Lulusan PT Belum Siap Pakai

Rabu, 16 Desember 2009 | 12:13 WIB

Bandung, Kompas – Mayoritas angkatan kerja dari perguruan tinggi (PT) khususnya yang baru lulus dinilai belum siap kerja. Ini karena terlalu dominannya kultur akademis ketimbang pembentukan kemampuan interpersonal di kampus.

Demikian kesimpulan hasil wawancara terhadap sejumlah lembaga pengembangan karier dan perusahaan yang mengikuti bursa kerja yang diadakan Ikatan Keluarga Alumni Unpad Komisariat Daerah Bandung, Selasa (15/12) di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur, Bandung.

“Lulusan PT, harus diakui secara umum, tidak siap kerja, terutama jika dilihat dari aspek soft skill-nya,” tutur Barli Suryanta, Associate Partner di Career and Skill Development Center Unpad. Salah satu tujuan lembaga bentukan IKA Unpad Komisariat Daerah Bandung ini adalah mengurangi kesenjangan lulusan Unpad dengan kebutuhan industri.

Menurut Barli, berdasarkan pengalaman, penyedia lapangan kerja atau industri pada umumnya lebih membutuhkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis-akademis memadai (hard skill), tetapi juga aspek soft skill yang baik. Salah satunya, kemampuan interpersonal.

“Hard skill bisa disiapkan, yaitu diperoleh lewat kuliah. Namun, soft skill diperoleh lewat learning by doing. Kemampuan soft skill lebih menentukan dalam kompetisi kerja. Sebab, domain dunia kerja pada prinsipnya berinteraksi dengan banyak orang,” ujar Barli. Bukan jaminan

David Budiono, Kepala Divisi Manajemen SDM PT Astra International Tbk, membenarkan, kemampuan akademis tinggi, di antaranya ditentukan dari indeks prestasi kumulatif tinggi, tidak menjamin seseorang diterima kerja. Apalagi, menentukan kesuksesan karier.

“Untuk posisi tertentu, seperti teknisi, hard skill lebih diutamakan. Namun, untuk yang di luar itu, faktor individu lebih menentukan. Interpersonal skill, misalnya, sangat menentukan untuk karier. Semakin tinggi jabatan, semakin tidak perlu hard skill, lebih penting soft skill,” ujarnya.

Faktor soft skill ini di antaranya berupa kemampuan berkomunikasi dan memecahkan persoalan, jiwa kepemimpinan, semangat kerja tinggi, kepercayaan diri, dan kemauan bekerja sama. Intinya, kemampuan yang bersumber dari diri pribadi.

Menurut David, lulusan PT, termasuk yang bekerja di lembaganya, umumnya tidak siap pakai. Mereka harus diasah dahulu melalui berbagai kegiatan pelatihan dan pendidikan di perusahaan. “Soalnya, di kampus, academic thinking yang ditekankan. Adapun ketika masuk dunia kerja, orientasi harus diubah ke bisnis praktis,” katanya.

Suatu ketika David pernah menemukan seorang lulusan akuntansi dari sebuah perguruan tinggi yang tidak bisa mengoperasikan program standar akuntasi pemerintahan. Ia menduga itu terjadi karena dia tidak pernah dilatih di laboratorium akuntansi kampus. Dipadati pengunjung

Acara Job & Scholarship Expo yang diadakan hingga Kamis (17/12) dipadati pencari kerja. Tercatat, dalam sehari setidaknya ada 3.000 pengunjung. Panitia terpaksa menetapkan sistem buka-tutup untuk mencegah sesaknya ruang.

Job & Scholarship Expo diikuti 24 perusahaan, di antaranya Bank Mandiri, BRI, Trans7, Astra International, HM Sampoerna, Kompas Gramedia, dan PLN. Beberapa perusahaan, misalnya Bank Mandiri dan BRI, bahkan mengadakan seleksi langsung di lokasi. (jon)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s