Lilin-lilin Melawan Angin

Jumat, 23 Oktober 2009 | 05:30 WIB

Kompas, Guratan kecewa melanda muka/Hari berlagak tanpa decak/ Detak menelikung di lorongmu/Adakah kabar membakar ilalang kering sekeliling/Sementara aku terjaga, api tak juga mati.

Itulah petikan puisi karya drh Slamet Riyadi Sabrawi (56) yang ditulis di Wates, Kulon Progo, tahun 1996, berjudul ”Api”, sebagai bagian dari 55 judul puisi lain yang termuat dalam buku Lilin-lilin Melawan Angin, terbitan tahun 2009.

Slamet Riyadi, Asisten Direktur LP3Y, 30 tahun lalu ikut berpacu di dalam Persada Studi Klub bimbingan penyair Umbu Landu Paranggi di mingguan Pelopor Yogya, Yogyakarta, bersama (calon) penyair semisal Emha Ainun Nadjib dan Linus Suryadi AG (almarhum).

”Kalau sekarang saya munculkan, ya, sekadar mengingatkan bahwa tua-tua keladi, makin tua makin menjadi,” tutur Slamet menilai diri sendiri, Rabu (21/10) malam. Ini merupakan buku kumpulan puisi kedua Slamet. Adapun buku pertama tidak terdokumentasi.

Menandai terbitnya Lilin-lilin Melawan Angin, sebuah acara sudah dirancang di Yogyakarta, yaitu pertemuan penyair lintas generasi di Taman Budaya Yogyakarta, Jalan Sri Wedani 1, Yogyakarta, Minggu (25/10), seusai pembahasan buku kumpulan puisi itu. Karya Slamet akan dibahas Prof DR Suminto A Sayuti, guru besar Universitas Negeri Yogyakarta, sekaligus mewakili penyair senior. Evi Idawati, wakil penyair muda, akan memimpin diskusi.

Penyair senior Yogyakarta sudah menyatakan hadir sekaligus bersedia membaca beberapa judul puisi di Lilin-lilin Melawan Angin. Mereka antara lain Landung Simatupang, Iman Budi Santoso, Sutirman Eka Ardana, Mustofa W Hasyim, dan Helda Korda.

Buku setebal 57 halaman itu diberi pengantar budayawan Ashadi Siregar dan catatan wartawan senior Saur Hutabarat. ”Saya sengaja meminta keduanya yang notabene bukan penyair, tetapi mengetahui proses kreatif saya,” tutur Slamet. Di sampul belakang buku ditemukan catatan aktor Butet Kartaredjasa dan budayawan Solo, Halim HD.

Ashadi Siregar berkata, Slamet Riyadi adalah satu generasi di antara anak-anak muda tahun 70-an di mana secara personal berbeda dengan Emha Ainun Najib yang ekspresif atau Linus Suryadi AG yang pendiam dan biasa menggerutu. Keduanya termasuk anak didik Umbu Landu Paranggi yang menjadi penyair dengan kekhasan masing-masing. ”Sedangkan Slamet Riyadi mengikuti setiap proses dengan sabar dan kemudian mengejutkan teman-teman sekelompoknya saat puisinya nongol di Pelopor Yogya. ”Apakah karena dia tidak banyak cingcong sehingga mendapat perhatian khusus dari Umbu, sedang beberapa lainnya sering disergah karena cerewet, saya kurang tahu,” tambah Ashadi.

Baik Ashadi maupun Saur mengatakan, dengan terbitnya kumpulan puisi ini, sejarah sastra boleh mencatat telah bertambah lagi seorang penyair berlatar belakang dokter hewan. Dua lainnya, Asrul Sani dan Taufiq Ismail. (POM)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s