Sekali Lima Tahun Pelajar ke Museum

Sabtu, 5 Desember 2009 | 11:30 WIB

Yogyakarta, Kompas – Pelajar belum banyak mengenal museum. Dari 38 museum di Yogyakarta, hanya tiga museum di antaranya yang dikenal. Karena ketidaktahuan ini, museum tidak dijadikan alternatif kunjungan atau wisata. Rata-rata pelajar ke museum lima tahun sekali.

Pelajar kelas X SMA Negeri 1 Yogyakarta, Yunisa Zahrah (15), mengaku baru tahu ada Museum Anak Kolong Tangga setelah mendapat tugas berkunjung ke museum mainan anak tradisional itu dari guru sejarah di sekolahnya. Padahal, museum yang terletak di lantai dua Taman Budaya Yogyakarta tersebut sudah berdiri sejak 2007.

“Saya sama sekali belum pernah mendengar kalau ada museum mainan anak-anak tradisional di sini,” kata Yunisa, dengan antusias di Museum Anak Kolong Tangga, Jumat (4/12).

Para pelajar mengetahui beberapa museum di Yogyakarta dari pemberitaan media massa. Di antara 38 museum yang ada, museum yang umum dikenal pelajar adalah Museum Sonobudoyo, Museum Affandi, Museum Benteng Vredeburg, dan Museum Ullen Sentalu. Museum yang tergolong langka di Indonesia dan ada di Yogyakarta, antara lain, Museum Anak Kolong Tangga, Museum Keraton Yogyakarta, dan Museum Wayang Kekayon.

Minimnya pengetahuan para pelajar disebabkan karena kurangnya publikasi. Para pelajar mengaku sangat jarang memperoleh bahan referensi tentang museum. Mereka juga menilai papan nama museum sering kali tidak jelas sehingga kurang menarik minat untuk mengunjunginya.

“Papan nama museum kalau tidak kecil, kurang jelas tulisannya, atau sudah usang. Beda dengan papan nama pusat perbelanjaan yang terang, besar, dan mengundang,” tutur Amanda Putri (17), pelajar XI IPA 4 SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Pengembangan

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Djoko Dwiyanto mengakui, minimnya publikasi dan promosi masih menjadi salah satu kendala pengembangan museum. Sebagian besar museum hanya membuat brosur untuk diberikan kepada pengunjung museum. Akan tetapi, upaya menyebarkannya ke sekolah maupun ke tempat umum masih sangat minim.

“Budaya menulis juga belum timbul di kalangan pegawai museum. Padahal, budaya menulis sangat vital untuk sosialisasi museum ke masyarakat luas,” tuturnya.

Menurut Djoko, sejak 10 tahun terakhir sasaran sosialisasi museum bergeser dari pelajar ke masyarakat umum. Dihapusnya wajib kunjung museum yang pada masa sebelum reformasi diberlakukan bagi sekolah menjadi tanda atasnya. (IRE)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s