Siswa Terasing dari Realitas

Senin, 9 November 2009 | 02:51 WIB

Jakarta, Kompas – Proses pembelajaran di sekolah yang terfokus pada pemenuhan target kurikulum dan hasil akademik membuat anak didik terasing dari masyarakat sekitarnya. Padahal proses pendidikan semestinya mengintegrasikan materi ajaran dengan persoalan nyata di masyarakat.

Dengan memahami persoalan nyata di masyarakat, anak didik diharapkan bisa membantu masyarakat dengan mengembangkan kewirausahaan sosial.

Demikian hal yang mengemuka dalam Konferensi Guru Nusantara 2009 ”Menggagas Respons Dunia Pendidikan terhadap Krisis Ekonomi dan Perubahan Iklim Global”, Minggu (8/11) di Kampus Universitas Binus, Jakarta.

Direktur ProVisi Education Romy Cahyadi menyarankan, akan lebih baik apabila pendidik mengintegrasikan isu-isu lingkungan alam, sosial, dan global yang terjadi saat ini ke dalam proses pembelajaran. Caranya adalah dengan mulai mengembangkan keterampilan berpikir dan belajar serta kemampuan memecahkan masalah.

”Perolehan hasil akademik di sekolah tetap penting, tetapi yang lebih penting adalah beri perhatian kepada cara berpikir kritis, memecahkan masalah, dan kreatif inovatif,” lanjut Romy.

Dalam sesi diskusi, para peserta (guru-guru dari berbagai daerah) mengkhawatirkan tidak akan mudah mempraktikkan saran-saran Romy itu. Pasalnya, ada beban target kurikulum yang berat yang harus dipenuhi guru dan anak didik. ”Tidak perlu susah-susah. Selipkan saja persoalan-persoalan konkret saat ini ke dalam mata pelajaran yang ada,” kata Romy.

Sensitif dengan lingkungan

Direktur Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan menambahkan, sebenarnya masyarakat di sekitar sekolah juga bisa dilibatkan. Yang terpenting, anak didik harus sensitif dengan berbagai persoalan di masyarakat.

Bambang, yang juga pendiri majalah Trubus itu, menduga persoalan masyarakat kerap luput dari perhatian karena fokus anak didik hanya pada buku-buku pelajaran.

Ekonom Faisal Basri juga mengingatkan, pemerintah harus mengubah pendekatan penyusunan kurikulum pendidikan dari yang selama ini input menjadi output. Artinya, jangan lagi membicarakan tujuan pendidikan dengan mengutamakan pembahasan anggaran, tetapi terlebih dahulu membayangkan, anak didik seperti apa yang ingin dihasilkan. ”Ke depan pendekatannya harus bergeser fokus pada peningkatan kemampuan baca, berhitung, sains, dan kemampuan memecahkan masalah. Ini dulu yang penting,” ujarnya. (LUK)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s