Catatan kecil memperingati HUT Indonesia ke 64

Puisi ini dibacakan oleh penyairnya, Taufiq Ismail saat “Malam Puisi Merah Putih” di Tugu Proklamasi, Jakarta, Sabtu 15 agustus 2009. Acara dengan tema “Kepahlawanan & Cinta Tanah Air” itu dalam rangka menyambut HUT RI ke-64.

Sesudah Seratus Tahun Membentang, 1908-2008

Karya Taufiq Ismail

Berdiri kita di tebing yang menjulang
Samudera waktu bersama kita pandang
Adalah sejarah yang membayang
Seratus tahun telah terbentang
Peristiwa demi peristiwa pergi dan datang menggelombang

Dalam skala besar dunia berperang dua kali
Dalam ukuran sedang dunia berperang berpuluh kali
Dalam ukuran kecil konflik berlangsung tak terhitung kali
Kolonialisme memuncak dan kolonialisme berguguran
Bangsa-bangsa tertindas merebut bendera kebebasan
Kita pancangkan Merah Putih itu dan dia berkibaran

Tampakkah olehmu di bawah sana
Rimba tiang dengan bendera dua warna berkibaran
Tampakkah olehmu sebentang poster
Sebuah negara baru saja merdeka
Tampakkah olehmu orang-orang menakik getah pohonnya
Menguliti dahannya, menumbuk akarnya,
Meremas ekstrak cairannya
Mengendapi simpul-simpul syaraf nasion
Membuat harmoni dalam komposisi
Merumuskan formula sebuah bangsa
Bertahun-tahun, berpuluh tahun lamanya

Berpuluh tahun kita mencari bentuk demokrasi
Yang tepat formatnya bagi kita serta serasi
Tetapi masih juga bablas di sana-sini
Berpuluh tahun hukum kita tegakkan agar kukuh berdiri
Tegak dengan lurus berakar ke dalam bumi
Tetapi betapa rumitnya meneguhkan ini

Selesai satu krisis muncul dua krisis lagi
Bencana sedang menimpa timbul bencana kedua
Betapa berat merawat dua ratus juta mulut yang menganga
Sembuh satu penyakit manusia meruyak penyakit hewan lagi
Mereda dua buah ekses timbul tiga ekses menanti
Sesudah gempa, tsunami, banjir air dan banjir lumpur menjadi-jadi
Beban hutang 1600 trilyun rupiahnya
Terbungkuk bahu kita dibuatnya.

Di negeri ini antara halal dan haram tak jelas batasnya lagi
Seperti membedakan warna benang putih dan benang hitam
Di hutan kelam
Jam satu malam
Kepemilikan tidak dihargai
Undang-undang, peraturan, prosedur diinjak dengan kaki
Tata-cara, etika, basa-basi apalagi
Semua harta dan benda di antara bumi dan angkasa dihabisi
Hutan, tambang, bumi, minyak, air, pasir,
Bank, bisnis, birokrasi,
Dihabisi.

Teringat kita, sebuah bendungan besar terban satu dasawarsa yang silam
Suaranya gemuruh menderu-deru ke seluruh penjuru
Membawa perubahan politik kenegaraan, berbagai aspeknya
Tetapi bersama jebolnya bendungan itu, ikut terbawa pula
Hanyutnya nilai-nilai luhur luar biasa tinggi harganya
Nilai keimanan, kejujuran, rasa malu, kerja keras, tenggang rasa
Pengorbanan, tanggung-jawab, kebersamaan, optimisma
Keberanian merubah nasib, ketertiban, pengendalian diri,
Penghargaan pada nyawa manusia.

Perilaku kita sebagai bangsa mulai berubah
Sedikit-sedikit tersinggung, teracung kepalan dan marah-marah
Lalu merusak, membakar dan menumpahkan darah
Berteriak dengan kata-kata sumpah serapah
Hati meradang, suara serak, mata pun merah
Sungguh sirna citra bangsa yang ramah-tamah
Kebringasan menggantikan senyum yang habis sudah
Ucapan keji mengganti kosa kata yang lembut dan lemah

Dalam sebuah adegan luar biasa kebalauan
Sesudah usai sidang, tegaklah hakim, jaksa, panitera dan pesakitan
Kemudian ketika yang dirugikan minta keadilan
Orang akan dihadapkan pada bursa penawaran
Penawaran jual beli keputusan pengadilan
Melalui jaringan mafia, calo, perantara dan petugas orang dalam
Sehingga bisa diatur keras lunaknya palu yang diketukkan
Karena “h-a-k-i-m, hubungi aku kalau ingin menang” ) begitu diucapkan
Demikian dilisankan
Demikian dalam kenyataan
Demikian dipraktekkan
Demikian kuasanya, tak tersentuh, tandus akal sehat dan nurani
Tiada kontrol, eksklusif tanpa investigasi
Bebas dari pengawasan eksternal, semakin menjadi-jadi
Ratusan triliun bila dirupiahkan, bangsa selama ini rugi.

Saudaraku
Masih adakah kiranya harapan bagi kita, manusia Indonesia?
Masih adakah?
Dengan lirih ada yang berkata
Mudah-mudahan, barangkali masih ada

Karena di bawah mendung yang berat menggantung
Ada tampak kecil seberkas cahaya
Karena ada bahagian tak tampak dari wajah bangsa
Tak disebut di koran, sosoknya tak tampak di media massa
Yang tetap bekerja keras melakukan tugasnya
Petani-petani di desa yang mensubsidi nasi orang kota
Buruh yang bergaji rendah tapi tetap saja bekerja
Guru-guru yang mengajarkan ilmu dengan setia
Birokrat yang bersih tak sudi diperciki noda
Penegak hukum yang masih rapi nuraninya
Bersahaja semua hidupnya, dalam warna sederhana

Negeri kita disayangi Tuhan adalah karena mereka
Karena doa dari rakyat yang melarat tak tampak wajahnya
Doa orang sakit yang terbaring di permukiman sederhana
Ditolak di rumah sakit karena tak kuat membayarnya
Doa 6 juta anak Indonesia yang ingin bersekolah juga
Doa 15 juta penganggur yang merindukan lapangan kerja
Merindukan pagi Indonesia bermandikan cahaya
Ketika orang-orang berkemas pergi bekerja
Ada yang bertani bercocok tanam
Ada yang berdagang memutar ekonomi
Ada yang mengajar menyampaikan ilmu
Ada yang merawat birokrasi menyelenggarakan pemerintahan
Ada yang kukuh menegakkan hukum dan keadilan.

Saudaraku,
Masih adakah kiranya harapan bagi kita, manusia Indonesia?
Mudah-mudahan masih ada
Ya, memang masih ada
Selepas seratus tahun bilangan masa
Mari kita berhenti menyalah-nyalahkan siapa
Dalam buku harian kita
Mari kita coret kata putus-asa
Dalam kamus bahasa kita
Karena kita akan bangkit bersama
Dengan kerja keras diiringi khusyuknya doa
Dari atas sampai ke bawah
Kerja keras, kerja keras, kerja keras semua
Kemudian berdoa, berdoa, berdoa semua
Berpeluh dalam kerja, menangis dalam doa
Semoga Indonesia kita
Tetap disayangiNya
Selalu dilindungiNya.

2005, 2007, 2008

Iklan

One thought on “Catatan kecil memperingati HUT Indonesia ke 64

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s