Sarjana Kurang Sehat

Sabtu, 27 Februari 2010 | 09:44 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS – Tiga tahun terakhir, kegagalan tes kesehatan sarjana pencari kerja terus meningkat. Sebagian besar kegagalan akibat penyakit degeneratif yang erat dengan gaya hidup dan pola makan tidak sehat.

Salah satu kegagalan tes terlihat dari tes kesehatan proses seleksi pegawai baru PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Yogyakarta tahun 2009 yang dilakukan Engineering Career Center (ECC) Universitas Gadjah Mada. Tingkat kegagalan mencapai 57 persen. “Dari 371 pelamar sarjana, hanya 111 yang lolos tes kesehatan,” kata Direktur ECC UGM Deka Isnadi di Yogyakarta, Kamis (25/2).

Dari jumlah itu, kegagalan terbanyak karena kadar kolesterol tinggi yang mencapai 34 persen. Kegagalan kedua, buruknya kondisi jantung sejumlah 17 persen, disusul diabetes mellitus, serta asam urat.

Sebelum 2006, kegagalan tes kesehatan rata-rata di bawah 30 persen. Fenomena kegagalan yang terus meningkat itu hampir di seluruh Indonesia. “Perusahaan sering mengeluh soal ini,” ujar Deka.

Ketua Satuan Tugas Kemitraan Industri UGM Nurhadi mengatakan, selain kesehatan, jumlah kegagalan tes psikologi ketika melamar kerja juga sangat tinggi. Rata-rata di atas 40 persen pada berbagai perusahaan.

Kurang matang

Lulusan perguruan tinggi juga dinilai kurang matang secara emosional untuk bekerja. Selain kurang mampu menangani konflik dan tekanan kerja, keterampilan bekerja sama tim juga minim.

Sebaliknya, tingkat keberhasilan seleksi akademik justru meningkat. “Mahasiswa sekarang pintar-pintar, IPK mereka tinggi, tetapi kurang pengembangan diri dan kemampuan sosial,” kata Nurhadi.

Menurut Nurhadi, kemampuan akademis tak banyak menambah peluang lulusan perguruan tinggi diterima bekerja. Kemampuan akademis dan keterampilan hanya menyumbang 20 persen untuk diterima bekerja.

Adapun 80 persen lain adalah kemampuan sosial dan pengembangan diri. Perusahaan pun lebih menyukai lulusan yang aktif berorganisasi saat kuliah.

Untuk mengatasi ketidaksiapan sarjana terjun ke dunia kerja, perguruan tinggi perlu mendorong pendidikan pengembangan diri mahasiswa. “Kampus jangan hanya berorientasi nilai akademis, tetapi juga memberi kesempatan mahasiswa berkembang di sisi sosial dan kegiatan kemasyarakatan,” ujarnya.

Untuk menjembatani dunia kampus dan industri, pada 6-7 Maret, ECC UGM menyelenggarakan bursa kerja dan diskusi untuk memasuki lapangan kerja. Acara diadakan gratis bagi mahasiswa dan lulusan D-3, serta S- 1. Acara diperkirakan dihadiri 20.000 sarjana pencari kerja. (IRE)

Iklan

2 thoughts on “Sarjana Kurang Sehat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s