Sentuhan China, dari Masjid sampai Keraton

Sabtu, 13 Februari 2010 | 15:10 WIB

Oleh M Hilmi Faiq dan Timbuktu Harthana

Tak dimungkiri, kebudayaan dari China telah membaur dan membentuk corak budaya baru di Tanah Air. Peleburannya terbalut dalam beragam sisi kehidupan, mulai kesenian, kuliner, sampai arsitektur bangunan.

Bukti-bukti sejarah itu pun masih utuh terwujud dan terpelihara hingga kini. Pembauran budaya itu bisa dilihat di berbagai kota di Jawa Barat, baik di wilayah pesisir, seperti Cirebon dan Indramayu, maupun di daerah pegunungan, semacam Bandung dan Sukabumi.

Di Bandung, Masjid Lautze 2 menjadi salah satu bukti peninggalan corak budaya Tiong-hoa yang bertahan hingga kini. Sekilas, bangunan sederhana di Jalan Tamblong itu seperti bukan masjid. Yang meyakinkan orang bahwa itu masjid adalah kubah yang dirangkai dari potongan tripleks berbentuk setengah lingkaran, diperkuat dengan tulisan “Masjid Lautze 2”.

Ketua Dewan Keluarga Masjid (DKM) Lautze 2 Bandung Ku Khie Fung (Syarief Abdurrahman) menjelaskan, masjid tersebut dibangun oleh Yayasan Haji Karim Oei untuk mengurangi diskriminasi terhadap kaum Tiong-hoa. “Masjid ini dimaksudkan sebagai upaya asimilasi warga Tionghoa dengan pribumi,” ujarnya, Rabu (10/2).

Masjid Lautze pertama berdiri di Jakarta setelah Yayasan Haji Karim Oei berdiri pada 1991. Nama Haji Karim Oei merujuk pada tokoh Islam keturunan Tionghoa yang dekat dengan mendiang proklamator Soekarno dan Mohammad Hatta. Yayasan ini kemudian membuka cabang di Bandung pada 1997 di sebuah bangunan bekas toko.

Semangat asimilasi dan kerukunan beragama terus memancar dari masjid berukuran 6 meter x 7 meter yang didominasi warna merah ini. Dari segi fungsi, masjid tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi warga Tiong-hoa. Pengurus DKM Lautze 2 membuka diri kepada siapa saja untuk belajar agama dan ilmu di sana.

Beberapa mahasiswa dan siswa non-Muslim kerap datang untuk meneliti atau sekadar ingin tahu tentang sejarah masjid. Inilah salah satu bentuk penerimaan mereka terhadap perbedaan etnis dan agama. Uniknya, masjid itu hanya buka mulai pukul 09.00 sampai pukul 17.00. Di luar jam itu, masjid terkunci karena DKM kekurangan tenaga penjaga masjid.

Pada waktu shalat Jumat, jemaah mencapai ratusan orang sehingga meluber sampai trotoar. Mereka adalah para pegawai kantor, tukang parkir, dan warga lokal lain. “Saya beberapa kali shalat Jumat di sana,” kata Asep Setia (24), warga asli Sunda sekaligus karyawan swasta.

Che Li Wen yang kini Cirebon

Di Cirebon, akulturasi kebudayaan China juga terasa kental. Pembauran warga keturunan Tionghoa dan penduduk lokal pun membentuk hubungan harmonis. Boleh dikata, kebudayaan China adalah salah satu kebudayaan yang membentuk Cirebon selain kebudayaan India dan Arab. Maklum, sejak abad XVII hingga abad XVIII masyarakat China telah mendiami Cirebon.

Bukti karakter khas China itu setidaknya tergambar dari tempelan piring-piring keramik China yang berusia 300 tahun lebih di sejumlah bangunan di Keraton Kasepuhan dan Kanoman. Konon keramik itu dibawa bersamaan dengan datangnya Putri Ong Tin Nio, istri Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, yang berasal dari China. Piring-piring keramik itu di antaranya terpasang di Ruang Prabayaksa, Mande Manguntur, Masjid Merah Panjunan, dan makam Sunan Gunung Jati.

Tak sedikit warga etnis Tionghoa berziarah ke makam Putri Ong Tin di kompleks makam Sunan Gunung Jati. Padahal, semua kerabat keraton yang dimakamkan di sana beragama Islam. Bahkan di depan gerbang makam Ong Tin ada tempat menaruh hio yang dipakai saat warga keturunan Tionghoa berziarah ke sana.

Menurut Pangeran Kumisi dari Keraton Kanoman, Pangeran Mochammad Rokhim, corak khas China juga tampak pada warna-warna furnitur dan interior istana. Selain itu, motif ukiran dan interior dinding berbentuk bunga juga kental bernuansa oriental, termasuk tarian bedaya keraton yang gerakannya menyerupai olah tubuh taichi.

Bangunan lain yang sarat sentuhan arsitektur China adalah Taman Sari Goa Sunyaragi. Bangunan yang didirikan tahun 1703 pada masa Pangeran Aria Cirebon ini memanfaatkan jasa arsitek asal China. Akibatnya, saat dilihat, konsep penataan taman yang diperuntukkan bagi para raja bermeditasi itu mirip taman-taman indah di istana kerajaan China.

Kebudayaan China memang tidak bisa dilepaskan dari Cirebon. Sebab, kata Mustaqim Asteja, pemerhati sejarah budaya dari Kendi Pertula, Cirebon adalah kota dagang yang telah menjadi tujuan orang China sejak tahun 1400-an.

Hal itu tertera dalam manuskrip Shun-Feng Hsiang-Sung sekitar tahun 1430 yang menceritakan rute perjalanan kapal China dari Shun-t’a (Sunda Pajajaran) ke arah timur sepanjang pantai utara menuju Che Li Wen (Cirebon). Jumlah orang China pun terus bertambah sampai abad XIX. Konon, sebagian orang China yang datang ke Cirebon adalah China Muslim yang berdagang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s