Mengajarkan Kejujuran

Senin, 1 Maret 2010 | 15:05 WIB

Oleh St Kartono

Seorang guru besar di Bandung memublikasikan karya jiplakan di koran. Di Yogyakarta, dua calon guru besar perguruan tinggi swasta dicurigai mengajukan karya ilmiah hasil penjiplakan dalam berkas pengajuan gelar guru besarnya. Jika kasus itu ibarat puncak gunung es, adakah upaya mengurai kecurangan intelektual dalam dunia pendidikan?

Perilaku jiplak-menjiplak, mengambil karya orang lain lantas mengakui sebagai karya sendiri, entah untuk publikasi di media massa maupun untuk kepentingan tugas-tugas ilmiah, telah menjangkiti anak-anak kita sejak sekolah menengah. Tugas-tugas menulis laporan atau makalah sederhana tidak luput dari proses itu. Anak-anak kita akrab dengan istilah copy-paste, cutting-glueing, potong sana-sini lantas tempelkan dan sambung-menyambung dari berbagai tulisan untuk tulisan baru.

Putri sulung penulis menahan geram ketika guru bahasa Indonesia kelasnya membacakan sekaligus memuji-muji resensi siswa dari kelas lain mengenai novel Raumanen karena jelas-jelas teman di sebelahnya memegang naskah persis yang diunduh dari internet. Guru bermaksud baik menugasi siswanya untuk membaca novel, tetapi guru yang tidak akrab dengan teknologi justru menumbuhkan perilaku tidak jujur.

Dalam sebuah perlombaan karya tulis ilmiah antar-siswa sekolah menengah pertama, penulis jumpai, justru juara pertama adalah hasil copy-paste. Penulisnya mengakui sendiri kepada peserta lain ketika hadiah pemenang sudah diserahkan, bahkan yang bersangkutan mewakili provinsi ke tingkat nasional. Tentu persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab guru pembimbing, yang membiarkan anak didiknya mencoba tak jujur.

Di kalangan mahasiswa jamak dijumpai laporan-laporan tugas berupa hasil unduhan situs-situs penyedia berita atau artikel. Landasan teori dalam karya ilmiah justru diambil begitu saja dari karya ilmiah yang ada sebelumnya. Rujukan pustaka yang disebut dalam landasan teori bukan berasal dari hasil membaca, melainkan mengutip ulang dari internet yang ditulis orang lain, bahkan tidak pernah mengetahui wujud sumber aslinya.

Faktor pendidik

Jika perilaku penjiplakan karya ilmiah ditempatkan dalam konteks pendidikan karakter bangsa ini, guru dan dosenlah yang mempunyai peran besar untuk menghentikan. Posisi guru dan dosen memang contradictio in terminis (di dalam dirinya pun terjadi pertentangan). Mereka yang diharapkan menjadi penegak kejujuran justru acap kali terjebak perilaku yang sama, entah pemalsuan karya ilmiah untuk pengajuan angka kredit kenaikan pangkat maupun penjiplakan karya untuk sertifikasi.

Namun, guru mestinya mampu menengarai hasil-hasil pekerjaan siswanya atau dosen juga mampu mendeteksi pekerjaan para mahasiswanya, mana yang orisinal dan mana yang tidak. Para pendidik seharusnya mempunyai arena penjelajahan membaca wacana apa pun juga.

Pengalaman dalam forum perkuliahan, penulis menemukan seperlima jumlah mahasiswa menyerahkan naskah tidak orisinal. Dalam pertemuan berikutnya, penulis sebagai pengajar hanya minta mahasiswa tersebut mengakui dan minta maaf, tentu saja setelah ada bukti kuat dengan menunjukkan karya asli orang lain yang dijiplak. Mereka dipersilakan membuat laporan yang baru dengan waktu terbatas disertai peringatan keras. Efek kejut ini membuat para siswa atau mahasiswa berhati-hati dan jera.

Untuk ajang perlombaan karya tulis ilmiah, para juri perlu juga cermat menghadapi karya-karya tidak orisinal. Para guru pembimbing karya ilmiah di sekolah-sekolah mesti juga terus-menerus membantu siswa agar menempuh proses yang jujur. Meski harus mengejar kemenangan, kejujuran ilmiah harus dijunjung tinggi dan diperjuangkan.

Belajar dari Australia

Penjiplakan dideteksi ketat di perguruan tinggi di Australia. Untuk meminimalkannya, dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah, perguruan tinggi menyediakan perangkat lunak (software). Kebijakan perguruan tinggi yang antiplagiarisme itu disebarluaskan secara terbuka kepada mahasiswa sejak awal. Implementasi sehari-harinya dalam kehidupan kampus dengan membuat surat pernyataan tidak melakukan tindak plagiat. Tiap kali pengumpulan tugas, mahasiswa mesti menandatangani formulir khusus yang berisi pernyataan tidak melakukan plagiat dalam pengerjaan tugas.

Untuk konteks Indonesia, kalau toh belum ada perangkat canggih seperti di Australia, para pendidik, guru, dan dosen akan mampu menjadi benteng kejujuran jika dalam diri mereka sendiri memiliki etos membaca dan mau bertekun membaca setiap naskah apa pun dari siswanya. Keluasan pengalaman dan bacaan pendidiklah yang bisa menjadi alat pendeteksi orisinalitas karya anak-anak kita. Tentu dengan pengandaian pendidik, guru, dan dosen tidak gemar menjiplak juga. ST KARTONO Guru SMA Kolese De Britto, Yogyakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s