Redupnya Seni Lukis Kaca Cirebon

Sabtu, 30 Januari 2010 | 14:38 WIB

Oleh LUTFIYAH HANDAYANI

Seni lukis kaca Cirebon memang tak sepopuler kesenian tradisional lain, misalnya tari topeng atau sintren. Seni lukis kaca Cirebon merupakan warisan pemerintahan Panembahan Ratu pada abad ke-17. Sebagaimana kesenian tradisional lain, seni lukis itu diciptakan dengan tujuan masing-masing sebagai upaya pemenangan kekuasaan atau penyebaran agama. Lukisan kaca Cirebon yang menggunakan obyek gambar ayat-ayat Al Quran, hadis, dan simbol-simbol agama bertujuan untuk menyebarluaskan ajaran agama Islam.

Sebagai usaha syiar meneruskan seni dakwah Sunan Gunung Jati di tanah Jawa, seniman pada masa itu mulai membuat kerajinan tangan berbahan dasar kaca dan cat untuk lukisan. Dengan teknik melukis terbalik, mereka menyuguhkan karya seni yang bercita rasa tinggi. Dengan menentukan obyek lukisan, pelukis kaca memiliki semangat melestarikan sejarah Cirebon karena pada perkembangannya bukan hanya ayat Al Quran dan hadis yang menjadi obyek lukisan. Dari gambar Ganesha, Perang Baratayudha, sampai tokoh wayang Kresna, Arjuna, dan Rahwana juga menjadi obyek lukisan.

Seni lukis kaca Cirebon tidak memperlihatkan geliat yang cukup signifikan meski pengembangannya pernah dilakukan. Bahkan di sebuah SMA di Cirebon, seni lukis kaca menjadi salah satu praktik kesenian yang digemari setelah tari topeng Cirebon. Tolak bala

Kekuatan budaya dalam menstigma masyarakat terhadap kekuatan tradisi perlahan hampir pudar. Lukisan kaca Cirebon sebagai karya seni dan media dakwah Islam dianggap sebagai kekuatan tersendiri karena ada beberapa kepercayaan yang melekat pada seni lukis tersebut. Lukisan yang menggunakan simbol-simbol agama dan budaya sebagai obyeknya dipercaya tidak hanya menjadi hiasan rumah biasa. Namun, lukisan kaca tersebut juga digunakan sebagai penolak bala bagi pemiliknya.

Ciri khas lukisan kaca Cirebon adalah kaligrafi, wayang, dan batik Cirebon. Ada 42 jenis kaligrafi peninggalan Sunan Gunung Jati. Semua mempunyai makna dan tujuan berbeda. Contohnya adalah gambar macan Ali berupa tulisan Arab dengan lafaz dua kalimat syahadat. Kaligrafi ini bertujuan memberikan semangat atau memotivasi pemiliknya agar selalu ingat Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Adapun lukisan wayang bergambar Ganesha, dua gajah-yang satu membawa pedang dan satu lagi membawa gada-dipercaya menjaga dari kekuatan jahat. Lukisan ini biasanya dijadikan hiasan bagian depan rumah. Bagi orang yang memiliki kepercayaan terhadap dunia pewayangan, mereka bisa memesan lukisan kaca berdasarkan hari lahir (weton).

Karakter wayang akan disesuaikan dengan hari weton atau kelahiran si pemesan, misalnya tokoh Arjuna (Senin), Bima (Selasa), Semar (Rabu), Hanoman (Kamis), Prabu Kresna (Jumat), Baladewa (Jumat), dan Yudistira (Minggu). Masing-masing membawa sifat dan kepribadian berbeda yang diharapkan membawa pengaruh baik bagi pemilik lukisan apabila pesanannya berdasarkan rambu-rambu weton. Sebagian besar pelukis kaca Cirebon pernah melakukan pembersihan diri agar karya lukisannya mempunyai nilai-nilai yang lebih dari sekadar lukisan.

Pangsa pasar

Kepercayaan tersebut, entah sebagai propaganda atau apa pun, telah menjadikan lukisan kaca Cirebon sebagai primadona bagi masyarakatnya. Kini keberadaan seni lukis kaca Cirebon tidak banyak diperhatikan. Sebagai kekuatan lokal, seni lukis kaca Cirebon baru digunakan sebagai proyek kebudayaan untuk pengembangan usaha lokal yang setengah hati.

