Bikin Belajar Jadi Nikmat

Jumat, 22 Januari 2010 | 05:56 WIB

”Belajar itu ngebosenin! Nyiksa!” Kata-kata itu kerap keluar dari para mudaers. Benarkah? Dari pengamatan dan menurut pencarian informasi yang kami lakukan, sekitar 90 persen pelajar mengatakan ”ya” sebagai jawabannya.

Ini memang bukan hal baru. Banyak pelajar mengaku, belajar itu saat yang sungguh menyiksa. Bahkan, ada pelajar yang sampai mogok sekolah atau pura-pura sakit biar enggak mesti belajar. Ini memprihatinkan, lha pelajar yang seharusnya belajar malah enggak punya kemauan buat belajar.

Faktor dominan mengapa belajar menjadi siksaan itu karena kepribadian masing-masing orang. Setiap pelajar punya kepribadian yang beragam dan unik antara satu dan yang lain. Hal ini memengaruhi proses belajar mereka.

Ada pelajar yang punya konsentrasi tinggi sehingga saat menyerap pelajaran di kelas, mereka sama tak terpengaruh situasi yang dapat mengganggu konsentrasi seperti suara mobil. Tentu saja, mereka dapat menyerap pelajaran dengan baik.

Namun, sebagian pelajar ada yang terpecah konsentrasinya jika ada gangguan sedikit saja. Mereka tidak dapat menyerap pelajaran dengan baik. Hal ini juga memengaruhi kesukaan mereka terhadap pelajaran-pelajaran di sekolah.

Misalnya, ada yang menyukai pelajaran olahraga karena lebih banyak praktik dibanding teori. Mereka senang karena tak perlu waktu lama untuk belajar teori.

Kepribadian

Menurut e-dukasi.net, ada tiga macam kepribadian pelajar, yaitu visual, kinestetik, dan auditori. Kepribadian ini memengaruhi cara belajar dan penyerapan dalam proses belajar-mengajar seseorang.

Tipe pelajar visual biasanya belajar dengan membolak-balik buku sambil dihafalkan. Dengan membolak-balik buku, mereka bisa ingat jawaban yang dicari ada di halaman berapa, letaknya di mana, dan kapan mereka membacanya. Catatan mereka umumnya banyak hiasan demi memanjakan mata mereka.

Tipe pelajar kinestetik umumnya mengandalkan pergerakan dari orang lain untuk memberi penjelasan. Artinya, orang ini kalau belajar harus benar-benar fokus melihat dan mendengar pelajaran yang sedang diterangkan, terutama saat guru mengajar di depan kelas. Mereka bisa dengan mudah mengingat cara guru menjelaskan pelajaran, nada bicaranya, gerak tangannya, sampai bagaimana tulisannya. Semua bisa mereka ingat asal saat itu fokusnya tepat.

Tipe pelajar auditori biasanya mereka belajar sambil mendengarkan musik, atau harus mengucapkan apa yang dibaca berkali-kali. Berisik sih memang, tapi kalau enggak begitu, mereka merasa pelajaran enggak masuk ke otak.

Faktor lain

Selain kepribadian para pelajar sendiri, ada lagi faktor lain yang menyebabkan pelajaran itu tak menyenangkan dan menjadi beban, antara lain guru yang ”killer” alias galak banget. Menghadapi ini, sebagian pelajar bisa merasa pelajaran itu enggak penting dan membosankan.

Selain itu, jika kepribadian mereka berbeda dengan cara mereka belajar, dijamin pelajaran akan menjadi siksaan besar. Sebab, apa yang mereka pelajari tidak bisa masuk dengan tepat.

Paksaan dari orangtua juga bisa membuat belajar menjadi beban. Mereka jadi takut dimarahi. Telepon genggam dan komputer juga dapat mengganggu konsentrasi belajar kita. Selain juga tak adanya kemauan dari diri sendiri alias malas.

Karena ”tersiksa” saat harus belajar, mereka lalu melakukan pelarian. Pelarian ini bisa ke berbagai arah, ada yang positif dan ada yang negatif. Contoh pelarian positif, mereka mencari solusi baru untuk belajar agar tak bosan, atau mereka melakukan kegiatan untuk relaks sejenak dari kejenuhan belajar seperti outbound, mengobrol.

Nah, yang berbahaya adalah pelarian yang negatif. Mereka dapat lari ke drugs, pergaulan bebas, dan hal lain yang merusak masa depan diri sendiri. Sebagian dari mereka tak menyadari efek buruk dari pelarian negatif yang dilakukan.

Jalan keluar

Solusi untuk membuat pelajaran jadi fun adalah dengan lebih mengenali diri sendiri. Dengan begitu, kita dapat memilih cara belajar yang paling efektif dan tidak ”menyiksa” diri.

Melakukan refleksi bareng orangtua juga sangat berguna. Misalnya, kita ajak orangtua mengobrol, lalu kemukakan apa yang kita rasakan atau terpendam selama ini, mulai dari masalah pribadi sampai halangan dalam belajar.

Selain mereka mengerti, syukur-syukur bisa kasih solusi, seenggaknya hubungan kita dengan orangtua jadi makin dekat. Jadi, Pelajaran > FUN? Why not?

Tim SMA Regina Pacis Jakarta, Kelas X-1: Angela Karenina, Andy Muliorahardjo, Reza Putra Santoso, Pricilia Vibrani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s