Pendidikan Membebaskan, Bukan Membelenggu

Sabtu, 30 Januari 2010 | 14:39 WIB

Pelajaran menari di Pendapa Taman Siswa, Kamis (28/1) pagi, diwarnai isak tangis Nimas Fitriana Hasti (15). Dengan tersendat- sendat, pelajar kelas IX SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Taman Siswa Yogyakarta itu bercerita sepenggal kisah yang menginspirasinya membuat tarian yang dibawakannya. Kisah ini tentang ibunya sendiri yang terpaksa mengurus keluarga seorang diri sepeninggal ayah yang hingga kini tak tentu rimbanya.

Masih berhiaskan selendang merah, remaja tanggung berusaha keras menenangkan diri. Dikatupkan kedua belah tangan ke wajah di sela- sela hiburan tiga kawannya. “Ayah saya tentara yang dikirim ke Aceh, tapi sudah beberapa tahun ini tak ada kabarnya. Sejak itu, tinggal ibu saya yang harus bekerja sambil mengurus saya dan dua kakak,” tuturnya.

Masih beruntung, ibu Nimas mempunyai pekerjaan yang cukup “aman”, yaitu sebagai pegawai negeri sipil di sebuah lembaga pemerintahan. Meskipun demikian, kerja keras ibunya setiap hari dalam merawat keluarga telah menimbulkan perasaan haru dan bangga pada dirinya.

Rasa haru dan bangga itu tertuang dalam tarian yang dia dan tiga kawannya ciptakan untuk memenuhi tugas akhir pelajaran menari. Diiringi gamelan berjudul Bondan, empat remaja itu memperlihatkan berbagai kegiatan ibu rumah tangga mulai mencuci, menjemur, menimang, dan menyuapi bayi. Masing-masing mempunyai kesan mendalam atas kiprah ibu mengurus keluarga.

Masih di ruang terbuka Pendapa Taman Siswa yang sejuk oleh angin, kelompok lain tengah melatih tarian Menyambut Putri. “Kami mengambil dari kehidupan sehari-hari saja karena kami, kan, punya banyak teman perempuan,” kata lima pelajar yang harus menghadapi ujian nasional (UN) kurang dari dua bulan lagi itu bersahutan.

Tak terlihat rasa tegang akibat persiapan UN di wajah mereka. Padahal, siang itu merupakan hari terakhir ujian latihan UN yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Di tengah ketegangan mempersiapkan UN, belasan remaja putri berhiaskan selendang dan kipas berwarna mencolok ini seolah menemukan oase kebebasan dalam pelajaran menari.

Mereka mencoba menerjemahkan pengalaman hidup dan perasaan dalam olah gerak dan olah rasa. Melupakan sejenak, kewajiban menghafal pelajaran. “Sebenarnya stres juga, tapi kalau pelajaran menari, stresnya jadi lupa sedikit,” kata Ambarwati (15), salah seorang pelajar itu.

Membebaskan

Dalam pelajaran menari tersebut, setiap pelajar wajib membuat koreografi tarian tradisional sebagai tugas akhirnya. Tugas ini seolah menjadi ruang kemerdekaan berekspresi bagi para pelajar. Mereka mengambil pengalaman hidupnya untuk diterjemahkan dalam tarian. “Mereka bebas memilih tema. Umumnya tema-tema yang akrab dengan mereka,” ujar Kristanti Purnamaningrum (24), guru menari.

Berbeda dengan kebanyakan sekolah lain yang menerapkan pelajaran menari sebagai ekstrakurikuler, Taman Siswa memberlakukannya sebagai muatan lokal. Dari hal yang kecil ini, setidaknya tergambar ajaran Ki Hajar Dewantara masih berusaha dipegang teguh oleh lembaga pendidikan yang dirintisnya.

“Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan bukan belenggu, tapi merupakan pembebasan. Pelajaran menari dan seni budaya merupakan tempat anak mengekspresikan diri dan mengasah bakat, tidak melulu menghafal materi,” kata Kepala SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Taman Siswa Yogyakarta Tri Widiyanto.

Karena itu, ujar Tri, Taman Siswa selalu menolak konsep UN yang dianggap hanya melihat kemampuan kognisi pelajar. Padahal, UN hanya mengukur kemampuan kognitif dan teoretis para pelajar. Bakat seni, olahraga, maupun keterampilan tak pernah tercantum dalam nilai akhirnya. Inilah bentuk pendidikan yang hanya membuat anak mampu menghafal dan menghitung, layaknya sebuah komputer.

Dalam Among System, Ki Hajar percaya, pendidikan adalah mendidik anak untuk menanggapi dan mengolah pengalaman pribadinya dalam sebuah aktualisasi diri, baik dalam seni, budaya, maupun bidang keilmuan. Pendidikan juga mengembangkan masing-masing anak sesuai dengan potensi masing-masing, bukan hanya mengukur kemampuan kognisi.

Berpuluh-puluh tahun berdiri tegar, Pendapa Taman Siswa masih menjadi saksi proses pendidikan yang menentang arus zaman. Bila Ki Hajar dulu menentang penjajah, Perguruan Taman Siswa kini menghadapi tren pendidikan yang semakin membelenggu anak. Hal ini bukannya tantangan. Berbagai sekolah Taman Siswa saat ini harus berjuang mempertahankan diri. Banyak pihak berharap, Pendapa Taman Siswa akan tetap tegar bertahan hingga puluhan tahun ke depan. (IRE)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s