Mengajari HAM sejak Usia Sekolah

Sabtu, 12 Desember 2009 | 03:30 WIB

Wajah Sarah, siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 32 Jakarta, dan beberapa rekannya tampak tidak terlalu antusias. Sesekali dia berbincang dengan beberapa rekannya satu sekolah yang duduk di sebelahnya.

Bersama sembilan temannya dan juga 70 siswa dari tujuh sekolah menengah atas negeri (SMAN) dan sekolah menengah kejuruan negeri se-Jakarta lainnya, Sarah hadir dalam acara peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia, Kamis (10/12).

Acara digelar di halaman parkir Gedung Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Jakarta, yang diisi berbagai kegiatan, seperti panggung seni dan musik, orasi dan testimoni, serta sejumlah kegiatan lain seperti aksi donor darah dan sarasehan pengenalan dasar-dasar HAM dan perkembangannya di Indonesia.

Acara terakhir itulah yang tengah diikuti Sarah dan para siswa lainnya. Acara tersebut merupakan kerja sama antara Dinas Pendidikan, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (keduanya dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta) dan Komnas HAM. Kegiatan serupa sudah mulai digelar sejak tahun lalu.

Selain itu, materi HAM sebetulnya juga diajarkan di sekolah. ”Ada sih, diajarin soal HAM di kelas 10. Tapi, ya, enggak banyak. Mata pelajarannya masuk pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn),” tutur Sarah. Oleh guru, siswa diajarkan beberapa jenis hak, seperti hak warga negara, hak untuk merdeka, hak untuk hidup, dan hak untuk bebas berpendapat.

Sarah sepertinya masih ragu-ragu saat diminta menjelaskan lebih lanjut dan mencontohkan apa yang menurut dia masuk dalam kategori isu-isu HAM atau pelanggaran HAM. Keraguan serupa ditunjukkan Joko, rekannya satu sekolah.

Joko menyebutkan penganiayaan adalah contoh pelanggaran HAM, sedangkan Sarah menilai pelanggaran HAM adalah ketika sekolahnya melarang salah seorang temannya ikut ulangan umum karena belum membayar uang sekolah. Kebetulan teman Sarah itu berasal dari keluarga kurang mampu.

”Tapi, kalau ulangan PKn, saya paling kecil. Dapat angka tujuh. Teman-teman lain juga begitu. Tidak terlalu susah, kan tinggal dihafalkan saja,” ujar Sarah yang juga diamini Joko.

Boleh jadi anak-anak itu masih belum terlalu antusias dan memahami isu-isu HAM. Namun, mereka banyak belajar dari berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka, terutama dari pemberitaan di media massa, khususnya stasiun televisi.

Dalam pementasan drama satu babak, yang dipersembahkan murid-murid SMA Dian Harapan, diperlihatkan kepedulian dan kepekaan mereka. Drama itu mengangkat tema diskriminasi warga etnis Tionghoa yang menjadi korban saat bencana gempa bumi melanda Sumatera Barat beberapa waktu lalu.

Isu diskriminasi

Drama itu menggugat hilangnya filosofi bangsa, Bhinneka Tunggal Ika, ketika gempa terjadi di sana dan sejumlah warga beretnis Tionghoa, menurut mereka, didiskriminasi dan tidak mendapat bantuan serta pertolongan yang layak.

Isu tersebut memang terbilang lumayan menarik perhatian mereka, sampai-sampai dijadikan tema sentral drama.

Antusiasme juga tampak dari sejumlah pertanyaan yang dilontarkan para siswa seusai mengikuti sesi pemaparan dasar-dasar HAM oleh Wakil Ketua Bidang Eksternal Komnas HAM Hesti Armiwulan. Beberapa pertanyaan bahkan mengejutkan dan siswa menunjukkan kepedulian yang lumayan baik.

Beberapa pertanyaan yang terlontar, seperti soal hak-hak yang harus diterima para korban jugun ianfu (perbudakan seksual oleh militer Jepang di masa Perang Dunia II), pungutan liar di sekolah, kasus anak yang dijual oleh orangtua kandung mereka, malapraktik di rumah sakit, kemiskinan dan pengangguran, serta bahkan soal hukuman mati.

Dalam paparan, pemateri juga mengingatkan bahwa para siswa bisa terus mendalami, memahami, dan bahkan menerapkan apa yang telah dipelajari pada kesempatan itu dalam praktik keseharian mereka. Merekalah yang nantinya bakal menjadi penerus bangsa pada masa mendatang.

Kepada Kompas, Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim membenarkan, pihaknya terus mengupayakan seluas mungkin langkah pengajaran dan pemberian pemahaman tentang isu-isu HAM sedini mungkin ke sekolah-sekolah.

Hingga saat ini pihaknya, menurut Ifdhal, telah melakukan langkah sosialisasi ke sejumlah sekolah, walau diakui masih sebatas di kota-kota besar. Di juga akan mengupayakan pemerintah memasukkan materi pengajaran HAM ke dalam kurikulum sekolah, bahkan sejak taman kanak-kanak hingga tingkat SMA.

Lebih lanjut dalam acara paparan, para siswa yang hadir diberikan pengertian agar kelak menjadi orang-orang yang paham dan sadar isu HAM serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, ketika mereka kemudian berprofesi atau bekerja sebagai profesi yang berbeda-beda.

Sederhananya, jika mereka menjadi aparat pemerintah, jadilah aparat yang paham dan selalu berupaya untuk tidak melanggar HAM.

Begitu juga ketika, misalnya, mereka menjadi aparat penegak hukum, tentara, dokter, atau bahkan pengusaha. Intinya, hormatilah dan jangan pernah melanggar HAM orang lain.

(Wisnu Dewabrata)

Iklan

One thought on “Mengajari HAM sejak Usia Sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s