Mengembalikan Anak ke Akarnya

Senin, 25 Januari 2010 | 13:48 WIB

Abdoel Moeis dalam romannya, Salah Asuhan, berpesan, tak ada guna seseorang berilmu tinggi bila melupakan budayanya sendiri. Semangat inilah yang tecermin dalam buku seri Pendidikan Pusaka untuk Anak yang diluncurkan di Yogyakarta, Sabtu (23/1).

Tema yang diangkat dalam 21 judul buku itu sederhana dan akrab dengan keseharian warga Yogyakarta. Penulisnya para guru 13 SD yang jeli mengamati kekayaan budaya di sekitar sekolahan. Hasilnya, Gumbregan, bakpia, tiwul, geplak, tempe, dakon, Tamansiswa, Selokan Mataram, dan gobag sodor jadi bahan menarik.

Mengambil cerita binatang (fabel), Gumbregan, misalnya, berkisah mengenai ritual syukuran warga Desa Selang, Gunung Kidul. Ritual diceritakan ternak Pak Muji kepada unta yang dibawa dari Arab Saudi. Di kandang yang nyaman, sapi, kerbau, dan kambing Gunung Kidul berkisah tentang ritual Gumbregan kepada unta.

Ritual Gumbregan merupakan bentuk ucapan terima kasih atas berfungsinya alat-alat pertanian, hasil ternak, dan hasil pertanian. Dalam ritual ini, terdapat sekitar 10 santapan. Di antaranya jadah woran (simbol agar manusia tak lupa bersyukur), brokohan (umbi- umbian adalah berkah Tuhan saat paceklik), dan kupat luar (lambang permintaan maaf manusia kepada hewan ternak yang telah dipekerjakan di ladang).

Bahasanya sederhana disertai gambar penuh warna sesuai sasaran, anak-anak sekolah dasar. Meskipun sederhana, cerita-ceritanya mengungkap nilai budaya dan sejarah yang terkandung dalam setiap tema.

Dalam Kipo, diperkenalkan makanan khas Kotagede yang terbuat dari tepung ketan berisi gula merah dan dipanggang di anglo (tungku tradisional). Kipo makanan kesukaan raja yang kini makin sulit dijumpai.

Di balik tema-tema yang terkesan remeh-temeh ini, tersembunyi kekayaan budaya dan makna dari setiap tema. Nilai budaya dan makna itu menjadi benang merah dalam seri buku terbitan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia dan Erfgoed Nederland itu. Tiap seri dicetak 1.000 eksemplar dan akan dibagikan ke sejumlah sekolah.

“Nilai-nilai ini makin tidak dikenal anak-anak sekarang karenanya perlu dikenalkan lagi,” kata anggota BPPI, Anggi Minarni.

Di balik semangat itu, tersembunyi keprihatinan. Anak-anak sekarang makin mahir berbahasa asing. Wawasan mengenai dunia makin luas. Akan tetapi, banyak dari mereka makin tidak mengenal lingkungannya.

Ibarat pohon, tanpa mengakar, bagaimana akan berbuah? Karena itulah, buku-buku ini diterbitkan untuk mengembalikan anak-anak ke akarnya. Tentu saja agar kelak berbuah. (IRE) “Karena itulah, buku-buku ini diterbitkan untuk mengembalikan anak- anak ke akarnya. Tentu saja agar kelak berbuah.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s