Budaya Cirebon Belum Diakui

Sabtu, 27 Februari 2010 | 09:30 WIB

Cirebon, Kompas – Budaya Cirebon yang merupakan asimilasi dari lima budaya, yakni Jawa, Sunda, Timur Tengah, China, dan India, hingga kini belum sepenuhnya dianggap sebagai budaya oleh daerah lain. Padahal, peleburan budaya selama 600 tahun itu sudah menciptakan karakteristik masyarakat baru yang berbeda dari karakteristik lain, yakni masyarakat Cirebon.

Hal itu mengemuka dalam diskusi “Budaya Pesisir” yang diselenggarakan harian Kompas bekerja sama dengan IAIN Syekh Nurjati, Kamis (25/2) di Cirebon.

Diskusi ini dibuka Penjabat Pembantu Rektor IV IAIN Syekh Nurjati Ahmad Asmuni dan dihadiri para pembicara, yaitu Abdullah Ali, guru besar IAIN Syekh Nurjati; Nurdin M Noer, budayawan Cirebon; Supali Kasim, mantan Ketua Dewan Kesenian Indramayu; Abidin Aslich, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kota Cirebon; serta Ratu Raja Arimbi Nurtina, Sekretaris Keraton Kanoman. Hadir pula General Manager Humas Kompas Gramedia Nugroho F Yudho.

Dalam diskusi tersebut Nurdin M Noer mengatakan, Cirebon secara geografis berada di titik pertemuan antarbudaya, sesuai kitab Carita Purwaka Caruban Nagari. Karakteristik warganya yang lugas dan terbuka menjadikan budaya lain lebih mudah masuk, bahkan saling tindih. Sayang, meski sudah 600 tahun berlalu, budaya baru yang sudah melepaskan diri dari budaya pembentuknya itu belum diakui karakternya.

Belum diakuinya Cirebon sebagai budaya sendiri juga digambarkan Abidin Aslich dengan ajang pemilihan mojang dan jajaka Jawa Barat sebagai contoh. Dalam ajang itu bahasa Cirebon tak pernah dipakai meskipun Cirebon merupakan bagian dari Jabar. “Akibatnya, peserta Cirebon sering kali terjungkal di babak awal saat tes bahasa yang menggunakan bahasa Sunda,” kata Abidin.

Indramayu yang merupakan wilayah Jabar dikatakan Supali Kasim juga lebih dekat dengan budaya pesisir Cirebon ketimbang Sunda. Hal itu tampak dari bahasa yang sehari-hari dipakai warganya yang mirip bahasa Cirebon. “Ini disebabkan hegemoni politik dan budaya Pajajaran tidak sampai di wilayah Indramayu,” katanya.

Meskipun belum diakui secara luas, bukan berarti Cirebon tidak bisa mempunyai budaya tersendiri. Abdullah Ali mengatakan, budaya baru lahir dengan proses alami dan terbentuk dari generasi ke generasi.

Peleburan budaya Cirebon selama ini juga menghasilkan kearifan lokal yang mungkin tak dimiliki budaya lain. Misalnya, meski berbentuk kerajaan, masyarakatnya tetap egaliter. Ratu Raja Arimbi Nurtina juga menyebutkan, Cirebon lahir dari usaha untuk menyiarkan agama. Nilai inilah yang sampai sekarang harus dipelihara. (NIT/THT)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s