Dari Rumah Sakit, Panti, hingga Tembok Penjara

Kompas, Selasa, 21 April 2009 | 02:42 WIB

Bulir-bulir keringat besar membasahi badan Pamuji Selfandri Yoga Sutrisna (18), seorang siswa SMA Negeri 1, Wringin Anom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Berkali-kali ia menyeka keringatnya. Ingki Rinaldi

Pamuji tidak sedang duduk mengerjakan soal ujian nasional (UN) di ruang kelas. Dia Senin (20/4) kemarin mengerjakan soal sambil duduk di tempat tidur rumah sakit.

Jalur pembuluh darah vena (peripheral venous cannulation) di tangan kirinya sedang dialiri cairan ringer laktat yang dipakai sebagai resusitasi elektrolit tubuh dari dalam botol plastik berkapasitas 500 cc.

Sudah sejak Jumat (17/4) malam Pamuji dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto karena serangan demam berdarah.

Ia menempati paviliun Nusa Indah kamar nomor 2. Sebuah kamar tanpa penyejuk udara yang membuat keringat Pamuji makin menjadi.

Pamuji, anak kedua dari tiga bersaudara itu, mengaku grogi dengan pengalaman pertamanya ujian di rumah sakit.

”Saya tidak bisa tidur. Baru bisa tidur pukul 03.00,” kata Pamuji saat istirahat setelah mengerjakan soal Bahasa Indonesia pada hari pertama UN itu.

Dari balik terali

Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, salah seorang penghuni Lembaga Pemasyarakatan Jombang pada hari yang sama juga menempuh UN. Adalah FJS, seorang pelajar SMK di Kabupaten Jombang, yang hari itu terpaksa menempuh UN di dalam ruang pembimbing yang persis berada di sebelah ruang Kepala LP Jombang Achmad Hidayat. Ia didampingi tiga pengawas dan seorang polisi.

Sekitar dua jam FJS mengerjakan soal-soal Bahasa Indonesia untuk pelajar SMK sebelum para pengawasnya minta diri. Hari itu memang hanya satu mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia, yang diujikan untuk para pelajar SMK.

FJS adalah penghuni LP yang akan bebas pada 20 Mei 2009. Ia jadi penghuni LP Jombang karena melanggar Pasal 359 KUHP yang terkait soal kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.

”Hukumannya empat bulan,” kata Kepala LP Jombang Achmad Hidayat soal keterlibatan FJS dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas itu. Ia tidak mengizinkan FJS diwawancarai karena alasan FJS harus berkonsentrasi menghadapi UN pada hari selanjutnya. Ia juga khawatir kemungkinan anjloknya kondisi mental FJS karena UN harus ditempuhnya sendirian.

Semangat tunanetra

Di tempat terpisah, Abdul Rahman (22) gelisah mendengar suara Muhammad Yunus (43) membacakan soal UN Bahasa Indonesia. Karena panjangnya tiap pilihan jawaban, Yunus harus menarik napas untuk tiap pilihan jawaban yang dibacakannya kepada Rahman yang sejak SD tunanetra itu.

”Pilihan jawaban A, huruf besarnya ada pada semua awal kata. Yang B, huruf besarnya pada kata…,” kata Yunus membacakan pilihan jawaban yang panjang dan bertele-tele.

Rahman termangu sejenak. Siswa kelas III IPS SMA Muhammadiyah 3 Makassar, Sulawesi Selatan, itu geleng-geleng kepala. Tatapan matanya tertuju pada lembaran soal di tangan Yunus, tetapi tak sepotong huruf pun terbaca olehnya.

Secara medis, organ mata kanannya hanya berfungsi 50 persen, sementara organ mata kirinya hanya berfungsi 20 persen. Mustahil baginya bisa melihat pilihan jawaban itu.

”Tolong dibacakan lagi pilihan jawabannya,” ujar Rahman lirih.

Dengan pelan, Yunus membacakan lagi pilihan jawaban soal itu. Ia pun menjelaskan perbedaan mencolok setiap pilihan jawaban sehingga memudahkan Rahman memahami perbedaan dari lima pilihan jawaban yang bunyi kalimatnya sama persis itu.

Akhirnya Rahman menemukan jawabannya dan Yunus menandai pilihan jawaban Yunus di lembaran soal itu.

Dari 50 soal ujian itu, sedikitnya ada tujuh soal yang harus dibacakan ulang karena pertanyaannya berkisar pada penggunaan tanda baca, huruf kapital, dan struktur kalimat dalam paragraf yang panjang.

”Ada soal yang menyulitkan bagi tunanetra seperti saya karena saya tidak bisa melihat pilihan jawabannya. Tapi, saya tetap ingin ikut UN. Saya ingin membuktikan bahwa siswa tunanetra seperti saya juga mampu,” ujarnya penuh semangat.

Di Bandung, Hani Munawaroh (19), peserta UN yang tunanetra, bersama 11 rekannya dari SLB A Negeri Bandung, yang mayoritas berasal dari Panti Sosial Bina Netra Wyata Guna, Bandung, juga ikut UN. Huruf braille yang digunakan dalam soal tidak menjadi halangan untuk mengerjakan soal dengan baik. Ia ingin mendapat nilai tinggi seperti peserta UN lainnya yang normal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s