Demi Ujian Sekolah, Akta Kelahiran Pun Diubah

Rabu, 3 Maret 2010 | 04:54 WIB

Pesan kepala sekolah hari Senin (22/2) itu masih terngiang-ngiang di kepala Dina Wahyuni (10). Sisa-sisa kesedihan masih menyelimuti hati bocah berparas elok itu.

Pukul 05.30 Wita Rabu (24/2), siswi SD Katolik Ende 6, di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, itu sudah bersiap ke sekolah. Dia menghadapi tryout mata pelajaran Matematika. Dia bersiap di kamarnya yang beratap tripleks dan lantai plesteran semen yang banyak terkelupas.

Setiba di sekolahnya yang tepat berada di depan rumahnya, anak bungsu pasangan Suwito (47) dan Sulistiani (38) itu langsung mengurus air cuci tangan dan menyapu halaman sekolah bersama teman-temannya. Hatinya agak terhibur.

Dia sempat galau lantaran Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Ende tak mengizinkannya ikut ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN), 4-6 Mei.

Bocah kelahiran 27 April 2000 itu dinyatakan tidak memenuhi syarat sebab belum berusia 11 tahun, yang menjadi syarat peserta UASBN.

Dia terguncang ketika dipanggil Kepala SDK Ende 6 Martha Sani yang menyampaikan dia tak bisa ikut UASBN, bahkan mesti duduk di kelas empat atau lima. Dina akan bisa ikut ujian, tetapi harus mengubah tahun kelahiran di akta kelahirannya.

”Secara fisik dia mampu, malah secara akademik lebih unggul dari siswa lain. Dia hanya terganjal umur. Mestinya pemerintah jangan menghambat anak cerdas seperti ini,” kata Martha.

Wali Kelas VI SDK Ende 6 Maria Ana Dema merasa kasihan jika Dina mesti tinggal di kelas empat atau lima sebab ia adalah pelajar yang pandai dan cerdas. Dia peringkat pertama dari kelas satu hingga enam.

Usia 4,5 tahun

Dina masuk sekolah saat berusia 4,5 tahun karena dia memang ingin masuk SD, bukan TK. Ayah Dina yang berpendidikan hingga kelas tiga SD kini berjualan es kelapa muda dan cendol di Pasar Mbongawani, Ende. Ibunya, Sulistiani, berjualan gado-gado dan bakso di depan Puskesmas Kotaratu, Ende.

”Terpaksa kami mengikuti syarat yang diminta daripada Dina tidak bisa ikut ujian. Kasihan dia. Saya sudah urus semua syarat administrasi. Pihak sekolah yang mengurus pengubahan aktanya,” kata Sulistiani.

Untuk mengubah akta kelahiran, pihak sekolah mengurus ke Dinas Pendaftaran Penduduk Kabupaten Ende. Diperkirakan akhir Februari akta itu jadi.

Pengajar dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Unflor) Ende Umar Ibnu Alkhatab menyatakan keprihatinannya atas kasus ini.

”Di Amerika, anak usia 15 tahun kalau memang kemampuan intelektualnya tinggi dapat masuk perguruan tinggi. Ini, kan, untuk ujian akhir SD saja. Saya kira tidak perlu dihambat. Kalau sampai mengubah akta kelahiran, sama saja manipulasi umur yang dilegalkan. Secara psikis itu kurang baik bagi si anak. Sistem pendidikan seperti ini juga berarti mengajarkan korupsi. Lalu mau dibawa ke mana pendidikan kita jika mentalitas anak dibangun dengan cara manipulatif,” kata Umar.

”Pemerintah sebaiknya mengapresiasi pelajar berbakat seperti Dina. Anggap saja siswa akselerasi. Kalau kemudian dia malah tidak boleh ikut ujian karena alasan umur, itu sama saja pemerintah membatasi hak dia untuk mendapat pendidikan,” kata magister sosiologi Universitas Indonesia itu.

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ende Yeremias Bore menyatakan, ketika biodata Dina dimasukkan ke dalam database peserta UASBN, pengisian tahun kelahiran Dina ditolak sistem.

”Sistem pendataan di komputer diprogram sedemikian rupa. Ketika dimasukkan kelahiran tahun 2000, yang muncul angka nol,” kata Yeremias.

”Pelajar berbakat seperti Dina memang bisa diikutkan dalam program akselerasi, tapi masalahnya di Ende tidak ada sekolah akselerasi,” tambahnya.

Dalam kasus ini kebijakan pemerintah di bidang pendidikan terkesan membingungkan. Di satu sisi siswa didorong berprestasi setinggi mungkin, tapi di sisi lain hanya karena soal umur malah terhambat. Bukankah pemerintah mestinya justru bangga dan terus mendorong siswa berbakat sebagai mutiara dan aset masa depan bangsa?

Solusi dengan mengubah akta kelahiran apakah sudah diperhitungkan akibatnya kemudian? Bagaimana jika sosok Dina, 25 atau 30 tahun ke depan, terkait akta kelahiran atau ijazahnya digugat secara hukum. Siapa yang mesti bertanggung jawab? (Samuel Oktora)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s