Pelajar Korban Pengaruh Ideologi

Rabu, 3 Februari 2010 | 15:11 WIB

Yogyakarta, Kompas – Pelajar rentan menjadi korban pengaruh ideologi dari kelompok- kelompok di luar lingkungan sekolah. Sejumlah pengaruh itu berpotensi menurunkan tingkat toleransi di kalangan pelajar. Untuk mencegahnya, sekolah perlu memperkuat pemahaman dan penghargaan atas berbagai perbedaan di kalangan pelajar.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi DI Yogyakarta Suwarsih Madya, Selasa (2/2). Ia menanggapi penelitian Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) Yogyakarta yang mengungkap rendahnya tingkat toleransi beragama di sejumlah SMA Negeri di Yogyakarta.

Disebutkan pula, keluhan sejumlah pelajar yang merasa tertekan dan terdiskriminasi dengan kondisi sekolah. Di satu sisi berstatus sekolah negeri, tetapi di sisi lain mengarah pada satu identitas agama tertentu.

Suwarsih mengaku belum mengetahui fenomena itu. “Namun, kalau itu terjadi, para pelajar hanya korban. Pada usia itu, pelajar sedang mencari identitas. Mereka sangat mudah dipengaruhi,” kata dia. Menurut Suwarsih, sekolah negeri harus menjaga netralitasnya.

Netralitas yang dimaksud adalah memberi kesempatan secara adil kepada semua murid mengekspresikan identitas agama, tanpa memicu keresahan.

Pasalnya, sekolah negeri merupakan lembaga pendidikan yang dibiayai pemerintah. Tanggung jawabnya pun kepada pemerintah.

Ia mengingatkan, fungsi sekolah adalah menjamin hak anak mengembangkan intelektualitas, estetika, etika, spiritual, dan agama. Oleh karena itu, diskriminasi dan tekanan tak dibenarkan. Pemasangan simbol agama di sekolah negeri diimbau dilakukan adil. “Kalau satu agama bisa memasang simbol, agama lain berkesempatan sama memasang simbol,” ujar dia. Fenomena nasional

Direktur Eksekutif Program Studi Agama dan Lintas Budaya atau Center Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM Zainal Abidin Bagir menuturkan, penelitian menunjukkan tren penguatan ekspresi identitas agama di kalangan muda dan pelajar.

Fenomena itu terjadi pada hampir seluruh wilayah Indonesia dan menguat pascakejatuhan Pemerintahan Orde Baru.

Kondisi itu menjadi masalah bila disertai diskriminasi dan tekanan. “Peningkatan ekspresi identitas keagamaan sendiri bukan hal buruk. Diskriminasi dan tekanan itu yang harus diwaspadai dan dicegah sekolah,” ujar dia.

Sekolah telah menjadi sasaran pengaruh ideologi maupun politik sejak dulu. “Di zaman Orde Baru, OSIS digunakan sebagai alat politik pemerintah. Saat ini, bisa jadi menjadi sasaran pemasaran ideologi kelompok lain,” ujar dia.

Sekolah disarankan meningkatkan kesadaran murid agar menghargai perbedaan di kalangan pelajar. Kesadaran itu juga penting bagi para guru.

Tidak saja di bidang agama, tetapi juga penghargaan atas perbedaan etnis, ras, maupun kondisi fisik. (IRE)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s