UN Memberi Tekanan Psikologis bagi Guru

Jumat, 22 Januari 2010 | 11:14 WIB

Bandung, Kompas – Dimajukannya jadwal ujian nasional (UN) tidak hanya memberi tekanan psikologis kepada siswa, tetapi juga kepada guru. Mereka terpaksa harus menerapkan sistem belajar instan yang sebetulnya tidak sesuai pola pengajaran ataupun hati nurani.

“Dengan kondisi ini (UN dimajukan), kami, para guru, dituntut mengajar dengan cara cepat. Ini dilema bagi kami. Di lain sisi, kami sadari, belajar Matematika tidak mungkin bisa efektif dengan cara cepat sebab harus lewat proses,” tutur Helmi Yati, guru Matematika dari Kuningan, Kamis (21/1).

Keberadaan UN sebagai penentu kelulusan memaksa pemangku kepentingan di sekolah, termasuk guru, menyesuaikan diri, di antaranya, dengan menerapkan pola pembelajaran instan yang hanya fokus pada latihan soal. Jika sekolah tidak bisa memberikan pengajaran cepat, lembaga bimbingan belajar yang akan mengambil perannya.

“Tidak heran sekarang bimbingan belajar menjamur di mana-mana. Siswa-siswa lari ke sana,” tutur Yati. Ia pun semakin miris melihat kenyataan munculnya tim-tim sukses di sekolah dan kabupaten, termasuk di daerahnya, yang terpaksa nekat melakukan kecurangan semata demi sukses UN.

“Proses sekali lagi diabaikan. Kejujuran sudah tidak lagi ada. Ini sungguh disayangkan mengingat dalam Undang-Undang Sisdiknas disebutkan, salah satu tujuan terpenting pendidikan nasional adalah membangun insan cerdas dan berakhlak. Tidak sekadar cerdas,” ucapnya. Enung Sumarni, guru SMPN 44 Kota Bandung, merasakan kerisauan sama. Sebagai pengajar, ia merasakan, UN sesungguhnya tidak tepat. “Ujian yang hanya dalam dua jam sangat menentukan ketimbang praktik ujian-ujian di lapangan. Padahal, proses ini penting,” tuturnya.

Persiapan guru dan siswa menghadapi UN praktis hanya tersisa dua bulan. UN 2010 tingkat SMA dan sederajat dilaksanakan pada 22-26 Maret atau lebih cepat sebulan dari tahun lalu.

Hal ini dilakukan untuk memberikan kesempatan bagi siswa yang tidak lulus guna mengikuti ujian remedial pada 10-14 Mei 2010. Ujian remedial ini baru dilakukan mulai 2010. Sementara itu, ujian tingkat SMP/MTs dilaksanakan 29 Maret-April, dengan ujian remedial 17-20 Mei.

Pemecahan masalah

Didi Suryadi, pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, mengatakan, cara belajar instan yang termasuk direpresentasikan lewat UN sebetulnya tidak baik bagi siswa. “Di Jepang, kreativitas diutamakan. Inilah modal penting bagi hidup. Tidak masalah soal waktu yang butuh lebih lama,” ucapnya.

Menurut dia, UN hanya mengukur kemampuan jangka pendek siswa, yaitu aspek kognitif semata. Padahal, tren pendidikan global saat ini justru mengesampingkan aspek kognitif. Hal yang jauh lebih penting ialah kemampuan memecahkan masalah dan menganalisis.

Sayangnya, kemampuan ini justru tidak diasah di Tanah Air. Di Singapura, ia membandingkan, fokus kurikulum justru adalah problem solving yang menekankan konsep, metakognisi, dan aspek afektif. Jadi, tidak mendewakan kognisi atau ilmu pengetahuan semata.

“Saat saya tanya ke profesor di sana, mengapa kebijakannya seperti itu, ia menjawab sebab kami tidak bisa mengandalkan kekayaan alam. Bagi kami satu pohon saja sangat berharga. Satu-satunya yang bisa kami andalkan adalah manusia. Kemampuan pemecahan masalah dibutuhkan supaya anak-anak bisa memecahkan tantangannya sendiri dan beradaptasi,” ujar Didi. (jon)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s