Mencontek Masih Dilakukan di ITB

Rabu, 25 November 2009 | 14:47 WIB

Bandung, Kompas – Kebiasaan mencontek ternyata masih sering dilakukan mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Hasil survei kecurangan akademik di ITB yang dipaparkan pada Selasa (24/11) menyebutkan, 58 persen

responden survei pernah berbuat curang di bangku SD, 78 persen di SMP, 80 persen di SMA, dan 37 persen setelah masuk ITB.

Anggota Komisi Pembelajaran, Eko Purnomo dan Hanson Kusuma, menyampaikan hasil survei itu. Survei yang dilakukan tahun 2009 itu meminta tanggapan 8.182 responden mahasiswa ITB dari semua jurusan. Sampelnya adalah mahasiswa angkatan 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, dan 2009.

Kecurangan akademik yang terekam, antara lain, mencontek, memplagiat hasil karya, dan menitipkan tanda tangan kehadiran. Dari sampel yang ada, Eko mengungkapkan, ada tiga hal penting yang bisa menggambarkan kecurangan akademik di ITB.

Selain soal kebiasaan mencontek, dua aspek lain adalah keyakinan mahasiswa bahwa temannya curang dan mahasiswa jurusan mana yang mengaku pernah curang. Survei menyebutkan, 85 persen responden yakin temannya pernah bertindak curang di bangku SD, 92 persen di SMP, 91 persen di SMA, dan 56 persen di ITB. Adapun soal jurusan yang mahasiswanya mengaku pernah berbuat curang tidak lain adalah Jurusan Kriya, Desain Komunikasi dan Visual; Seni Rupa; dan Teknik Pertambangan. Selain itu, dari survei itu dapat dilihat mahasiswa mana saja yang yakin terjadi kecurangan di jurusannya. Jurusan itu adalah Perencanaan Wilayah dan Kota, Teknik Material, dan Geofisika. “Lama masa studi juga memengaruhi kebiasaan curang. Mahasiswa tahun tua lebih banyak berbuat curang ketimbang tahun muda,” katanya. Eko mengatakan, tiga fakta tersebut membuktikan budaya curang masih terjadi, bahkan ketika seseorang sudah menyandang status mahasiswa ITB. Meski secara persentase perbuatan curang menurun dibandingkan ketika mereka berada di bangku SD-SMA, hal ini tetap memprihatinkan karena budaya curang masih dilakukan mahasiswa ITB. Menurunkan kualitas

Kecurangan akademik yang dilakukan mahasiswa, menurut Eko, berpotensi menurunkan kualitas masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan lingkungan sosial harus segera dilakukan selain penegakan hukum di universitas untuk dapat menyadarkan mahasiswa agar tidak lagi bertindak curang.

“Bila dibiarkan, masyarakat akan menerima akibat dari kebiasaan itu ketika mahasiswa mengamalkan ilmunya,” katanya. Ke depan, ia menginginkan hasil riset ini menjadi bahan koreksi dan disampaikan kepada Rektor ITB terpilih periode 2010-2014. Harapannya, ada tindakan preventif untuk mengiringi hukuman dan sanksi bagi yang telah ada.

Upaya preventif, menurut Direktur Pendidikan ITB Ichsan Setya Putra, penting dilakukan guna menekan laju kebiasaan mahasiswa berbuat curang. Caranya melalui kampanye sosial di ruang kelas tentang kejujuran, komik, pemasangan spanduk, serta stiker kejujuran. “Bila hanya melakukan tindakan hukuman, hal itu hanya akan memberi efek jera sementara. Pelaku bisa melakukan tindakan yang sama bila berada di luar kampus ITB,” kata Ichsan.

Pakar pendidikan Arief Budiman mengatakan, kejujuran belum menjadi kebutuhan penting masyarakat. Berbuat curang masih dianggap perbuatan yang menyenangkan. Ia khawatir kecurangan menjadi fenomena yang membahayakan orang lain yang sebenarnya menghindari perbuatan curang. (CHE)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s