Regenerasi Juru Kawih Seni Ronggeng Mandek

Senin, 15 Februari 2010 | 15:23 WIB

Ciamis, Kompas – Regenerasi juru kawih atau sinden kelompok seni ronggeng di Kabupaten Ciamis tidak berjalan. Generasi muda lebih tertarik menjadi penyanyi dangdut ketimbang menjadi juru kawih atau sinden yang banyak dibutuhkan kelompok seni.

Pimpinan Grup Ronggeng Girimukti, Engkus, Sabtu (13/2), mengatakan sulit mencari juru kawih. Menurut pria asal Kecamatan Padaherang itu, di Padaherang saja setidaknya ada sembilan grup ronggeng yang membutuhkan sinden. Jumlah itu belum termasuk grup di sembilan kecamatan lain di Ciamis selatan. Namun, jumlah sinden di wilayah selatan Ciamis kini hanya sekitar lima orang.

Akibatnya, terkadang grup seni tradisional yang tidak memiliki sinden harus meminjam sinden dari grup lain. Pimpinan Grup Seni Calung Gapura Asih, Rusliadi, menambahkan, generasi muda saat ini lebih tertarik menjadi penyanyi dangdut daripada menjadi sinden dalam grup seni tradisional seperti ronggeng. Menjadi penyanyi dangdut dianggap lebih bergengsi daripada menjadi sinden.

Padahal, dari sisi bayaran, penyanyi dangdut hanya dibayar sekitar Rp 150.000 untuk sekali pentas sehari semalam di daerah. Adapun honor sinden sekali tampil sehari semalam sedikitnya Rp 300.000.

Semakin tua usia, penyanyi dangdut semakin ditinggalkan penggemar. “Jangankan umurnya sudah tua, kalau penyanyi dangdut sudah menikah saja pasarannya berkurang,” kata Rusliadi.

Adapun sinden tetap dibutuhkan meski sudah berusia lanjut, apalagi kalau jumlahnya sedikit seperti sekarang. Rusliadi mengatakan, meski lebih menguntungkan secara ekonomi, jarang generasi muda yang tertarik menjadi sinden. “Entah harus bagaimana caranya agar anak muda tertarik menjadi sinden,” ujar pria yang biasa dipanggil Iyus itu.

Otodidak

Seorang juru kawih, Yayah Pujasari (34), menuturkan, selama ini ia belajar otodidak melantunkan lagu Sunda dengan mendengarkan kaset. Tidak ada yang mengajarinya untuk menjadi sinden. Bakat memang penting, tetapi kalau hanya berbakat tetapi tidak memiliki kemauan melestarikan seni tradisional sama saja bohong.

Mengingat terbatasnya jumlah sinden saat ini, faktor utama untuk menjadi sinden ialah kemauan kuat untuk belajar dan melestarikan seni tradisional.

Penyair Sunda asal Ciamis, Godi Suwarna, berpendapat, mandeknya regenerasi sinden bisa jadi disebabkan penilaian generasi muda perempuan yang menganggap seni tradisional sesuatu yang kuno. Karena itu, tidak mengherankan, di hampir setiap kecamatan ada grup organ tunggal dengan vokalis perempuan yang selalu membawakan lagu dangdut. Regenerasi sinden untuk seni ronggeng saja susah, apalagi sinden atau ronggeng untuk seni ronggeng gunung, sebuah bentuk seni tradisional khas Ciamis selatan. (adh)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s