Open Source (antara keharusan dan dilema media pengajaran)

Posted Min, 06/09/2009 – 19:04 by pakdidik

Walaupun terlambat akhirnya saya bergabung juga dengan peserta pesantren Sabily. Sebuah pertemuan para guru TIK dan non TIK serta penggiat dunia maya. Dalam kesempatan itu hadir Bapak Onno w Purbo sebagai salah satu penulis dan pelopor Open source memperkenalkan U Buntu Sabily sebagai produk nasional diharapkan mampu menjadi bukti bahwa cinta Indonesia adalah dengan menggunakan shoftwere nasional. Indonesia sebagai negara berkembang dengan julukan “miskin” ternyata memberikan pemasukan devisa bagi Amerika sebagai penguasa pertama dunia maya melalui productnya windows setiap bulanya.
Open source telah lama sebenarnya diperkenalkan kepada masyarakat tetapi sekali lagi ke-familiar-an windows kembali menjadi kendala. Sekilas peserta yang hadir hampir semua sepakat sudah saatnya kita menjadi negara “Miskin” yang bermartabat.
Bapak Oetomo selaku Kabid Dikmen dikpora kab. Kendal bahkan telah menyatakan  beliau baru saja bermigrasi ke Linux (Open Source Sabily) memang perlu waktu untuk memasyarakatkan program ini. Peserta lain bahkan juga sangat mengharapkan adanya gebrakan di kabupaten kendal sebagai kota yang berani melakukan migrasi dari windows ke Linux. Guru sebagai  orang pertama yang menularkan segala ilmunya kepada siswa diharapkan menyebarkan kepada puluhan bahkan ratusan siswa. Seandainya ini bisa dilakukan maka kota Kendal akan menjadi kota pertama yang mungkin menjadi icon open source.
Di tengah harapan tersebut ternyata masih muncul dilema, salah satu product windows yaitu powerpoint sebagai media utama presentasi selain flash justru baru saja diperkenalkan dan menjadi media pembelajaran. apalagi bagi mereka yang baru mengenal power point tentunya akan sangat bersemangat belajar.Apakah jadinya bila tiba-tiba dilakukan perubahan secara radikal. Memang sangat ironis apabila beberapa pihak telah melakukan open source tetapi penggunaan softwere windows masih memasyarakat juga.
Kiranya butuh waktu dan keberanian pemangku kebijakan untuk menerapkan hal ini. selain itu juga kelengkapan softwerenya sendiri diharapkan selengkap windows karena apabila tidak lebih baik dari windows bukan tidak mungkin masyarakat akan kembali migrasi ke windows.Mengapa saya mengatakan demikian, karena masyarakat telah dimanjakan dengan fasilitas windows. Kedua keberanian mengubah kurikulum pembelajaran TIK SMP ataupun SMA dari Windows ke Linux. Untuk sebuah perubahan memang perlu korban. Tetapi meminimalkan akibat yang muncul dari sebuah perubahan itu juga perlu dipikirkan.
Kiranya butuh pemikiran yang bijak dan waktu yang tepat guna melakukan open source secara “berjamaah” di Kabupaten Kendal ini. Lepas dari itu semua semoga apa yang telah ada dan yang akan ada dapat digunakan sebagai media pembelajarn yang dapat meningkatkan kualitas siswa.

catatan ringan seorang guru

dari temu blogger kab.Kendal
www.aakdidik-puisi.blogspot.com 2009

Iklan

2 thoughts on “Open Source (antara keharusan dan dilema media pengajaran)

  1. Pak iyan nekat baen ora usah ragu-ragu nganggo linux, langsung babat – instal bress… urusan lain belakangan… lumayan di kota kecil wangon sudah banyak sekolah yang dibuat nekat pake linux (ubuntu) total komputer sekitar 80an dengan jumlah siswa 1000an lebih, kan lumayah ben cepet pada kenal linux mbok…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s