Kota Perpustakaan, Buku, dan Membaca

Rabu, 30 Desember 2009 | 16:38 WIB

Oleh Dody Wisnu Pribadi

Setelah perkembangannya yang luar biasa beberapa tahun terakhir ini, Perpustakaan Kota Malang (PKM) sudah disisihkan dari perlombaan perpustakaan secara nasional karena pasti menang dan membuat perpustakaan lain tak bisa bersaing. Hampir semua perpustakaan umum se-Indonesia sudah melakukan kunjungan kerja, studi banding, bahkan kerja magang, kecuali dari Papua dan NTT.

Dengan jumlah koleksi 130.000 buku, jumlah anggota aktif 41.000 orang, dan jumlah pengunjung 1.000 orang per hari kerja dan melonjak 2.000 orang per hari pada Sabtu dan Minggu, PKM inilah perpustakaan umum sebuah kota di Indonesia yang paling banyak dikunjungi.

Bahkan dibanding Perpustakaan Nasional di Jakarta sekalipun, jumlah pengunjungnya tak sampai 200 orang per hari. “Jumlah pengunjung kami hanya kalah dengan jumlah pengunjung rumah sakit atau mal,” kata HM Jemianto, Kepala Perpustakaan Kota Malang setengah bergurau.

Apalagi, tidak ada daya tarik lain di kompleks gedung perpustakaan ini. Tidak ada plasa, mal, pasar, atau bangunan menarik lainnya. Orang yang datang ke PKM hanya memiliki keperluan berkunjung ke perpustakaan. Tanpa mengurangi hormat kepada pengelola perpustakaan umum lain se-Indonesia, fenomena menggejalanya PKM sangat boleh jadi secara nasional hanya terjadi di Malang.

Jemianto, tentu bersama 42 karyawan PKM, ada di balik seluruh sukses itu, semenjak gedung perpustakaan direnovasi tahun 2002-2003, dan menjadi pusat kunjungan masyarakat terpenting di Kota Malang. Tentu yang amat penting disebut peran Wali Kota Malang Peni Soeparto, yang membangun visi PKM ini.

“Beliau pula yang menggagas membesarkan biaya renovasi dari perpustakaan yang sepi, menjadi seramai sekarang, dari semula Rp 2,7 miliar menjadi lebih Rp 5 miliar tahun 2004,” katanya.

Kini PKM memiliki ruang seluas 10.000 m2, tiga lantai termasuk aula besar yang sudah menjadi tempat menghelat berbagai acara talk show dengan kehadiran narasumber sekelas Permaisuri Raja Jawa Gusti Kanjeng Ratu Hemas, penulis Dewi Lestari, hingga produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Reza.

Patut ditambahkan, para seniman dan budayawan sekaliber Soenaryo, pemilik galeri “Selasar Soenaryo” di Bandung, atau Romo Sindhunata, pastor dan budayawan yang amat produktif menulis buku. Ini karena PKM juga memiliki sarana ruang pamer, yang bisa jadi satu-satunya yang representatif di Kota Malang, bernama “Anjungan Ken Arok”.

Sepanjang tahun 2009 ini saja, sudah ada 119 pameran seni rupa di anjungan ini. Tahun 2010, jadwal sudah padat hingga April 2010. Ini belum termasuk pameran buku nasional, yang mencapai tiga kali setahun. “Penjualan buku di pameran PKM, bahkan melebihi nilai penjualan pameran yang sama di Surabaya dan Bandung,” tutur Jemianto.

Ia menilai, Kota Malang bukannya sepi dari perpustakaan lain selain PKM. Sebab di Malang ada tiga PTN besar, dengan jumlah mahasiswa masing-masing belasan ribu hingga lebih dari 20.000. Masing- masing memiliki perpustakaan yang tidak sepele, juga maju teknologi informasi dan jumlah keanggotaannya. Ini belum menghitung PTS, yang memiliki fasilitas perpustakaan amat maju.

Ini menjadikan Kota Malang, menurut pendapat Jemianto, layak disebut sebagai Kota Perpustakaan. Mungkin kata yang lebih tepat adalah Kota Buku. Atau, demi membangun pemahaman yang lebih mendasar, Kota Malang patut memproklamirkan dirinya sebagai Kota Membaca.

Kota dengan budaya baca yang entah disadari warganya entah tidak sangat kuat, sehingga komunitas baca dan tulis tumbuh subur. Penjelasan lebih lanjutnya tentu berhubungan dengan posisi Kota Malang sebagai kota lokasi perguruan tinggi selama ini yang jumlahnya mencapai lebih seratusan lembaga dalam berbagai kategori, mulai lembaga kursus hingga universitas.

Jemianto sebagai kepala perustakaan mengaku sudah pula membandingkan pengelolaan buku dan keanggotaan PKM dengan kota-kota lain di dunia.

Di antara yang terbaik di dunia adalah Singapura, yang memiliki sistem pengelolaan buku 100 persen swalayan. Di mana peminjam bisa mengembalikan buku 24 jam, lewat mesin-mesin seperti ATM.

“Kami juga sudah menggunakan TI, dan jika mau bisa seperti Singapura. Tetapi budaya masyarakat kita terbukti lebih nyaman dengan kehadiran petugas. Anggota merasa kurang sreg kalau tidak ada petugas,” katanya. Foto: 1 Kompas/Dody Wisnu Pribadi Jemianto Image: 1 HM Jemianto * Lahir: Surabaya, 6 Desember 1957 * Pendidikan: – S-1 Fakultas Hukum Universitas Brawijaya – S-1 Ekonomi STIEKMA -S-2 Administrasi Negara * Pekerjaan: Kepala Kantor Perpustakaan Umum dan Arsip (2004), Pelaksana Tugas Direktur Utama PDAM (2009)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s