Praktik Bioteknologi SMA Minim

Senin, 8 Februari 2010 | 11:11 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS – Guru-guru Biologi pada jenjang sekolah menengah atas dinilai belum banyak mempraktikkan teknologi biologi. Padahal, praktik pada bidang tersebut sangat penting untuk memberi pemahaman nyata pada murid.

Kemampuan itu dinilai mendesak karena kurikulum pelajaran biologi sudah banyak mencakup materi bioteknologi. “Sekarang sangat penting,” kata Peneliti Biologi Konservasi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Ign Pramana Yuda di sela-sela Olimpiade Biologi tingkat SMA yang diselenggarakan UAJY, Sabtu (6/2).

Olimpiade diikuti 240 pelajar SMA se-DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pada kesempatan itu, sekitar 50 guru biologi pendamping peserta olimpiade memperoleh pelatihan teknologi biologi secara gratis.

Pelatihan terdiri atas dua jenis, yaitu pelatihan teknologi biologi molekular dan biopestisida. Pelatihan semacam itu jarang diterima para guru sekolah.

Pada Pelatihan biologi molekular, para guru dilatih meneliti sel darah dan mengidentifikasi parasit yang ada di dalamnya. Adapun pada biopestisida, para guru berlatih mengenali tanaman-tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida alami dan aman bagi lingkungan.

Kedua pelatihan merupakan salah satu bentuk materi bioteknologi yang telah diajarkan di tingkat SMA.

Berdasarkan pelatihan, Pramana yang membimbing biologi molekular mengatakan, guru-guru umumnya menguasai konsep dan teori bioteknologi dengan baik. Namun, pengetahuan praktik mereka umumnya sangat minim.

Kondisi itu membuat guru kesulitan menerangkan pengaplikasiannya. Padahal, para murid membutuhkan pemahaman lebih dari sekadar teori.

Alat praktik minim

Salah satu kendala pengenalan biologi molekuler dan bioteknologi adalah minimnya peralatan praktik di sekolah. Alat-alat penelitian biologi molekular tergolong mahal.

Seperangkat alat untuk meneliti biologi molekular bisa mencapai lebih dari Rp 2 miliar. “Memang sedikit berlebihan kalau sekolah harus mempunyai peralatan itu. Pemerintah yang seharusnya menyediakan pelatihan berkala,” ujar Pramana.

Pelatihan berkala bagi kalangan guru biologi penting karena perkembangan teknologi dan penemuan di bidang itu sangat pesat. Penemuan-penemuan baru biasanya berkaitan dengan bioteknologi.

Namun, pelatihan untuk guru-guru biologi jarang digelar pemerintah. “Pelatihan pemerintah untuk pengembangan dan perluasan ilmu biologi nyaris tak pernah ada. Yang ada hanya pelatihan terkait kurikulum,” kata guru Biologi SMA Negeri 5 Yogyakarta Dwi Essy.

Untuk memperkaya ilmu biologi, Dwi biasanya mengikuti pelatihan- pelatihan yang diselenggarakan beberapa perguruan tinggi. Pelatihan juga beberapa kali diselenggarakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Biologi mengundang pemateri dari perguruan tinggi. (IRE)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s