Mendiknas: Wajar, Jalur Masuk PTN Dievaluasi

Kamis, 11 Februari 2010 | 04:59 WIB

Palembang, Kompas – Jalur masuk perguruan tinggi negeri yang sangat beragam perlu ditinjau ulang karena sebuah sistem terikat dengan waktu. Karena itu, peninjauan ulang jalur masuk perguruan tinggi negeri merupakan sesuatu yang wajar.

Hal itu dikatakan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Rabu (10/2) di Gedung Pascasarjana Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan, di sela-sela Sosialisasi Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014.

Menurut Mohammad Nuh, tidak ada sistem yang berlaku terus-menerus. Setiap saat jalur masuk PTN bisa mengalami peninjauan ulang.

”Intinya, kami sedang melakukan peninjauan ulang, tetapi hasilnya tidak harus mengubah jalur masuk perguruan tinggi negeri. Kalau sistemnya sudah bagus, akan dipertahankan; kalau ada kekurangan, harus diperbaiki,” ujarnya.

Mendiknas mengungkapkan, jalur masuk PTN perlu ditinjau karena beberapa ujian seleksi masuk perguruan tinggi dilakukan sebelum ujian nasional. ”Jika seleksi ini terus dilakukan, bisa mengganggu konsentrasi siswa,” katanya.

Mengenai kesempatan yang lebih besar bagi calon mahasiswa kaya dengan adanya berbagai macam seleksi, Mendiknas menegaskan, PTN tidak boleh hanya menerima calon mahasiswa kaya. Dalam Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) disebutkan dengan jelas, PTN harus menerima setidaknya 20 persen mahasiswa tidak mampu.

Otonomi PTN

Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri, secara terpisah, mengatakan, sebaiknya PTN dibiarkan menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui jalur yang telah ditentukan oleh PTN yang bersangkutan. Apalagi, kata Gumilar, hal itu merupakan kewenangan atau otonomi PTN.

”Jika hanya SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang menjadi satu-satunya jalur masuk PTN, di mana letak otonomi PTN,” ujarnya.

Alasan UI membuka beragam jalur masuk, lanjut Gumilar, untuk menjaga kualitas mahasiswa yang diterima. Jika hanya mengandalkan SNMPTN, UI tidak akan memperoleh mahasiswa yang benar-benar unggul dan berkualitas. Oleh karena itu, UI membuka jalur penerimaan yang khusus, antara lain, seperti menerima 800 lulusan SMA terbaik dari sejumlah daerah.

Selain menjaga kualitas mahasiswa, kata Ketua Panitia Tetap Penerimaan Mahasiswa Baru UI Emil Budianto, UI membuka banyak jalur masuk agar UI bisa diakses oleh calon mahasiswa dari semua pelosok daerah.

Secara terpisah, Universitas Hasanuddin Makassar mengurangi kuota penerimaan mahasiswa nonsubsidi. Juru bicara Unhas, Dahlan Abubakar, mengatakan, mahasiswa nonsubsidi membayar uang pangkal Rp 8 juta-Rp 125 juta, tetapi membayar biaya kuliah per semester yang sama dengan mahasiswa yang diterima dari jalur subsidi. (WAD/LUK/JON/ROW)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s