Dana Persiapan UN

Sabtu, 16 Januari 2010 | 03:01 WIB

Medan, Kompas – Pihak sekolah membebani biaya tambahan siswa untuk persiapan ujian nasional. Biaya ini dipakai untuk operasional les tambahan guna mengejar ujian yang dipercepat. Namun, sebagian orangtua keberatan dengan pemberlakuan biaya tambahan itu.

”Biaya ini memberatkan kami karena harus membayar Rp 300.000 per mata pelajaran (dari lima yang diujikan). Saya belum membayarnya. Saya akan mengirim surat keberatan ke Dinas Pendidikan dan Menteri Pendidikan Nasional,” tutur orangtua siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Santo Thomas I Medan, Albon Sidahuruk, Jumat (15/1) di Medan.

Albon mengatakan, permintaan biaya tambahan dari sekolah disampaikan melalui surat edaran pada Desember lalu. Dia mengaku biaya bulanan kepada sekolah senilai Rp 400.000 sudah cukup besar.

”Mengapa sekolah masih memungut biaya tambahan lagi kepada siswa. Jika ada dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), dana ini bisa dimanfaatkan,” katanya.

Dia meminta pihak sekolah fair dan tidak mengomersialkan UN. Jika pihak sekolah memungut biaya kepada siswa untuk les tambahan, seharusnya sekolah tak memungut biaya bulanan untuk April, Mei, dan Juni.

”Pada bulan ini, tidak ada jam pelajaran tambahan lagi ke siswa. Mereka harus mengembalikan dana ini kepada siswa,” katanya.

Kepala SMP Santo Thomas I Medan R Sinambela mengatakan, dana ini sudah berlaku pada tahun sebelumnya. Sekolah-sekolah di bawah Yayasan Don Bosco juga memberlakukan dana tambahan yang sama. Dana Rp 300.000 per mata pelajaran ini, tuturnya, untuk kepentingan les tambahan. Les tambahan diberikan pada lima mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Biologi, dan Matematika.

Les tambahan ini, katanya, akan berlangsung tiga bulan setelah jam pelajaran reguler. Dana ini dipakai untuk membiayai honor para guru, pegawai sekolah, dan penggandaan soal. Selain les, pihak sekolah juga menggelar uji coba dan ujian prasekolah.

Sementara itu, Sekretaris Komite Sekolah Menengah Pertama (SMP) 11 Medan Adi Munasip mengaku belum tahu ada biaya tambahan di sekolahnya. Pihak sekolah belum mengomunikasikan soal ini kepadanya. Dia meminta penyelenggara UN tidak menjadikan agenda ini sebagai ajang bisnis.

Sorotan

Biaya tambahan yang dikenakan kepada siswa mendapat sorotan masyarakat. Ketua Dewan Pendidikan Kota Medan Mutsyuhito Solin mengatakan, pembebanan biaya tambahan ini tidak perlu dilakukan. UN sudah dibiayai negara melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Dia mempertanyakan pembebanan biaya tambahan oleh sekolah kepada siswa. Menurut dia, pembebanan biaya tambahan ini mengada-ada. Memberikan pelajaran kepada siswa merupakan kewajiban guru terhadap siswa sampai materi selesai. ”Alasan percepatan UN bukan alasan yang tepat,” katanya.

Menurut dia, Dinas Pendidikan Medan harus turun tangan memantau persoalan ini. Pihak sekolah harus menjelaskan biaya tambahan dengan alasan UN dipercepat ke Dinas Pendidikan. Jangan sampai, tuturnya, konsentrasi siswa pecah lantaran persoalan ini. (NDY)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s