Harap-harap Cemas Menanti Hari Penentuan…

Selasa, 1 Desember 2009 | 10:42 WIB

Pukul 14.30 bel sekolah berbunyi. Nurul Dwi (17) bergegas keluar sekolah. Setelah lelah seharian belajar di sekolah, ia masih harus pergi ke tempat bimbingan belajar (bimbel) untuk mendapatkan les tambahan selama tiga jam.

Setidaknya tiga kali dalam seminggu siswi SMAN 20 Kota Bandung itu harus pontang-panting belajar. Selepas maghrib ia baru bisa di rumah. Itu pun tidak bisa begitu saja beristirahat. Terkadang, ia harus belajar lagi hingga malam untuk mengulang mata pelajaran di kelas I dan II.

Beban belajar ini bakal semakin berat di semester VI nanti dengan adanya pemantapan ujian nasional (UN). Bakal tidak ada waktu untuk pelesiran, berjalan-jalan bersama rekan sebaya. Akhir pekan digunakan pula untuk belajar tambahan.

Semua ini dilakukan Nurul semata-mata agar ia bisa sukses menghadapi UN 2010, terlepas UN jadi dilaksanakan atau tidak. “Ya, waspada, siap-siap saja kalau seandainya UN tetap jadi dilaksanakan,” ujar Lily Nurfitria (17), siswa lainnya.

Padahal, selain tenaga dan waktu yang tidak sedikit, ungkap Lily, persiapan UN menelan biaya tidak sedikit. Ia mencontohkan, untuk biaya bimbel saja, setidaknya dibutuhkan Rp 6 juta setahun!

Padahal, SPP bulanan di sekolahnya hanya Rp 150.000 per bulan. Artinya, biaya bimbel itu setara dengan biaya SPP selama 40 bulan, atau biaya hingga lulus sekolah selama tiga tahun! “Ya, soalnya, di bimbel kan ada pelajaran intensif. Lagian, itu termasuk murah, ada yang sampai Rp 12 juta,” kata Nurul menjelaskan alasan ikut bimbel.

Beban orangtua

Berbeda dengan keduanya, Siti Sya’adah (16), siswi kelas XII SMKN 20 Kota Bandung, menghadapi UN tanpa ikut les di bimbel. “Orangtua enggak ada biaya untuk les,” ujar siswi yang sengaja sekolah di kejuruan agar bisa segera bekerja dan menghilangkan beban orangtuanya.

Persiapan UN dilakukan ala kadarnya. Selain pemantapan di sekolah, ia hanya mengandalkan belajar secara swadaya. Meskipun persiapannya biasa-biasa saja, ia berharap dapat lulus UN. Sebab, jika gagal, itu artinya ia telah memberikan beban berat bagi orangtua.

“Bayangkan berapa banyak waktu yang terbuang, rupiah yang hilang jika sampai tidak lulus?” ujar Lukman Abdullah (41), orangtua Siti Sya’adah.

Menurut dia, secara prinsip, UN sangat bagus sebab dapat memacu siswa belajar lebih giat. Namun, hendaknya, itu tidak menentukan kelulusan siswa. Selain menghamburkan biaya, baik dana pemerintah maupun orangtua siswa, ketidaklulusan dapat menjatuhkan moral siswa.

“Kalau UN tidak jadi dilaksanakan, itu bakal sangat baik. Siswa tidak lagi berorientasi mengejar nilai. Bimbel pun pasti tidak laku,” kata Riana Yahmil (17), siswi SMAN 9 Kota Bandung, mengutarakan harapannya agar UN tidak jadi dilaksanakan, setidaknya tidak menentukan kelulusan siswa. (Yulvianus Harjono)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s