“Kejamnya” Pendidikan Zaman Dulu

Rabu, 27 Januari 2010 | 13:27 WIB

Tri Hartati (47) masih ingat apa saja yang dibawanya dalam tas saat duduk di bangku sekolah dasar. Sebuah sabak, beberapa kapur, dan kain gombal atau kain bekas.

“Kalau ketemu guru, mengucapkan selamat pagi. Jalan di depan guru, nunduk. Guru-guru saya galak. Kalau tidak membuat pekerjaan rumah, saya dimarahi atau disetrap (berdiri di kelas) dan membersihkan toilet,” ujar Tri, sembari tertawa.

Kenangan terhadap sabak-alat tulis zaman dulu berupa papan tulis kecil dengan bingkai kayu-menyeruak benak Tri ketika melihat Pameran Pendidikan Tempo Doeloe, pekan lalu di SLB Pembina, Yogyakarta.

Tri sebenarnya hanya mengalami masa “sabak” selama dua tahun, yakni ketika duduk di kelas I dan II SD Panembahan, Yogyakarta. Menginjak kelas III, era buku tulis dan pensil sudah masuk. Namun, sabak tetap diingat karena selalu membuatnya tertawa geli. Juga masa- masa ketika ia telanjang kaki saat sekolah.

Wanita yang sekarang mengajar di SLB Darma Rena Ring Putra Yogyakarta ini mengakui, dulu, para guru “cukup otoriter” dalam mengajar. Karena itulah, murid-murid jadi patuh. Anehnya, Tri tak dendam kepada guru, bahkan sayang. Ia masih hafal wajah guru-guru yang pernah mengajarnya.

Apa yang dikatakan Tri, walaupun singkat, memberi gambaran sistem pendidikan zaman dulu. Pameran di SLB Pembina yang diselenggarakan Museum Anak Kolong Tangga bersama Dinas Pendidikan DIY 18-23 Januari itu mengajak benak menelusuri “keunikan” pendidikan zaman dulu di penjuru dunia.

Selain beberapa sabak, ada juga rapor berbahasa Belanda milik siswa di Yogyakarta tahun 1938 atau 1939. Ada juga aneka buku bacaan dan pelajaran bagi siswa SD yang ditulis bersama oleh orang pribumi dan Belanda. Misalnya, buku berjudul Gelis Pinter Matja karangan R Wignjadisastra dan A Van Dijck yang diterbitkan tahun 1933.

Lewat buku-buku itu tecermin bagaimana Indonesia dijajah Belanda. Semakin kentara hal itu jika mencermati gambar ilustrasi dari buku sekolah berbahasa Belanda. Seorang guru Belanda sedang mengajar sejumlah murid pribumi. Sang guru mengenakan sepatu, para murid nyeker, telanjang kaki.

Bagaimana dengan negara lain? Ternyata setali tiga uang. Pelukis Belanda, Jan Steen, tahun 1665 melukis seorang anak yang hendak dipukul gurunya dengan plak karena tulisannya buruk. Plak merupakan alat seperti tongkat kayu. Dalam ilustrasi sebuah buku berbahasa Belanda, seorang murid digambarkan sedang dipukul pantatnya oleh guru. Tersemat tulisan di sana, yang artinya “guru adalah tirani”.

Sama seperti Indonesia, China juga mengalami “penjajahan” dalam bidang pendidikan. Lembaran kertas yang berisi deretan kalimat berbahasa Inggris bersanding dengan terjemahannya dalam huruf China. Kertas keluaran tahun 1943 itu diedarkan di Hollywood.

“Dulu, orang-orang China yang tinggal di Hollywood diharuskan bisa berbahasa Inggris,” ujar Astuti Kusumaningrum, Sekretaris Yayasan Dunia Damai yang menaungi Museum Anak Kolong.

Menjelajah pendidikan tempo dulu tak hanya menyiratkan hal suram karena banyak pula keasyikan. Misalnya, mencermati alat-alat tulis yang dipakai. Salah satunya dypticon, alat tulis Yunani berupa kotak yang diisi penuh dengan lilin. Walau hanya replika, itu sudah cukup. Ada juga kotak mainan dari kayu hingga rautan bergambar wajah kartun.

Wajah pendidikan dari zaman ke zaman terentang lewat puluhan teks, foto, buku, dan lukisan koleksi Museum Anak Kolong Tangga ini. Pendidikan zaman dulu tak seindah dan secanggih sekarang. Namun, hasilnya tidak lagi diragukan. Sejarah telah mencatat. (PRA)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s