Menggugat Ujian Nasional

Jumat, 11 Desember 2009 | 14:47 WIB

Oleh Vivit Nur Arista Putra

Pascapenolakan kasasi dari Mahkamah Agung atas perkara ujian nasional yang diajukan pemerintah semakin memojokkan posisi Depdiknas. Ini semakin membuktikan ujian nasional (UN) memang cacat secara hukum, kendati MA tidak secara eksplisit melarang UN. Namun, UN yang dijadikan sebagai penentu kelulusan serasa tidak adil karena merenggut hak pendidik sebagai evaluator untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan dan mengabaikan unsur penilaian berupa proses.

Dengan demikian, hasil UN tidak dapat dijadikan indeks atau ukuran prestasi setiap pemerintahan daerah karena ketimpangan fasilitas dan pengajar antardaerah provinsi.

Pemerintah telah membuat PP No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang merupakan kriteria minimal sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adapun lingkup standar nasional pendidikan meliputi: standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan. Logikanya kedelapan standar awal haruslah dipenuhi lebih dulu sebelum beranjak pada penjatuhan standar penentuan penilaian (UN).

Pemerintah seakan tergesa-gesa memutuskan kebijakan UN. Momentumnya tidak tepat. Rasionalisasinya, ujian tersebut tidak mungkin dilaksanakan jika delapan lingkup standar pendidikan nasional belum dipenuhi. Seharusnya BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) selaku badan mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan menganulir kebijakan UN dari Depdiknas.

Jika dilacak, kesesatan UN sebagai penentu kelulusan dapat penulis urai satu per satu. Pertama, ujian hanya menguji kognitif peserta didik karena mata pelajaran yang diujikan berisi pilihan ganda dan esai yang membuat siswa cenderung menghafal fakta-fakta dan berpikir satu arah. Kedua, segelintirnya mata pelajaran UN sebagai penentu kelulusan yang diujikan berdampak pada fokus belajar siswa tertuju mapel tersebut dan mengabaikan pelajaran lain. Ketiga, menurut Anita Lie, guru besar Unika Widya Mandala Surabaya, UN berdampak pada kerusakan sistem. Proses belajar-mengajar di kelas berubah menjadi bimbingan belajar yang akan menghasilkan lulusan instan dan mengacuhkan proses. Keempat, muncul sindrom problem sosial.

Bagi satuan pendidikan, karena UN berkaitan dengan prestise sekolah, pendidik akan melakuan kiat apa pun agar anak didiknya lulus. Begitupun peserta didik, adanya stigma “bodoh” dari masyarakat bagi siswa yang tak lulus UN berefek pada tekanan psikologis. Potensi inilah yang dapat membuat peserta didik dan pendidik kongkalikong untuk berbuat curang.

Amat miris memang. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang pendewasaan dan pematangan berpikir mitra didik malah menggiring siswa berpikir pragmatis; pokoknya lulus. Pendidikan haruslah mendekatkan siswa pada realitas sosial agar ia peka, menerka, dan menganalisis masalah yang ditemuinya. Jika UN dilaksanakan, bobot soal ujian haruslah disesuaikan daerah masing-masing dan jangan dijadikan penentu kelulusan, tetapi untuk mengukur kualitas pendidikan di setiap daerah.

Evaluasi pendidikan menurut PP No 19/2005 bermakna “kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan” haruslah dikembalikan pada satuan pendidikan dan pendidik setempat sebagai konsekuensi logis penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memberi otonomi pada sekolah.

Vivit Nur Arista Putra Mahasiswa Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s