Sekolah dan Siswa Menunggu Kepastian UN

Selasa, 1 Desember 2009 | 10:43 WIB

Bandung, Kompas – Kepala sekolah, guru, dan siswa menunggu kepastian jadi tidaknya pelaksanaan ujian nasional tahun 2010. Di tengah kebingungan ini, siswa dan sekolah diminta tetap melaksanakan persiapan UN seperti biasanya.

“Terus terang aja, kami pun bingung, UN mau diadakan atau tidak. Namun, kami tetap waspada saja, tetap belajar untuk persiapan (UN),” tutur Lily Nurfitria (17), siswa kelas XII SMAN 20 Kota Bandung, Senin (30/11).

Seperti diketahui, Mahkamah Agung telah mengeluarkan putusan yang menolak permohonan kasasi pemerintah terkait pelaksanaan UN. Pemerintah diwajibkan melakukan pemerataan kualitas sarana prasarana, guru, dan informasi terlebih dahulu sebelum menyelenggarakan UN.

Namun, atas putusan MA ini, pemerintah belum mengambil sikap tegas, apakah akan mematuhi aturan ini atau melakukan upaya hukum terakhir, yaitu peninjauan kembali (PK). Informasi terakhir menyebutkan, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh berancang-ancang mengajukan PK.

Dengan demikian, penyelenggaraan UN tahun 2010 simpang siur. “Dulu, isunya UN mau dimajukan sebulan menjadi bulan Maret. Kami sempat pontang-panting. Sekarang, menjadi tidak jelas menyusul putusan MA. Tidak adanya kepastian membuat kami bingung,” kata Agus Setia Muladi, guru Matematika di SMAN 5 Kota Bandung.

Persiapan

Di tengah ketidakpastian ini, sekolah pun berinisiatif tetap melakukan persiapan atau pemantapan UN seperti tahun-tahun sebelumnya. “Ada tidaknya UN nantinya, kami tetap belajar dan melakukan persiapan diri. Setidaknya, fokus dalam pemantapan persiapan masuk ke perguruan tinggi jikalau UN tidak jadi diadakan,” tutur Agus.

Ia berharap, kepastian jadi tidaknya UN dapat segera diperoleh sekolah. Sebab, waktu persiapan UN-jika jadi dilaksanakan-kian mepet. Menurut jadwal, UN dilakukan mulai Maret, atau dimajukan sebulan lebih cepat daripada tahun-tahun sebelumnya.

Hingga kini, sekolah dan dinas pendidikan di daerah juga belum menerima surat tertulis dari pemerintah pusat mengenai kepastian penyelenggaraan UN tahun 2010. “Terpaksa kami tunggu saja dulu surat tertulisnya. Pemerintah belum menentukan sikap resmi,” kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jabar Wahyudin Zarkasyi.

Meskipun UN belum pasti dilaksanakan, Wahyudin meminta sekolah, guru, dan siswa tetap mempersiapkan diri sebaik mungkin. Pemantapan atau pelajaran tambahan semestinya tetap diberikan kepada siswa calon peserta UN.

Berbeda dengan UN di tingkat SMP dan SMA, pelaksanaan UN di tingkat SD atau yang biasa disebut Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) tidak jadi soal. Sebab, kelulusan UASBN tidak ditentukan pemerintah.

Ketua Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia Jabar Dedi Indrayana mengatakan, sekolah, guru, dan peserta didik semestinya tidak boleh terjebak dengan persoalan pro dan kontra UN. Sebab, ia melihat, pada dasarnya UN sebagai alat evaluasi sangat dibutuhkan sekolah dan siswa.

“UN telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar. Tanpa ini, sulit kita mengukur kemampuan siswa. Dan, siswa tidak jadi terdorong untuk belajar lebih giat. Tinggal masalahnya, UN memang sebaiknya tidak menjadi alat penentu kelulusan,” ujar Kepala SMKN 8 Kota Bandung ini.

Di SMKN 8, jam pelajaran tambahan sebagai persiapan UN digelar sejak awal semester V (masuk kelas XII). Itu berbeda dengan sekolah lain yang melaksanakan pemantapan atau pelajaran tambahan di semester VI. (jon)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s