Keberadaan seni lukis kaca sama halnya dengan kesenian tradisional lain, yaitu dibiarkan hidup sendiri dengan perkembangan ala kadarnya. Atau, bisa jadi kesenian itu pura-pura diperhatikan dengan diikutsertakan pada pameran kebudayaan yang diselenggarakan pemerintah sewaktu-waktu, bukan pasar sesungguhnya.

Belum terbukanya pasar seni lukis kaca Cirebon menjadi kendala klasik bagi pemasaran produk etnik di daerah itu. Diperlukan keterlibatan pemerintah dalam mempromosikan produk kebudayaan tersebut. Pembinaan yang intensif hanyalah impian bagi perajin lukisan kaca. Hal itu terlihat dari sentra seni lukis kaca Cirebon yang berada di pinggiran bantaran Sungai Sukalila, Kota Cirebon, dengan kios-kios bambu sederhana.

Tampaknya Pemerintah Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon harus mulai memikirkan keberadaan seni lukis kaca Cirebon, bukan sekedar untuk keberlangsungan tradisinya sebagai simbol kebudayaan. Akan tetapi, sebagai keterampilan, seni lukis kaca Cirebon juga mampu meneguhkan identitas masyarakat di tengah terpaan arus global dan bisa dijadikan media untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan seni lukis kaca Cirebon menjanjikan kesejahteraan ekonomi.

Penghargaan terhadap kreativitas perajin seni lukis kaca Cirebon, melalui apresiasi yang baik dari pemerintah, berupa pameran khusus untuk membantu memasarkan hasil seni lukis kaca. Selama ini konsumen seni lukis kaca hanyalah kalangan tertentu. Jika produksi seni lukis kaca dilakukan secara massal, hal itu memungkinkan khalayak untuk membelinya dengan harga terjangkau karena pemerintah memberikan subsidi bahan dasar, misalnya.

Perajin seni lukis kaca dalam proses industrialisasi produk akan mendapatkan hasil baik dengan perhatian yang cukup dari pemerintah. Jadi, popularitas seni lukis kaca Cirebon akan berkembang. Kita juga dapat meneguhkan warisan leluhur melalui tradisi seni lukis kaca dan membuktikan bahwa kebudayaan mampu menghidupi masyarakat yang meneguhkannya.
LUTFIYAH HANDAYANI Penulis; Pegiat Lingkar Studi Sastra Cirebon

Iklan

4 thoughts on “Redupnya Seni Lukis Kaca Cirebon

    • Terima kasih bu, wacana yang patut dipikirkan tidak hanya oleh pemerintah. tetapi seluruh warga masyarakat cirebon jika tidak ingin warisan peninggalan seni dan budaya asli cirebonnya punah 🙂

  1. Yth. Admin
    Memang kenyataannya demikian bagi Pelukis Kaca yang belum mempunyai “Nama Besar”, kesulitan yang paling mendasar adalah Pemasaran. Tetapi masih ada satu atau dua Pelukis Kaca lain yang mampu merasakan nikmatnya berolah seni lukis kaca, contohnya Toto Sunu. Hanya saja karena masalah teknik dan penuangan desain, yang mampu membedakan mana Lukisan berbobot dan bernilai jutaan dengan lukisan kaca dengan nilai lebih rendah. Itulah makanya seorang Pelukis Kaca dituntut untuk terus meningkatkan kualitas dan diversifikasi produk yang berorientasi pasar.
    Dan saya yakin benar, Lukisan Kaca akan tetap seperti adanya jika tidak segera melakukan perubahan untuk meraih pangsa pasar.
    Demikian. terima kasih

  2. Kurangnya Promosi yg gencar dan tempat sejenis Show Room produk Seni Cirebon ini yg membuat orang lupa bahkan tdk begitu mengenal,jgnkan org diluar cirebon anak muda di Cirebonya saja 70% tidak tahu keberadaan Seni lukis kaca ini,mari buat perubahan pola jual Seni Cirebon ini,seolah Cirebon Kota Seni dan Budaya yg harus diakui tak dikenal luas Seni budayanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s