolan band tunanetra asal Kuningan ini tak akan menyerah mencari peluang mencapai kesuksesan. (Timbuktu Harthana)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s