Dibuka, Kuota 50.000 PNS bagi Guru

Jumat, 4 Desember 2009 | 14:12 WIB

Bandung, Kompas – Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi calon guru dimulai pada September 2010. Di tahap awal ini, kuota yang tersedia hanya untuk 50.000 orang. Lulusan PPG ini nanti otomatis menjadi guru pegawai negeri sipil (PNS).

“Khusus PGSD (pendidikan guru sekolah dasar), lama PPG satu semester. Di luar PGSD, lama pendidikan dua semester. Siapa saja LPTK (lembaga pendidikan tenaga pendidikan) yang berhak menyelenggarakan PPG ditentukan kemudian lewat SK (surat keputusan). Yang pasti, LPTK itu terakreditasi,” tutur Direktur Profesi Pendidik Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas Achmad Dasuki, kemarin.

Ia menjelaskan, mahasiswa yang baru lulus, baik dari LPTK maupun tidak, bisa mengikuti PPG. Untuk ikut PPG, akan ada tes bakat skolastik terlebih dahulu. Setelah lulus dan selesai mengikuti PPG, calon guru wajib mengikuti tes potensi akademik (TPA) dan pengetahuan umum yang layaknya ada di tes CPNS.

“Jika lulus, yang bersangkutan berhak mendapat 80 persen gaji CPNS. Selama dua tahun dia wajib ikut induksi di sekolah. Jika hasil penilaian kepala sekolah baik dan dinyatakan lulus, ia langsung ikut prajabatan dan langsung mendapat gaji penuh ditambah satu kali tunjangan profesi,” katanya menjelaskan mekanisme pengangkatan CPNS dari PPG.

Dengan demikian, kata dia, guru yang lulus PPG bisa mendapat penghasilan bersih Rp 2,9 juta di dua tahun masa kerja. “Enak bukan? Zaman saya dulu, mulai jadi guru hanya digaji Rp 13.600,” katanya. Menurut dia, PPG merupakan bagian dari upaya mereformasi guru. Depdiknas mencanangkan reformasi guru ini berlaku 2010-2014.

Disederhanakan

Pemerintah menyederhanakan jenjang jabatan fungsional guru dari sebelumnya 13 tahap menjadi empat tahap saja. Untuk naik jenjang, akan ada tes evaluasi khusus. Keempat jabatan fungsional itu adalah guru pertama, muda, madya, dan utama.

Suwarma Al-Muchtar, guru besar Universitas Pendidikan Indonesia, mengatakan, kualitas pedagogis guru saat ini masih lemah. “Sekarang waktu guru tersita hanya untuk bahan pelajaran. Jadi, guru dan murid sama-sama menghafalkan materi pelajaran,” ujarnya. (jon)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s