Kinerja Guru Pascasertifikasi Harus Diawasi

Jumat, 9 Oktober 2009 | 21:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik, kinerja guru yang sudah memperoleh sertifikasi dan tunjangan guru harus tetap diawasi. Pengawasan itu bisa berbentuk skema berkesinambungan dengan pemberian pelatihan kepada guru antara lain materi metode pengajaran, materi pengajaran, dan penelitian.

Rektor Universitas Indonesia Prof Dr Gumilar Rusliwa Somantri, Kamis (8/10), mengingatkan komitmen meningkatkan kualitas guru itu tidak bisa hanya mengandalkan tekad pribadi saja tetapi perlu ada dorongan dari sekolah dan pemerintah. “Sertifikasi itu tidak cukup hanya sekadar tes evaluasi tetapi tetap harus ada pelatihan rutin sehingga akan terlihat kekuatan dan kelemahan masing-masing,” ujarnya.

Untuk memperjelas rencana dan tujuan yang ingin dicapai, guru juga sebaiknya memiliki semacam “buku panduan” yang berfungsi seperti kontrak dan berisi hak, kewajiban, dan kode etik tenaga pendidik. “Setidaknya buku panduan itu akan bisa mengarahkan guru apa saja yang harus dilakukan untuk mengembangkan diri,” kata Gumilar.

Secara terpisah, Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia Unifah Rosyidi mengingatkan perlunya pengawasan kinerja guru karena peningkatan mutu dan profesionalisme guru tidak boleh berhenti pada program sertifikasi saja. Pengawasan itu bisa dilakukan oleh kepala sekolah dengan mendorong guru untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan di sekolah dan di musyawarah guru mata pelajaran (MGPMP). Selain itu kepala sekolah juga bisa memperketat rekomendasi kenaikan pangkat jika kinerja guru tidak maksimal.

Gumilar mengusulkan ada semacam pemberian penghargaan dan sanksi hukuman (reward and punishment) yang jelas terhadap guru. Secara bertahap guru diawasi oleh kepala sekolah dan kepala sekolah diawasi oleh pengawas sekolah. Senada dengan Gumilar, Unifah menegaskan pengawas harus bisa mendorong sekolah untuk memastikan layanan pendidikan yang bermutu terutama dari para guru. ”Selanjutnya, dinas pendidikan di daerah dan pemerintah pusat juga tetap membuat sistem penilaian, pembinaan, dan pelatihan yang berkisanambungan sesuai kebutuhan di sekolah itu dan daerah,” kata Unifah.

Penelitian

Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik, menurut Konsultan Senior Putera Sampoerna School of Education, S Gopinathan, adalah dengan menciptakan tradisi penelitian. Berbagai persoalan seputar pendidikan tidak kunjung jelas karena minimnya penelitian kependidikan. Selama ini sebagian besar tenaga pendidik hanya memusatkan perhatian pada peningkatan kemampuan mengajar saja.

“Padahal tenaga pendidik harus tahu masalah yang dihadapi anak didik. Untuk tahu itu tidak ada cara lain selain berdialog dengan anak didik. Jika ingin menghasilkan anak didik yang kritis dan inovatif, gurunya juga harus kritis dan inovatif,” kata Gopinathan.

Untuk menjamin kualitas guru, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menilai perlu ada kebijakan yang mendorong guru dan dosen untuk mengembangkan diri dengan melakukan penelitian. “Pelan-pelan dirumuskan sambil menunggu proses sertifikasi selesai. Sudah bagus banyak guru yang sudah S1. Sebelumnya banyak yang hanya diploma,” kata Bambang seusai meresmikan perluasan perpustakaan Depdiknas, Kamis lalu.

PGRI sendiri, kata Unifah, terus melakukan pembinaan dan pelatihan untuk para guru melalui program-program pengembangan diri dan mutu. Para guru juga dibekali untuk bisa melakukan penelitian, minimal penelitian tindakan kelas yang berguna untuk membantu guru meningkatkan pendekatan dan metode pembelajaran sesuai kebutuhan anak-anak di kelasnya. (ELN/LUK)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s