“Wis Tua Belajar Bae gen Nganggo Apa?”

Selasa, 26 Januari 2010 | 13:33 WIB

Siapa pun berhak mendapatkan pendidikan. Mulai anak-anak yang masih suka ngompol sampai nini-nini yang giginya tinggal dua pun berhak mengenyam pendidikan dasar. Namun, apa manfaatnya bagi mereka?

Meski angka buta huruf di Kabupaten Cirebon kurang dari 4 persen, tak sedikit warganya belum bisa membaca, menulis, dan berhitung. Kebanyakan dari mereka berusia 40 tahun ke atas dan dulu tidak sempat bersekolah karena alasan ekonomi. Sebagian dari mereka pun telah ikut program pemberantasan buta huruf, seperti keaksaraan fungsional (KF), khusus bagi warga lanjut usia yang tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Mereka belajar dari mengeja kata, membaca kalimat, menulis huruf dan kata, sampai belajar berhitung. Seperti di Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, ada 18 kelompok KF yang tersebar di sejumlah desa. “Paling susah mengajari mereka menulis daripada membaca. Maklum, penglihatan mereka tidak bagus lagi,” kata Ahmad Jaeni (32), pengajar pada program KF dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Argo Jati, Desa Pangarengan, Kecamatan Pangenan, Senin (25/1).

Program KF di Kabupaten Cirebon berjalan selama enam bulan, Juli-Desember 2009. Di Desa Pangarengan ada delapan kelompok yang masing-masing diikuti 10 warga belajar. Semua pesertanya adalah ibu-ibu istri nelayan yang pekerjaan setiap harinya sebagai pengupas kulit rajungan. Dari tiap kelompok, tidak semua buta huruf. Ada di antaranya yang sudah bisa membaca, tetapi tidak lancar.

Pencampuran ini sengaja dilakukan agar warga belajar tidak merasa malu belajar atau minder. Sebab, kecenderungannya, mereka lebih senang bertanya kepada teman belajarnya daripada kepada pengajar. Tak sedikit yang kerap merasa waswas saat ditunjuk untuk membaca. “Dari wajah mereka saya bisa melihat kalau mereka deg-degan kalau diminta membaca,” ujar Ahmad. Harus telaten

Ahmad mengaku, selain harus telaten, pengajar juga harus bermental baja untuk merespons perilaku warga belajarnya. Perasaan sensitif karena malu tidak bisa membaca kerap muncul jika pengajar tidak hati-hati mengajari mereka. Mereka malu jika “diejek” di hadapan sesama warga belajar. Sayang, tidak semua pengajar memahami karakter warga belajarnya.

Selain itu, sebagian warga belajar merasa pendidikannya di program KF tidak bermanfaat untuk hidupnya sehari-hari. Akibatnya, mereka malas-malasan. Sering kali terlontar kalimat, “Wis tua belajar bae gen nganggo apa (sudah tua belajar aja untuk apa)?” dari beberapa warga belajar. Bahkan mereka menyebut diri mereka “taman kaplak-kaplak (tua-tua)”, pelesetan dari taman kanak-kanak, sebagai bahan guyonan saat belajar.

Warga belajar yang sudah beranak cucu ini pun menyadari, pendidikan penting bagi anak cucunya. Sebab, saat ini sejumlah pabrik di dekat desa mensyaratkan pendidikan minimal setara SMA untuk bisa diterima bekerja. Jadi, tidak ada salahnya belajar saat usia sudah senja karena belajar tak mengenal usia. (Timbuktu Harthana)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s