Pendidikan Inklusi Masih Banyak Kendala

Rabu, 4 November 2009 | 02:53 WIB

Jakarta, Kompas – Pelaksanaan pendidikan inklusi untuk anak berkebutuhan khusus masih menghadapi banyak kendala, baik dari sisi kebijakan maupun penerimaan masyarakat. Padahal, setiap individu berhak memperoleh pendidikan sesuai dengan kebutuhannya.

Demikian terungkap dalam lokakarya ”Pendidikan Inklusi Berkualitas bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Timor Leste” yang diselenggarakan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO, Selasa (3/11) di Jakarta.

Wakil Direktur Kantor UNESCO di Jakarta Robert Lee mengingatkan, tanpa adanya dukungan dari lingkungan positif bagi pendidikan inklusi, maka akan terjadi marjinalisasi di sekolah dan anak berkebutuhan khusus akan tersingkir dari sekolah.

Dalam paparan laporan situasi pendidikan inklusi di Indonesia dan Malaysia dikeluhkan banyaknya orangtua yang enggan mengirim anak yang berkebutuhan khusus ke sekolah biasa karena khawatir akan mendapat penolakan atau diskriminasi. ”Sebaliknya, orangtua anak normal juga tidak mau anaknya satu kelas dengan anak berkebutuhan khusus karena takut proses belajar anaknya terganggu,” kata Lee.

Raymond Gai Panting dari Divisi Pendidikan Khusus Departemen Pendidikan Malaysia juga mengakui minimnya pemahaman guru dan sekolah terhadap anak berkebutuhan khusus. Penerimaan terhadap anak berkebutuhan khusus bisa terbantu dengan kurikulum yang berpihak pada mereka. ”Kurikulum seharusnya tidak hanya menitikberatkan hasil akademis, namun lebih mempersiapkan anak agar percaya diri,” ujarnya.

Kurikulum inklusi

Dalam lokakarya juga disebutkan banyak negara mendorong kebutuhan pendidikan dasar tanpa memerhatikan isu pendidikan anak berkebutuhan khusus. Kurikulum yang tersusun pun kaku dan kurang tanggap terhadap kebutuhan anak yang berbeda.

Namun, Renato Opertti, Spesialis Program Biro Internasional Pendidikan di UNESCO, mengingatkan pendidikan inklusi tidak kemudian mensyaratkan kurikulum yang terpisah karena itu justru akan menciptakan segregasi.

”Kurikulum pendidikan inklusi harus masuk dalam kurikulum arus utama. Yang penting mengubah cara berpikir para pembuat kebijakan, pendidik, dan masyarakat,” ujarnya. (LUK)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s